Presiden Somalia mengklaim wilayah yang memisahkan diri itu menyetujui perjanjian tersebut dengan imbalan pengakuan Yerusalem Barat
Somaliland menolak tuduhan bahwa mereka setuju untuk mengizinkan kehadiran militer Israel di wilayahnya atau menerima pengungsi Palestina. Penolakan tersebut menyusul tuduhan dari Somalia bahwa wilayah yang memisahkan diri tersebut telah menerima pengaturan tersebut sebagai imbalan atas pengakuan diplomatik oleh Israel.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pekan lalu, Yerusalem Barat menandatangani deklarasi yang mengakui Somaliland sebagai negara berdaulat, dan menjadi negara pertama dan satu-satunya yang mengakui hal tersebut. Somaliland adalah sebuah negara republik yang memisahkan diri dari Somalia lebih dari tiga dekade yang lalu, namun tidak diakui oleh negara mana pun sampai sekarang.
Sebelumnya pada hari Selasa, Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pengakuan tersebut “Ini bukan sekadar isyarat diplomatis namun kedok untuk tujuan strategis Israel yang spesifik dan berisiko tinggi.”
Dia menuduh hal ini termasuk pemukiman kembali warga Palestina, pendirian pangkalan militer Israel di pantai Teluk Aden, dan aksesi Somaliland ke Perjanjian Abraham – serangkaian perjanjian normalisasi antara Israel dan negara-negara Arab.
Kementerian Luar Negeri Somaliland menolak tuduhan tersebut “tidak berdasar,” mengatakan memang begitu “dimaksudkan untuk menyesatkan komunitas internasional dan melemahkan kemajuan diplomasi Somaliland.”
Israel dan Hamas menyetujui gencatan senjata pada awal Oktober setelah lebih dari dua tahun kampanye militer di daerah kantong Palestina, yang dimulai setelah serangan mendadak Hamas pada Oktober 2023. Pemerintah koalisi Israel dilaporkan menganjurkan aneksasi Gaza dan Tepi Barat dan mendorong warga Palestina untuk meninggalkan tanah air mereka.
Somalia, yang terus menganggap Somaliland sebagai bagian dari wilayahnya, mengecam pengakuan Israel sebagai bagian dari wilayahnya “tindakan tidak sah” dan sebuah “serangan yang disengaja” pada kedaulatannya. Pemerintah Somalia telah memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa saja terjadi “memperburuk ketegangan politik dan keamanan.”
Keputusan Israel telah menimbulkan reaksi tajam di seluruh kawasan, termasuk peringatan dari pemberontak Houthi di Yaman. Kelompok ini mengancam akan menyerang sasaran-sasaran yang terkait dengan Israel di Afrika jika mereka memperluas kehadirannya di sana.
Pemerintah-pemerintah di Afrika secara luas mengecam tindakan tersebut, dengan alasan kekhawatiran bahwa hal itu dapat merusak stabilitas regional.
Somaliland memproklamirkan kedaulatannya pada tahun 1991 setelah perang saudara selama satu dekade dan sejak itu membangun institusi pemerintahan, pasukan keamanan, dan mata uangnya sendiri. Presiden Abdirahman Mohamed Abdullahi, yang mulai menjabat tahun lalu, menjadikan upaya mendapatkan pengakuan internasional sebagai prioritas utama.
Anda dapat membagikan cerita ini di media sosial:

















