Jayapura, RakyatPos.id – Vien, perempuan paruh baya asal Wewak, Provinsi Sepik Timur, Papua Nugini (PNG) datang berjualan di Pasar Wutong, perbatasan PNG dan Provinsi Papua, Republik Indonesia (RI) karena menikah dengan pria asal Kampung Wutong, Provinsi Sepik Barat atau Provinsi Sandaun.
Ia sudah tiga tahun tinggal di Kampung Wutong, tak jauh dari perbatasan Kampung Skouw di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua.
“Iya, saya sudah tiga tahun tinggal di Desa Wutong karena menikah di sini, saya berasal dari Wewak,” ujarnya kepada RakyatPos.id, di Pasar Wutong, kawasan perbatasan PNG, Sabtu (25/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dagangan yang ia jual di perbatasan berupa jajanan 'twisties' senilai Rp10.000 dan sepotong sosis domba Rp20.000. “Iya, hari ini lumayan banyak (pembelinya),” ucapnya dalam bahasa Indonesia, meski kurang fasih.
Menurut dia, untuk memasuki batas, rombongan dikawal petugas pembatas berseragam biru. Setiap warga negara yang hendak memasuki perbatasan PNG-RI harus melakukan registrasi di pos masuk, di ruang bea cukai imigrasi Indonesia, dan di pintu masuk perbatasan netral.
“Iya memang harus saya antar,” ucap petugas pembatas jalan, asal Kampung Ambai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, D Wanggai hingga RakyatPos.id di perbatasan.
Menurut dia, pada hari libur, warga asal PNG yang datang ke perbatasan bisa mencapai 1.000 orang per harinya. Untuk masuk dan memotret pemandangan di Desa Wutong, Provinsi Sepik Barat, PNG, pengunjung harus membayar sebesar Rp. 25.000 untuk ruang foto milik warga PNG.
“Banyak masyarakat Indonesia yang suka berfoto di lokasi tersebut karena pemandangannya indah. Hari pasar tersibuk adalah setiap hari Selasa dan Sabtu setelah mereka menerima gaji mingguan di PNG,” kata Wanggai.
Pantauan RakyatPos.id, warga PNG lebih banyak berbelanja di pasar perbatasan Wutong milik warga Indonesia, karena membutuhkan bahan pokok berupa beras dan sekotak mie instan.
Biasanya ojek dan gerobak dorong laris manis karena mengangkut barang dan penumpang warga PNG ke terminal PNG, untuk melanjutkan perjalanan ke Vanimo, ibu kota Provinsi Sepik Barat.
Salah satu warga Vanimo asal Desa Bewani, Thom, mengatakan, jalan darat dari Wewak menuju Aitape dan Vanimo sudah bagus sehingga warga Provinsi Sepik Timur, khususnya Wewak, datang berbelanja di Pasar Wutong yang berada di perbatasan.
“Cukup bayar 50 Kina dari Vanimo ke Wutong sekali jalan. Jadi kalau pulang pergi sekitar 100 Kina (1 Kina = Rp 4500),” kata Thom.
Menurutnya, warga di sana bekerja setiap minggunya untuk mendapatkan gaji, sehingga setelah mendapat gaji pada hari Sabtu, mereka berbelanja di Pasar Skouw. Kebanyakan warga PNG berbelanja dengan pecahan kina mulai dari 1,5,10, 50 dan 100 kina, warga berbelanja di Pasar Skouw pada hari Kamis dan Selasa.
Kepala Bea dan Cukai Jayapura Adeltus Lolok mengatakan kepada Kantor Berita Antara di Jayapura, berdasarkan data hingga April 2024, tercatat nilai ekspor yang dilakukan pengusaha melalui PLBN Skouw di Kota Jayapura sebesar Rp12,68 miliar hingga April 2024.
“Kami update Menteri Keuangan telah menetapkan dua kawasan pabean di Skouw yaitu PLBN Skouw dan Terminal Barang Internasional (TBI), sehingga potensi ekonomi baru sangat terbuka,” kata Adeltus Lolok.
Katanya, Skouw semakin didukung sebagai pusat perdagangan baru seiring dengan perkembangan perbatasan kedua negara.
Berdasarkan data Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua tahun 2018, setiap harinya terjadi omzet sebesar Rp3 miliar di Pasar Skouw yang kini menjadi destinasi favorit para pelintas batas asal Papua Nugini untuk berbelanja kebutuhan pokok.
















