Jayapura, RakyatPos.id – Bank Dunia mendesak Pemerintah Kepulauan Solomon untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan pendapatan melalui keuangan publik yang lebih kuat dan diversifikasi ekonomi.
Negara berpenduduk 860.000 jiwa ini memiliki peluang untuk mewujudkan pemulihan ekonominya menjadi lebih banyak lapangan kerja, pendapatan lebih tinggi, dan ketahanan lebih besar terhadap guncangan di masa depan.
Demikian dikutip RakyatPos.id dari laman www.tavulinews.com.sb yang memuat laporan pertama Bank Dunia di Honiara, Sabtu (22/8/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Laporan Bank Dunia yang bertajuk “Harnessing the Roots of New Growth” menyebutkan bahwa untuk mencapai hal tersebut diperlukan pengelolaan keuangan publik yang lebih kuat, investasi yang lebih besar pada sektor-sektor produktif seperti pertanian dan perikanan, serta sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar pertambangan.
Laporan Economic Update menemukan perekonomian Kepulauan Solomon telah pulih setelah mengalami kontraksi selama tiga tahun berturut-turut antara tahun 2020 hingga 2022.
Namun, pemulihan masih terbatas, sebagian besar disebabkan oleh sektor pertambangan, pengiriman uang dari luar negeri, dan belanja infrastruktur pemerintah.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa sumber-sumber pertumbuhan ini telah mengakibatkan terbatasnya lapangan kerja, memberikan manfaat yang tidak merata di seluruh masyarakat, dan menjadikan perekonomian rentan terhadap guncangan ekonomi di masa depan dan perubahan iklim.
Perwakilan Tetap Grup Bank Dunia untuk Kepulauan Solomon dan Vanuatu, Bernard Harborne, mengatakan negara ini berada pada titik balik yang penting.
“Kepulauan Solomon berada pada titik balik yang penting. Negara ini mendapat manfaat dari sumber pertumbuhan baru, khususnya pertambangan, namun kemakmuran jangka panjang akan bergantung pada seberapa efektif pendapatan dari sumber daya alam dikelola dan diinvestasikan,” katanya.
Ia mengatakan bahwa pendanaan publik yang lebih kuat dan peningkatan investasi di sektor-sektor produktif dapat membantu menciptakan lapangan kerja, mendukung bisnis lokal dan meningkatkan standar hidup.
Laporan Perkembangan Ekonomi memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,8 persen pada tahun 2026, terutama didorong oleh sektor pertambangan dan investasi publik.
Sektor pertambangan menyumbang lebih dari separuh ekspor Kepulauan Solomon pada tahun 2025, dibandingkan dengan hanya empat persen pada tahun 2019. Namun, laporan tersebut mencatat bahwa pertambangan memerlukan investasi besar dan hanya menciptakan sedikit lapangan kerja.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa tanpa tata kelola yang kuat dan reinvestasi pendapatan sumber daya yang cermat, manfaat pertambangan mungkin tidak akan tersebar luas ke seluruh perekonomian.
Laporan tersebut juga menyoroti perlunya menciptakan lebih banyak kesempatan kerja bagi populasi muda Kepulauan Solomon yang terus bertambah seiring dengan pendidikan dan keterampilan mereka.
Sekitar 9.000 pemuda Kepulauan Solomon memasuki dunia kerja setiap tahunnya, sementara hanya sekitar 2.100 lapangan kerja formal yang tercipta, sehingga menciptakan kesenjangan yang signifikan antara jumlah orang yang mencari pekerjaan dan peluang formal yang tersedia.
Bank Dunia menyatakan bahwa perluasan sektor seperti pertanian, perikanan, pariwisata, energi terbarukan dan bisnis swasta dapat membantu menutup kesenjangan ini.
Laporan Pembaruan Ekonomi juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap keuangan Pemerintah. Fiskal adalah hal-hal yang berkaitan dengan pajak dan pendapatan atau pengeluaran negara.
Cadangan kas saat ini hanya mampu menutupi pengeluaran pemerintah kurang dari sebulan, sementara utang publik akan mencapai 30 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2025.
Menurunnya dana hibah, kenaikan harga bahan bakar, dan guncangan terkait perubahan iklim semakin memberikan tekanan pada keuangan publik.
Dampak Topan Tropis Maila semakin menyoroti kebutuhan Kepulauan Solomon untuk membangun kembali cadangan keuangan dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi krisis di masa depan.
Laporan ini mengidentifikasi dua prioritas utama untuk Kepulauan Solomon.
Yang pertama adalah membangun kembali keuangan publik sehingga Pemerintah mempunyai sumber daya yang cukup untuk merespons guncangan ekonomi dan perubahan iklim.
Kedua, memperluas perekonomian untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan bagi penduduk Kepulauan Solomon.
Rekomendasi-rekomendasi utamanya mencakup penguatan tata kelola pertambangan dan pengumpulan pendapatan, penerapan reformasi pajak terencana, investasi di sektor-sektor produktif, dan perluasan akses terhadap pendanaan bagi dunia usaha.
Bank Dunia juga mengidentifikasi peluang-peluang besar di bidang pertanian, perikanan, pariwisata, energi terbarukan, dan pengembangan sektor swasta yang bernilai tinggi.
Dikatakan bahwa investasi di bidang infrastruktur, peningkatan akses terhadap pembiayaan dan lingkungan bisnis yang lebih dapat diprediksi dapat membantu membuka sektor-sektor ini dan menciptakan peluang kerja di seluruh negeri.
Menjelang peringatan 50 tahun kemerdekaan Kepulauan Solomon, Bank Dunia mengatakan negara ini memiliki peluang untuk membangun perekonomian yang lebih beragam, tangguh, dan kaya lapangan kerja.
Dengan reformasi dan investasi yang tepat, laporan tersebut menyatakan bahwa Kepulauan Solomon dapat mengubah sumber daya alam, populasi generasi muda, dan potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan menjadi peluang ekonomi yang lebih besar dan peningkatan standar hidup untuk generasi mendatang.



















