Ringkasan Berita:
- Trump juga mengancam negara-negara yang menjaga hubungan ekonomi dengan Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Ancaman ini berpotensi menempatkan Tiongkok pada posisi sulit. Negeri Tirai Bambu merupakan mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama ekspor minyak Iran.
RakyatPos.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana yang disebutnya sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan terhadap Teheran.
Iran mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk “terorisme ekonomi”, sementara Tiongkok memperingatkan Washington bahwa sanksi dan tekanan bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan ancaman Trump mencerminkan upaya mengalihkan perhatian dari masalah ekonomi yang dihadapi Amerika Serikat.
“Menggandakan kebijakan yang gagal hanya akan membawa kekalahan dan permusuhan lebih lanjut bagi Iran. Terorisme ekonomi AS mengancam perekonomian global dan kedaulatan dunia,” tulis Araghchi melalui akun X.
Baca juga: Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menuduh UEA terlibat langsung dalam menyerang Iran
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump pada hari Rabu mengumumkan rencana untuk apa yang disebutnya kampanye “perang ekonomi dan isolasi” terhadap Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump menulis di Truth Social bahwa Washington akan melakukan “OPERASI EKONOMI PALING MENGHANCURKAN YANG PERNAH DILAKUKAN TERHADAP NEGARA MANAPUN!” Namun, dia belum menjelaskan secara rinci bentuk langkah ekonomi yang akan dilakukan.
Trump juga mengancam negara-negara yang menjaga hubungan ekonomi dengan Iran.
Ancaman ini berpotensi menempatkan Tiongkok pada posisi sulit. Negeri Tirai Bambu merupakan mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama ekspor minyak Iran.
Beijing segera merespons ancaman tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan sanksi dan tekanan tidak akan membantu menyelesaikan masalah antara Washington dan Teheran. Tiongkok menyerukan agar perselisihan tersebut diselesaikan melalui jalur politik dan diplomatik.
“Sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah,” kata juru bicara tersebut.
Iran sendiri sudah lama mendapat tekanan dari berbagai sanksi internasional. Namun, Teheran telah mengembangkan berbagai mekanisme untuk menghindari pembatasan perdagangan dan keuangan yang diberlakukan oleh negara-negara Barat.
Namun sanksi ini terus memberikan tekanan besar pada perekonomian Iran. Inflasi yang tinggi telah mengikis daya beli masyarakat dan memperburuk kondisi kehidupan masyarakat.
Kini, ancaman Trump membuka babak baru tekanan ekonomi terhadap Iran. Jika Washington benar-benar menerapkan kebijakan tersebut, China sebagai mitra dagang utama Iran berpotensi terkena dampaknya.




















