Jika pecah perang Turki-Israel, militer siapa yang lebih unggul?

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatPos.id – Potensi perang antara Israel dan Türkiye meningkat menyusul serangan Israel terhadap pangkalan udara Abu al-Duhur di Suriah. Bagaimana perbandingan militer kedua negara? Bagaimana perimbangan kekuatan jika Pakta Mekah memicu dukungan militer Saudi dan Pakistan terhadap Türkiye?

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Türkiye sejauh ini memiliki kekuatan militer konvensional yang lebih besar dibandingkan Israel. Perbandingan tersebut tercermin pada data Global Firepower (GFP) tahun 2026 yang menempatkan Türkiye di posisi kesembilan dari 145 negara, sedangkan Israel di peringkat 15.

Pada indeks GFP, semakin kecil nilai Power Index maka semakin kuat posisi suatu negara. Türkiye mencatatkan skor 0,1975, sedangkan Israel 0,2707. GFP menekankan bahwa indeks tersebut merupakan gambaran teoritis kekuatan perang konvensional dan bukan prediksi hasil suatu konflik.

Perbedaan paling mencolok terletak pada jumlah personel dan basis demografi. Türkiye memiliki populasi sekitar 84,1 juta jiwa, jauh di atas populasi Israel yang berjumlah sekitar 9,4 juta jiwa. Dari segi personel aktif, Türkiye memiliki sekitar 481 ribu tentara, sedangkan Israel memiliki sekitar 169.500 personel. Israel memang memiliki pasukan cadangan yang lebih besar, sekitar 465 ribu orang, dibandingkan Türkiye yang berjumlah 380 ribu orang.

Oleh karena itu, dalam perang yang berlangsung lama dan membutuhkan mobilisasi besar-besaran, Türkiye memiliki basis sumber daya manusia yang jauh lebih besar. GFP memperkirakan jumlah penduduk Turki yang bersedia mengikuti wajib militer mencapai 42,98 juta jiwa, sementara penduduk Israel berjumlah sekitar 3,95 juta jiwa. Jumlah orang yang dianggap layak untuk wajib militer juga menunjukkan kesenjangan serupa, yaitu 36,09 juta di Türkiye versus 3,28 juta di Israel.

Keunggulan Türkiye dalam jumlah tidak serta merta menjadikannya unggul di semua lini. Salah satu sektor yang menjadi kekuatan utama Israel adalah angkatan udara. GFP mencatat Israel memiliki 597 pesawat militer, sedangkan Türkiye memiliki 1.101 pesawat. Namun jika dipersempit pada pesawat tempur, Israel sebenarnya berada di atas Turki, dengan 239 pesawat tempur dibandingkan 201. Israel juga memiliki 45 pesawat serang khusus, sedangkan Türkiye tercatat tidak memiliki kategori pesawat tersebut.

Israel juga unggul dalam jumlah pesawat tanker udara. GFP mencatat Israel memiliki 13 pesawat tanker, sedangkan Türkiye memiliki tujuh. Kemampuan tersebut penting karena memungkinkan pesawat tempur melakukan operasi jarak jauh dengan dukungan pengisian bahan bakar di udara.

Sebaliknya, Türkiye memiliki keunggulan besar dalam armada helikopternya. Türkiye memiliki 509 helikopter, termasuk 111 helikopter serang. Israel memiliki 127 helikopter, 48 di antaranya merupakan helikopter serang.

Komposisi tersebut menunjukkan karakteristik kekuatan yang berbeda-beda. Israel memiliki jumlah angkatan udara yang relatif lebih kecil tetapi memiliki konsentrasi kemampuan tempur dan proyeksi kekuatan udara yang tinggi. Türkiye, dengan armada yang jauh lebih besar, memiliki kapasitas penerbangan dan dukungan udara yang lebih luas.

Di sektor angkatan darat, keunggulan Türkiye semakin terlihat. GFP mencatat Türkiye memiliki 2.284 tank, sedangkan Israel memiliki 1.300 tank. Jumlah kendaraan lapis baja Turki mencapai 98.193 unit, dibandingkan Israel sebanyak 62.380 unit.

Perbedaannya bahkan lebih besar pada artileri. Türkiye memiliki 1.045 artileri self-propelled, sedangkan Israel memiliki 323. Untuk artileri derek, Türkiye memiliki 635 unit dan Israel 171 unit.

Menariknya, jumlah peluncur roket bergerak antara kedua negara relatif sama. Türkiye punya 237 unit, sedangkan Israel 228 unit. Dengan konfigurasi ini, Türkiye memiliki keunggulan signifikan jika perbandingannya diarahkan pada kemampuan perang darat konvensional berskala besar.

Kesenjangan kedua negara kembali terlihat di sektor maritim. Türkiye memiliki 192 kapal dalam perhitungan GFP, sedangkan Israel memiliki 82 kapal. Türkiye juga memiliki 14 kapal selam, dua kali lipat jumlah enam kapal selam Israel.

Türkiye memiliki 17 kapal fregat, sedangkan Israel tercatat tidak memiliki satupun kapal dalam kategori fregat. Ankara juga memiliki satu kapal pengangkut helikopter, sementara Israel tidak memiliki satu pun.

Namun Israel memiliki lebih banyak kapal patroli, yaitu 66 kapal dibandingkan Türkiye yang berjumlah 40 kapal. Israel juga memiliki tujuh korvet, sedangkan Türkiye memiliki sembilan.

Ini berarti Turki memiliki keunggulan dalam ukuran dan kemampuan armada secara keseluruhan, sementara Israel sedang membangun kekuatan laut yang lebih kecil namun berorientasi pada kebutuhan strategis negara dengan wilayah geografis yang jauh lebih sempit.

Ada satu kategori yang sebenarnya dimenangkan Israel, yakni geografi. GFP memberi Israel keunggulan geografis dibandingkan Türkiye. Faktor geografis penting karena luas wilayah, posisi strategis, dan bentuk negara dapat mempengaruhi cara militer mempertahankan wilayahnya dan melakukan operasi.

Dalam konteks ini, perbandingan jumlah senjata tidak bisa dibaca sekadar sebagai penentu siapa yang pasti menang dalam suatu perang. Negara-negara dengan wilayah kecil dapat mempunyai keuntungan tertentu dalam konsentrasi pertahanan dan penempatan pasukan, sementara negara-negara yang lebih besar mempunyai ruang dan sumber daya strategis yang lebih luas.

Jadi, Siapa yang Lebih Kuat?

Jika yang diukur adalah kekuatan militer konvensional secara keseluruhan, data GFP tahun 2026 menempatkan Turki di atas Israel. Türkiye unggul dalam hal personel, jumlah keseluruhan pesawat, angkatan darat, angkatan laut, sumber daya alam, keuangan dan logistik.

Namun jika pertanyaannya adalah siapa yang memiliki kekuatan udara lebih terkonsentrasi untuk operasi tempur, Israel mempunyai sejumlah keunggulan penting. Jumlah pesawat tempur Israel lebih banyak yakni 239 dibandingkan 201, ditambah keunggulan pada pesawat serang khusus dan kapal tanker udara.

Perbedaan ini menjadi penting ketika melihat ketegangan terkini di kawasan. Hubungan Israel dan Türkiye saat ini juga sedang menghadapi titik sensitif, khususnya terkait Suriah. Pada 18-19 Agustus 2026, Israel melancarkan serangan udara terhadap pangkalan Abu al-Duhur dekat Aleppo setelah muncul kekhawatiran tentang kemungkinan penempatan pasukan Turki di pangkalan tersebut. Türkiye mengutuk serangan tersebut, sementara Amerika Serikat mendorong mekanisme komunikasi untuk mencegah bentrokan antara ketiga negara.

Oleh karena itu, angka GFP lebih akurat dibaca sebagai peta kapasitas militer, bukan kalkulator kemenangan. Türkiye memiliki keunggulan dalam skala dan kedalaman sumber daya, sedangkan Israel memiliki kemampuan tempur udara yang sangat kuat. Dalam konflik nyata, faktor-faktor seperti kualitas personel, teknologi, intelijen, doktrin, pengalaman tempur, sistem pertahanan udara, industri pertahanan, aliansi dan tujuan operasional akan menjadi sangat penting.

Dengan kata lain, Türkiye lebih besar sebagai kekuatan militer konvensional, namun Israel tetap menjadi kekuatan yang sangat berbahaya dalam operasi berintensitas tinggi, terutama melalui kekuatan udara dan kemampuan tempurnya.

Faktor Pakta Makkah

Perbandingan antara Israel dan Türkiye menjadi lebih menarik jika mengingat Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang ditandatangani Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada 7 Agustus 2026.

Pakta tersebut menyetujui prinsip bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut akan dipandang sebagai serangan terhadap ketiga negara tersebut. Perjanjian tersebut juga mendorong pembentukan mekanisme koordinasi politik dan militer tingkat tinggi, latihan bersama di darat, laut, udara dan dunia maya, serta kerja sama dalam sistem tak berawak, peperangan elektronik, kecerdasan buatan, serta pengembangan dan produksi industri pertahanan.

Dengan demikian, jika perjanjian tersebut benar-benar diterapkan dalam suatu konflik, Türkiye tidak akan berdiri sendiri. Kekuatan militernya bisa mendapat dukungan Pakistan dan Arab Saudi sesuai mekanisme yang disepakati.

Kontribusi terbesar Pakistan terhadap kekuatan kolektif Pakta Mekah adalah kemampuan militernya yang luas dan statusnya sebagai satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir.

Menurut Global Firepower 2026, Pakistan memiliki sekitar 660 ribu personel aktif, 550 ribu pasukan cadangan, dan 500 ribu pasukan paramiliter. Negara ini juga memiliki 1.397 pesawat, termasuk 331 pesawat tempur, 2.677 tank, 652 sistem roket artileri, serta delapan kapal selam.

Reuters memperkirakan Pakistan memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir. Namun penting untuk dicatat, Pakta Mekkah tidak secara tegas menyatakan bahwa senjata nuklir Pakistan secara otomatis akan ditempatkan di bawah komando bersama atau akan digunakan untuk membela anggota lainnya. Oleh karena itu, kemampuan nuklir Pakistan lebih tepat digambarkan sebagai faktor penangkal strategis yang berpotensi mengubah perhitungan lawan, bukan sebagai senjata yang otomatis menjadi bagian dari operasi militer gabungan.

Inilah perbedaan terpenting ketika membandingkan Türkiye dengan Israel. Israel secara luas diyakini memiliki kemampuan nuklir, meski tidak pernah secara resmi mengakui atau menyangkalnya. Sementara itu, Pakistan terang-terangan memiliki senjata nuklir. Dengan masuknya Pakistan dalam kerangka pertahanan bersama Mekah, perhitungan strategis terhadap Türkiye dan kedua sekutunya menjadi jauh lebih kompleks.

Arab Saudi memberikan dimensi lain pada kekuatan kolektif tersebut. Global Firepower menempatkan Arab Saudi di peringkat ke-25 dunia pada tahun 2026, dengan 247 ribu personel aktif dan 150 ribu personel paramiliter. Riyadh juga memiliki 917 pesawat, termasuk 283 pesawat tempur, 81 pesawat serang, 22 pesawat tanker, dan 34 helikopter serang.

Keunggulan Arab Saudi bukan hanya pada jumlah persenjataannya. Menurut Global Firepower, anggaran pertahanan Riyadh mencapai sekitar 64 miliar dolar AS, jauh lebih besar dibandingkan anggaran pertahanan Pakistan yang sekitar 9,1 miliar dolar AS.

Kondisi tersebut membuat Arab Saudi memiliki kemampuan untuk menjadi penopang finansial dan logistik kerja sama pertahanan ketiga negara. Jika kerja sama industri pertahanan yang dijanjikan dalam Pakta Mekah berhasil dilaksanakan, sumber daya keuangan Saudi dapat digabungkan dengan industri pertahanan Turki serta pengalaman dan kemampuan militer Pakistan.

Dalam konfigurasi ini, posisi Türkiye menjadi sangat strategis.

Türkiye adalah anggota NATO dan memiliki industri pertahanan dalam negeri yang berkembang pesat. Ankara memiliki kemampuan dalam produksi kendaraan lapis baja, drone, kapal perang, rudal, sistem elektronik, dan berbagai platform militer lainnya.

Oleh karena itu, kekuatan Türkiye dalam Pakta Mekkah bukan hanya sekedar jumlah personel atau tank saja. Türkiye dapat berfungsi sebagai pusat teknologi, industri pertahanan, dan kemampuan operasional dalam aliansi tersebut.

Perjanjian Makkah sendiri secara khusus mencakup kerja sama di bidang teknologi tak berawak, peperangan elektronik, kecerdasan buatan, transfer teknologi, dan produksi bersama industri pertahanan.

Jika semua mekanisme ini berhasil, Turki akan memiliki akses terhadap kombinasi tiga jenis kekuatan: teknologi dan industri pertahanan Turki, kekuatan militer dan pencegahan nuklir Pakistan, serta sumber daya keuangan dan kekuatan udara Arab Saudi.

Namun, Pakta Mekkah tidak serta merta berarti ketiga negara akan mengerahkan seluruh kekuatan militernya setiap kali salah satu anggotanya menghadapi serangan. Implementasinya akan bergantung pada keputusan politik dan mekanisme pertahanan bersama. Pemerintah Pakistan dan Türkiye juga menekankan bahwa perjanjian tersebut bersifat defensif dan tidak ditujukan pada negara tertentu.

Jika Pakta Mekah benar-benar berhasil, perhitungan militer apa pun terhadap Turki harus mempertimbangkan kemungkinan tanggapan Pakistan dan Arab Saudi. Terlebih lagi, kehadiran Pakistan membawa dimensi nuklir yang tidak dapat diabaikan secara strategis.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

PSI Gagal ke Parlemen, Dinasti Jokowi Terancam Berakhir di 2029
Kebocoran BBM bersubsidi di Aceh merugikan negara sebesar Rp 1 triliun
Karen Bass kalah dalam debat melawan Nithya Raman. Dengan buruk
Kejahatan Bersejarah seperti 'Kerja Paksa' Tidak Boleh Dihapuskan oleh Jepang
Iran Kecam “Perang Ekonomi Trump”, Tiongkok Peringatkan AS Akan Sanksi Baru
Kebakaran hutan yang terjadi di dekat Eben G. Fine Park di Boulder memicu peringatan evakuasi
Video Asusila di Depan Rumah Warga Viral di Medsos, Pria Bule Vs Dua Wanita Lokal
Safwandi menegaskan sepak bola bukan sekedar kemenangan, karakter anak menjadi prioritas

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 00:04 WIB

PSI Gagal ke Parlemen, Dinasti Jokowi Terancam Berakhir di 2029

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:52 WIB

Kebocoran BBM bersubsidi di Aceh merugikan negara sebesar Rp 1 triliun

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:49 WIB

Karen Bass kalah dalam debat melawan Nithya Raman. Dengan buruk

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:38 WIB

Kejahatan Bersejarah seperti 'Kerja Paksa' Tidak Boleh Dihapuskan oleh Jepang

Kamis, 20 Agustus 2026 - 23:27 WIB

Iran Kecam “Perang Ekonomi Trump”, Tiongkok Peringatkan AS Akan Sanksi Baru

Berita Terbaru

Al Jazeera - LIVE