Ilusi Indonesia Emas 2045 dalam Ancaman Sekularisme-Liberalisme dan Normalisasi Budaya LGBTQ

- Jurnalis

Senin, 20 Juli 2026 - 21:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ns Sarah Ainun, MSi *)

PENGLIHATAN Indonesia Emas 2045 digadang-gadang menjadi tonggak lahirnya bangsa yang maju, berdaya saing, dan mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Berbagai indikator terus digenjot mulai dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, transformasi digital, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, di tengah optimisme tersebut, masih ada pertanyaan mendasar: mampukah suatu bangsa benar-benar mencapai puncak kejayaan jika landasan moral dan cara hidup masyarakatnya terus mengalami degradasi?

Perdebatan mengenai normalisasi budaya Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) merupakan salah satu potret yang menunjukkan bahwa tantangan menuju Indonesia Emas bukan hanya persoalan ekonomi dan teknologi, namun juga perebutan nilai, ideologi, dan arah peradaban bangsa.

Perdebatan kembali mengemuka setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 yang memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nirmiliter terhadap pertahanan negara.

Kebijakan tersebut memicu diskusi luas.

Sejumlah kalangan menyambut baik hal tersebut sebagai wujud keseriusan negara dalam menjaga ketahanan sosial dan moral bangsa.

Pada saat yang sama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sedang menyusun naskah akademis Rancangan Undang-Undang Hukum Pidana LGBTQ.

Di sisi lain, sejumlah organisasi masyarakat sipil menilai kebijakan tersebut berpotensi bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia (HAM).

Sementara itu, Komisi VIII DPR RI menyatakan dukungannya terhadap hadirnya instrumen hukum yang dinilai mampu membendung propaganda LGBTQ.

Baca juga: LGBTQ Uji Akhlak Bangsa Meski Ditetapkan Ancaman Non-Militer, Apa Solusi Islaminya?

Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri Koordinator Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi dan Pemasyarakatan menegaskan, kebijakan tersebut tidak boleh dimaknai sebagai melegalkan diskriminasi terhadap individu.

Negara tetap berkewajiban memberikan perlindungan hukum kepada seluruh warga negaranya.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa isu LGBTQ bukan sekedar isu moral atau hukum.

Lebih jauh lagi, hal tersebut merupakan cerminan pertarungan antara dua perspektif besar: antara paradigma sekularisme-liberalisme yang menempatkan kebebasan individu sebagai tolok ukur utama, dan paradigma Islam yang menjadikan wahyu sebagai landasan kehidupan.


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Momen langka, Prabowo, Jokowi, SBY dan Gibran duduk dalam satu forum
Iran Menetapkan Kondisi untuk Mengurangi Perang dengan AS dan Menghentikan Serangan di Kawasan
Perempuan Wewak Berjualan di Perbatasan PNG-RI
Mainkan Lebih Banyak Game yang Anda Suka, Dimanapun Anda Bermain dengan Kompatibilitas Mundur XBOX di PC
Ternyata inilah alasan sebenarnya Perry Warjiyo mundur dari BI
Xbox Menambahkan Fitur Baru Untuk 'Mengoptimalkan' Kecepatan Pengunduhan Game
Cuaca Meulaboh Seharian Berawan, BMKG Ingatkan Nelayan Waspada Gelombang Tinggi 2,5 Meter
gelar studi anggota LCDLF 2026- Grupo Milenio

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 13:25 WIB

Momen langka, Prabowo, Jokowi, SBY dan Gibran duduk dalam satu forum

Senin, 27 Juli 2026 - 12:53 WIB

Iran Menetapkan Kondisi untuk Mengurangi Perang dengan AS dan Menghentikan Serangan di Kawasan

Senin, 27 Juli 2026 - 12:38 WIB

Perempuan Wewak Berjualan di Perbatasan PNG-RI

Senin, 27 Juli 2026 - 12:31 WIB

Mainkan Lebih Banyak Game yang Anda Suka, Dimanapun Anda Bermain dengan Kompatibilitas Mundur XBOX di PC

Senin, 27 Juli 2026 - 12:14 WIB

Ternyata inilah alasan sebenarnya Perry Warjiyo mundur dari BI

Berita Terbaru

HEADLINE

Perempuan Wewak Berjualan di Perbatasan PNG-RI

Senin, 27 Jul 2026 - 12:38 WIB