Generasi petani tebu menginspirasi misi ilmuwan Fiji untuk menyelamatkan lahan Pasifik

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura, RakyatPos.id – Masa kecil bekerja di ladang tebu Fiji menjadi sebuah kenangan tersendiri bagi peneliti asal Fiji, Mesulame Joshua Tora atau akrab disapa Mesu Tora. Putra seorang petani tebu, kini ia memimpin penelitian ilmiah mengenai kesehatan tanah yang telah menghidupi keluarganya selama beberapa generasi.

Tora yang kisahnya disorot oleh Bioprotection Aotearoa mengatakan, perjalanannya memasuki dunia sains bermula dari nasehat kakeknya saat tumbuh besar di perkebunan gula keluarga di Nadi, Fiji seperti dilansir RakyatPos.id dari laman www.fijitimes.com.fj, Minggu (19/7/2026).

“Kalau kamu tidak suka bekerja di ladang tebu, pergilah belajar! Belajarlah dengan giat, agar kamu tidak kembali lagi ke pekerjaan ini!” kata kakeknya kepadanya.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berasal dari keluarga petani tebu selama tiga generasi, masa kecil Tora berkisar pada kehidupan bertani.

Pagi harinya dimulai sebelum fajar dengan menyiram tanaman sayur-sayuran sebelum membantu mengantarkan teh ke para penebang tebu, sedangkan sore dan akhir pekan dihabiskan dengan merawat ladang tebu dan sayur-sayuran.

Bertekad untuk mengejar masa depan yang berbeda, ia menyelesaikan gelar Sarjana Studi Lingkungan di Universitas Pasifik Selatan sebelum bekerja di sektor kehutanan Fiji.

Pertemuannya dengan para peneliti dari Universitas Hawai'i yang mempelajari sistem agroforestri di seluruh Fiji itulah yang pada akhirnya mengubah arah kariernya.

Perjalanannya ke seluruh Fiji mengenalkannya pada berbagai sistem pertanian selain tebu.

“Saya biasa bangun dan melihat ke luar, yang saya lihat hanyalah tebu. Namun di sisi lain pulau, yang saya lihat adalah pepohonan, perpaduan pertanian dan perkebunan, serta integrasi lahan pertanian ke dalam hutan sebagai sistem agroforestri,” kata Tora.

Pengalaman tersebut menginspirasinya untuk menyelesaikan gelar Master di Universitas Massey Selandia Baru, tempat ia meneliti benih dan tanaman asli sambil mempelajari dampak penyakit karat myrtle.

Karat Myrtle adalah penyakit tanaman destruktif yang disebabkan oleh jamur invasif Austropuccinia psidii. Jamur ini secara eksklusif menyerang tanaman dari famili Myrtaceae (seperti jambu biji, kayu putih, dan pohon murad), membentuk kumpulan spora berwarna kuning cerah yang dapat mematikan pucuk, daun, dan bunga.

Penyakit ini menular dengan sangat cepat melalui spora yang dibawa oleh angin, pakaian, atau peralatan. Dampaknya bisa sangat mematikan bagi ekosistem, bahkan memicu penutupan akses (lockdown) di wilayah tertentu.

Saat ini sedang mengejar gelar PhD di Lincoln University, Selandia Baru dengan beasiswa Bioproteksi Aotearoa, Tora telah mengalihkan fokusnya dari tanaman ke tanah setelah diskusi dengan masyarakat di Fiji menyoroti kekhawatiran mereka yang meluas mengenai menurunnya kesehatan tanah atau kesuburan tanah.

“Masyarakat di Fiji mengatakan kepada kami bahwa mereka mempunyai masalah besar dengan tanah mereka,” katanya.

Penelitiannya meneliti komunitas mikroba tanah di seluruh sistem pertanian Fiji dan bagaimana mereka berkontribusi terhadap stabilitas dan produktivitas ekosistem.

“Komunitas mikroba tanah memainkan peran mendasar dalam mendorong proses-proses penting yang penting bagi berfungsinya agroekosistem kita,” katanya.

Tora mengatakan bahwa hanya sedikit yang diketahui tentang mikroba tanah di Fiji dan negara-negara Kepulauan Pasifik lainnya, meskipun tekanan dari intensifikasi pertanian, penggundulan hutan, dan perubahan iklim semakin meningkat.

“Sangat sedikit yang diketahui tentang keragaman komunitas mikroba di tanah kita, tidak hanya di Fiji namun juga di seluruh Negara dan Wilayah Kepulauan Pasifik. Bagaimana komunitas ini merespons perubahan penggunaan lahan dan tekanan iklim belum pernah dipelajari di wilayah kami,” tambahnya.

Bagi Tora, penelitian ini bersifat sangat pribadi. Pekerjaan ini sangat penting tidak hanya untuk memberikan informasi dasar, namun juga menyediakan data ilmiah untuk mendukung prinsip-prinsip yang tertanam dalam pengelolaan tradisional kita sebagai pemilik tanah tradisional dan pemelihara vanua.

Katanya, vanua secara harafiah berarti “tanah”, namun lebih luas diartikan sebagai identitas sosial, fisik, dan spiritual suku iTaukei (penduduk asli Fiji).

“Ini melambangkan ikatan yang tidak terpisahkan antara masyarakat adat iTaukei, tanah leluhur, adat istiadat leluhur, dan lingkungan alam,” ujarnya.

Tora mengatakan bahwa dengan rutin pulang ke rumah untuk berbagi temuannya dengan keluarga, penelitiannya mulai menjawab pertanyaan yang telah lama ditanyakan oleh generasi petani, termasuk mengapa kualitas tebu menurun dan mengapa beberapa tanaman hanya tumbuh subur di jenis tanah tertentu.

Mesu meneliti peran komunitas mikroba tanah dalam agroekosistem dan penelitian ini bertujuan untuk mengukur bagaimana mikroba tanah merespons perubahan penggunaan lahan dan tekanan iklim.

Data ilmiah ini digunakan untuk mendukung sistem pengelolaan tradisional yang dilakukan oleh pemilik tanah adat di Fiji.

“Sekarang setelah saya menyelesaikan PhD, saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang biasa mereka ajukan kepada kementerian pemerintah,” katanya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui sains, dikombinasikan dengan pengalaman pertanian tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi, akan membantu melindungi tanah Fiji dan memastikan masa depan pertanian Pasifik yang lebih berkelanjutan.

Pasca Generasi Petani Tebu yang Menginspirasi Misi Ilmuwan Fiji untuk Menyelamatkan Tanah Pasifik pertama kali muncul di RakyatPos.id Papua.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Gadis Kecil Itu Adalah Anak Kita
Amerika Serikat dalam Kondisi Sulit, Iran Tekankan Akan Menentukan Berakhirnya Konflik
Prakiraan cuaca Chicago: Peringatan panas, peringatan berlaku dengan kemungkinan badai pada hari Senin
Bandara Internasional Sentani Resmikan Persipura Experience Merchandise Store
Ayah Dihajar Demi Ayam, Jeritan Sedih Gadis Kecil Mengantar Jenazah Ayahnya
Di Dalam Tahun Tersulit Nadella – Business Insider
Jenazah presenter TVRI Papua Barat ditemukan di celah batu
Bareskrim Serahkan Kasus Satuan Narkoba Polres Tangsel dan Lima Anggotanya ke Mapolda Metro

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 18:57 WIB

Gadis Kecil Itu Adalah Anak Kita

Senin, 27 Juli 2026 - 18:44 WIB

Amerika Serikat dalam Kondisi Sulit, Iran Tekankan Akan Menentukan Berakhirnya Konflik

Senin, 27 Juli 2026 - 18:32 WIB

Prakiraan cuaca Chicago: Peringatan panas, peringatan berlaku dengan kemungkinan badai pada hari Senin

Senin, 27 Juli 2026 - 18:28 WIB

Bandara Internasional Sentani Resmikan Persipura Experience Merchandise Store

Senin, 27 Juli 2026 - 16:15 WIB

Ayah Dihajar Demi Ayam, Jeritan Sedih Gadis Kecil Mengantar Jenazah Ayahnya

Berita Terbaru

HEADLINE

Gadis Kecil Itu Adalah Anak Kita

Senin, 27 Jul 2026 - 18:57 WIB