Ringkasan Berita:Laporan tersebut menyatakan bahwa sebagian besar tentara bukanlah sukarelawan, melainkan personel yang dimobilisasi. Penempatan mereka di area latihan Altengrabow justru dijadikan sebagai kesempatan untuk meninggalkan dinas.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena terjadi bukan di garis depan perang, melainkan di wilayah sekutu Ukraina – tempat tentara seharusnya menjalani pelatihan sebelum kembali ke medan perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
RakyatPos.id – Lebih dari 80 tentara Ukraina dilaporkan telah meninggalkan fasilitas pelatihan militer di Saxony-Anhalt, Jerman, sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022.
Laporan tersebut menyatakan bahwa sebagian besar tentara bukanlah sukarelawan, melainkan personel yang dimobilisasi. Penempatan mereka di area latihan Altengrabow justru dijadikan sebagai kesempatan untuk meninggalkan dinas.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena terjadi bukan di garis depan perang, melainkan di wilayah sekutu Ukraina – tempat tentara seharusnya menjalani pelatihan sebelum kembali ke medan perang.
Sejak Februari 2022, sekitar 29.000 personel militer Ukraina telah menjalani pelatihan di sekitar 60 fasilitas militer di Jerman. Mereka mempelajari berbagai keterampilan dasar, mulai dari menembak, kamuflase hingga pertolongan pertama.
Baca juga: Rusia Marah, Drone Inggris Digunakan Ukraina untuk Menyerang Moskow
Namun, ada pula di antara mereka yang memilih menghilang.
Berdasarkan hukum Ukraina, tentara yang mengabaikan tugasnya dapat dikategorikan sebagai pembelot. Jika mereka kembali ke Ukraina, mereka menghadapi hukuman penjara hingga 12 tahun.
Di Jerman, kedudukan mereka juga belum sepenuhnya mempunyai dasar hukum untuk bertempat tinggal. Pasal 24 Undang-Undang Kependudukan Jerman memberikan perlindungan kepada orang-orang yang “diusir dari Ukraina,” namun ketentuan ini berlaku untuk warga sipil, bukan personel militer yang dikirim ke luar negeri oleh pemerintah mereka sendiri.
Kementerian Pertahanan Jerman telah mengakui bahwa tentara Ukraina meninggalkan kamp pelatihan mereka. Namun, kementerian mengatakan pihaknya tidak memiliki sistem terpusat untuk melacak semua kasus di tingkat nasional.
Jika dibandingkan dengan sekitar 29.000 personel Ukraina yang menjalani pelatihan di Jerman, jumlah orang yang hilang dari fasilitas tersebut relatif kecil.
Namun angka tersebut memiliki arti yang lebih besar dari sekedar statistik.
Para prajurit telah melalui proses mobilisasi. Mereka telah diseleksi, dikirim ke luar negeri, dibekali dengan persyaratan militer, kemudian mendapat pelatihan atas biaya negara sekutu.
Mereka berada pada titik yang sangat mahal dalam rantai pembentukan kekuatan tempur.
Namun, di tempat-tempat yang relatif jauh dari ancaman perang, beberapa orang memilih untuk pergi.
Itulah yang menjadikan kasus ini penting.
Ketika Isu Prajurit Menjadi Isu Strategis




















