RakyatPos.id – Kanselir Jerman Friedrich Merz mengecam keras Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir karena menyerukan pembunuhan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza setiap malam. Menurut Merz, seruan tokoh sayap kanan Israel itu tidak manusiawi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rektor mengecam keras seruan Menteri Ben-Gvir yang tidak manusiawi dan melanggar hukum internasional. Itu tidak dapat diterima,” kata wakil juru bicara pemerintah Jerman, Sebastian Hille, dalam konferensi pers di Berlin, Rabu (19/8/2026), dilansir Anadolu Agency.
Hille mengungkapkan, pada pertemuan Juni lalu, para kepala negara dan pemerintahan Uni Eropa sepakat untuk menyiapkan sanksi terhadap Ben-Gvir. Ia dianggap mendorong pelanggaran martabat manusia dan hukum internasional.
“Para menteri luar negeri UE akan membahas masalah ini dalam beberapa hari mendatang pada pertemuan informal mereka di Gymnich. Perwakilan Tinggi UE Kaja Kallas akan mengajukan proposal mengenai masalah ini,” kata Hille.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot juga mengecam Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir. Hal ini juga terkait dengan pernyataan Ben-Gvir yang menyerukan pembunuhan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza. Menurut Barrot, komentar Ben-Gvir tidak manusiawi.
Pernyataan Barrot mengenai komentar Ben-Gvir muncul saat ia menyoroti perkembangan kekerasan di Tepi Barat yang diduduki. “Apa yang terjadi hari ini di Tepi Barat benar-benar memalukan dan seharusnya membuat kita semua memberontak. Itu sebabnya kami telah memberikan sanksi kepada Menteri Ben-Gvir, yang pernyataannya baru-baru ini tidak dapat ditoleransi dan tidak manusiawi,” kata Barrot dalam wawancara dengan surat kabar Prancis La Montagne yang dimuat Rabu (19/8/2026).
Prancis telah melarang Ben-Gvir memasuki negaranya. Lebih dari 10 negara, termasuk Belgia, Spanyol, Inggris, Kanada dan Australia, telah memberlakukan larangan serupa terhadap Ben-Gvir. Selain Ben-Gvir, sejak 9 Juni 2026 Prancis juga melarang Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengunjungi negaranya. Pasalnya, Smotrich dinilai aktif mempromosikan aneksasi Tepi Barat yang diduduki dan secara terbuka menyerukan pemukiman kembali Gaza.
Jean-Noel Barrot mengatakan Prancis tidak mengesampingkan sanksi lebih lanjut terhadap Israel atas tindakannya baru-baru ini di Tepi Barat. “Untuk ketiga kalinya, pada 28 Mei, kami menjatuhkan sanksi Eropa terhadap pemukim (Israel) ini. Sanksi lebih lanjut dapat dijatuhkan dan semua opsi ada di meja kami,” ujarnya.
Pada Sabtu (16/8/2026) pekan lalu, saat berbicara di podcast, Itamar Ben-Gvir menyerukan pembunuhan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza. Pembunuhan harus dilakukan dengan tepat sasaran dan dilakukan setiap malam.
“Saya pikir pembunuhan yang ditargetkan harus dilakukan setiap malam di Gaza. Bunuh 30 atau 40 di antaranya,” kata Ben-Gvir dikutip laman Middle East Monitor.
Dia mengindikasikan bahwa masyarakat Gaza adalah ancaman dan tidak pantas untuk hidup. “Bukan hanya mereka yang menempatkan Anda dalam bahaya saat ini. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya tidak hidup,” katanya.
Dalam program siaran yang sama, Ben-Gvir juga menganjurkan pemindahan massal warga Palestina dari Gaza dan pembangunan kembali permukiman ilegal Israel di wilayah tersebut. “Saya menganggap seluruh Jalur Gaza adalah milik kami,” katanya.
Meski telah menyetujui gencatan senjata dengan kelompok Hamas sejak Oktober 2025, namun Israel belum sepenuhnya menghentikan serangan ke Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 1.273 warga Gaza tewas akibat pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel. Sementara jumlah korban luka mencapai lebih dari 4.200 orang.
Sejak memulai agresinya di Gaza pada Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 73.400 warga di wilayah tersebut. Sementara jumlah korban luka melebihi 174 ribu orang.



















