Dua hari terakhir Serambi Indonesia memberikan liputan eksklusif konflik pertanahan di Kuala Keupeng dan Tanah Tinggi, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam. Di balik sengketa lahan saat ini, terdapat sejarah panjang Kuala Keupeng. Jauh sebelum konflik bersenjata dan HGU ada, kampung tua ini sudah hidup dan menjadi salah satu pusat perdagangan di pedalaman Singkil. Kini, desa tersebut telah kehilangan penduduknya.
KUALA KEUPENG sekarang ini adalah desa yang tenang. Namanya masih tercatat dalam administrasi pemerintahan, wilayahnya masih membentang di Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, dan Sungai Lae Soraya masih mengalir di sampingnya.
Namun, sebagian besar orang yang pernah membawa kehidupan ke desa tersebut sudah lama tiada. Mereka meninggalkan rumah sejak konflik Aceh memaksa masyarakat mengungsi pada tahun 2002 hingga 2003. Sawah dan kebun pun terbengkalai. Aktivitas perdagangan berhenti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Desa yang dulunya ramai kini berubah menjadi desa tua yang lebih hidup dalam kenangan masyarakat yang pernah tinggal di sana. Sebenarnya Kuala Keupeng bukanlah desa yang baru lahir. Sejarahnya jauh lebih panjang dibandingkan konflik yang membuat penduduknya mengungsi.
Menurut Nurdin Angkat, sesepuh setempat, Kuala Keupeng memiliki hubungan dengan Kerajaan Tualang. Tualang dan Kuala Keupeng merupakan dua desa yang bertetangga dalam satu pemukiman. Dahulu Kerajaan Tualang berada di wilayah yang sekarang disebut Desa Tualang, sedangkan rumah raja berada di Kuala Keupeng.
Kisah itu diturunkan dari generasi ke generasi. Jejak garis keturunan kerajaan ini, kata Nurdin, masih ada hingga saat ini. Salah satunya Nasir Kombih, Wakil Wali Kota Subulussalam.
Tidak semua cerita tentang Kerajaan Tualang dan Kuala Keupeng mempunyai jejak dalam arsip tertulis. Kebanyakan dari mereka masih hidup dalam ingatan masyarakat. Namun sejarah administratif kawasan tersebut menunjukkan bahwa Kuala Keupeng bukanlah nama baru.
Seiring berkembangnya pemukiman tersebut, nama Kuala Keupeng kemudian menjadi nama pemukiman yang menaungi sejumlah desa yaitu Tanah Tinggi, Tualang, Suak Jampak, Geruguh, Mandilam dan Kuala Keupeng. Nama itu bertahan hingga saat ini. Data Badan Pusat Statistik mencatat luas Desa Kuala Keupeng sekitar 21 kilometer persegi atau 2.100 hektar.
Desa Uang
Dulunya Kuala Keupeng tidak hanya dikenal sebagai tempat tinggal saja. Desa ini hidup dari tanah. Orang-orang membuka ladang dan menanam padi. Hasil panennya ada yang dikonsumsi, ada pula yang diambil untuk diperdagangkan. “Padi itu uang,” kata Nurdin.
Kalimat singkat itu seolah menggambarkan keseluruhan denyut perekonomian Kuala Keupeng di masa lalu. Beras merupakan alat tukar kehidupan. Orang-orang dari desa lain datang membawa barang. Masyarakat Kuala Keupeng punya sawah untuk ditukar.
Karena aktivitas ekonomi tersebut, warga punya cerita tersendiri tentang asal usul nama Kuala Keupeng. Keupeng atau kepeng dalam bahasa rakyat berarti uang. Sehingga Kuala Keupeng dikenang sebagai kampung uang. Namanya mungkin terdengar sederhana. Namun di baliknya terdapat gambaran sebuah desa yang dulunya merupakan tempat bertemunya orang dan barang dari berbagai daerah.
Letaknya yang dekat dengan Lae Soraya menjadi sebuah keunggulan tersendiri. Dahulu sungai tidak hanya sekedar tempat mengalirnya air saja, namun juga berfungsi sebagai jalan raya. Hasil pertanian dari pedalaman dibawa menyusuri sungai menuju Singkil. Warga mengenang kapal-kapal kayu yang datang dan merapat membawa serta mengumpulkan barang dagangan.
Lae Soraya sendiri merupakan bagian dari sistem Sungai Alas-Singkil yang menghubungkan pedalaman Aceh dengan wilayah pesisir Singkil. Jadi kehidupan Kuala Keupeng tidak pernah benar-benar lepas dari Singkil. Apa yang tumbuh di daratan bergerak menuju pantai, dan apa yang datang dari luar masuk melalui jalur yang sama.
Kayu Kapur



















