Oleh: Dr. Iswadi, M.Pd*)
Untuk Bagi generasi muda Banda Aceh yang lahir sekitar atau setelah bulan Agustus 2005, Hari Damai Aceh mungkin merupakan peristiwa bersejarah yang mereka kenal melalui cerita orang tua, buku, pemberitaan, dan berbagai upacara tahunan.
Mereka tidak merasakan secara langsung suasana konflik seperti yang dialami generasi-generasi sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap tahunnya, peringatan perdamaian disajikan melalui baliho, pidato, diskusi, dan berbagai kegiatan. Semua ini tentu penting sebagai bagian dari penghormatan terhadap sejarah.
Namun, bagi generasi yang lahir setelah konflik, mungkin ada pertanyaan yang paling sering muncul dalam hidup mereka: apa arti perdamaian bagi masa depan kita?
Pertanyaan ini bukanlah suatu bentuk ketidaktahuan terhadap sejarah. Justru sebaliknya.
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa generasi muda ingin melihat perdamaian dalam bentuk yang lebih nyata dan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mereka belum pernah merasakan suara tembakan dari dekat, belum pernah merasakan ketegangan konflik, dan belum menjalani kehidupan dalam suasana ketidakpastian.
Bagi mereka, kedamaian merupakan bagian hidup yang sudah ada sejak mereka dilahirkan.
Oleh karena itu, tantangan generasi saat ini bukan lagi bagaimana menghentikan perang, namun bagaimana memastikan perdamaian benar-benar menghasilkan kehidupan yang lebih baik.
Dalam konteks itu, kerusuhan yang terjadi pada 15 Agustus di halaman Masjid Raya Baiturrahman perlu disikapi secara lebih tenang dan komprehensif.
Peristiwa ini terkait isu pengibaran Bendera Bintang Bulan yang kemudian berkembang menjadi ketegangan antara massa dan aparat.
Namun, kita perlu berhati-hati untuk tidak berhenti pada kejadian yang tampak di permukaan saja. Sebuah insiden yang terjadi dalam hitungan jam mungkin memiliki latar belakang masalah yang lebih panjang.
Oleh karena itu, istilah audit dapat digunakan sebagai pendekatan reflektif. Audit dalam pengertian ini bukan untuk mencari pihak-pihak yang patut disalahkan, melainkan melihat perjalanan perdamaian Aceh secara jujur: apa yang sudah berhasil, apa yang masih menjadi pekerjaan rumah, dan apa yang perlu ditingkatkan bersama.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perdamaian di Aceh merupakan suatu pencapaian yang sangat penting. MoU Helsinki pada tahun 2005 menjadi tonggak sejarah dalam mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Baca juga: VIDEO – Hari Damai Aceh Berakhir Kisruh, Sepeda Motor Petugas Terbakar, Warga Luka-luka



















