Tolak Lupakan Beutong Ateuh Nagan Raya, Haji Uma Kawal Aspirasi Masyarakat Adat di Senayan
RakyatPos.id, JAKARTA SELATAN – Forum Pemuda Reformis Aceh (FRMA) menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi bertajuk “Pawang Uteun Beutong Ateuh: Menolak Melupakan, Jaga Hutan” di Aula Wisma Taman Iskandar Muda, Jakarta Selatan, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini mempertemukan mahasiswa, aktivis lingkungan hidup, akademisi, serta Anggota Komite I DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos., atau yang akrab disapa Haji Uma.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Forum tersebut menjadi ruang refleksi terhadap kondisi kawasan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, yang selama ini dikenal sebagai bagian penting penyangga Ekosistem Leuser serta kawasan yang memiliki nilai ekologi dan sosial bagi masyarakat setempat.
Dalam kesempatan itu, Haji Uma menegaskan komitmennya dalam mengawal aspirasi masyarakat adat Beutong Ateuh di tingkat nasional.
Menurutnya, suara masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada kelestarian hutan harus dihormati dan menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan.
“Pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang mengorbankan manusia dan alam, melainkan pembangunan yang mampu menjaga keduanya secara berkelanjutan,”
“Hutan bukan hanya sumber ekonomi, tapi sumber kehidupan. Jika hutan lestari, masyarakat akan tetap hidup bermartabat,” tegas Haji Uma.
Beutong Ateuh bukan sekedar hamparan hijau di peta topografi. Kawasan ini merupakan benteng krusial penopang utama Ekosistem Leuser yang menjadi paru-paru dunia.
Bagi masyarakat adat yang menghuninya, hutan ini merupakan kawasan keramat, sumber mata air yang tak pernah gagal mengalirkan kehidupan, dan rumah bagi keanekaragaman hayati yang tak ternilai harganya.
Ini adalah warisan ekologis berdaulat yang harus diwariskan kepada generasi masa depan Aceh tanpa kerusakan apa pun.
Namun, bayang-bayang pertambangan kerap menerpa gerbang surga hijau ini.
Kekhawatiran akan hilangnya sumber air, ancaman terhadap keamanan lingkungan akibat banjir bandang, dan hilangnya ruang hidup komunal telah memicu gelombang perlawanan yang terus-menerus dari masyarakat setempat.
Bagi mereka, membiarkan korporasi merusak hutan sama saja dengan menyerahkan masa depan anak cucu mereka pada kehancuran.
Haji menegaskan, aspirasi masyarakat Beutong Ateuh merupakan suara murni yang harus diapresiasi dan dihormati semua pihak.
















