Lonjakan Titik Panas Mengancam Anak-Anak dan Memperburuk Ketimpangan Gender

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura, RakyatPos.id – Pantau Gambut mendeteksi adanya peningkatan titik panas sebanyak 15.067 titik, melonjak 549 persen pada Juli 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Situasi ini dinilai mengancam kesehatan anak dan memperburuk kesenjangan gender.

Eskalasi ini didorong oleh lonjakan besar-besaran titik panas di sejumlah wilayah utama. Kalimantan Barat mencatat titik api tertinggi dengan 4.874 titik api (naik 1.897% dibandingkan bulan Juni) dan disusul Papua Selatan dengan 4.220 titik panas (naik 457%).

Lonjakan titik panas paling mengkhawatirkan terjadi di Kalimantan Tengah, sebagai wilayah yang sejak Januari 2026 stabil di kisaran 200 titik panas per bulan, namun meroket menjadi 2.821 titik panas sepanjang Juli.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pantau Gambut menilai lonjakan tersebut merupakan bukti kegagalan pemerintah dalam mengelola lahan dan melindungi keselamatan warga dari dampak industri ekstraktif.

Parahnya, penyebaran kabut asap juga sudah mulai melintasi batas negara sehingga memaksa sejumlah sekolah di Malaysia menghentikan kegiatan belajar mengajar.

Realitas tersebut dinilai menunjukkan betapa parahnya paparan asap yang dihirup oleh WNI yang justru tinggal di tengah asap tanpa perlindungan yang memadai.

Selain melumpuhkan aktivitas warga, kabut asap juga mengancam tumbuh kembang anak-anak sebagai kelompok paling rentan akibat sistem pernafasannya yang belum sempurna.

Pada saat yang sama, krisis ini memicu risiko gangguan kehamilan dan meningkatkan beban rumah tangga perempuan di wilayah terdampak tanpa perlindungan hukum dan mitigasi yang adil.

Di tengah minimnya penanganan dan stagnannya pelaksanaan keputusan hukum pemerintah, jaringan masyarakat sipil di wilayah terdampak menekankan bahwa krisis ini bukan lagi sekedar bencana lingkungan biasa.

Kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan bukan lagi sekadar krisis ekologi, melainkan ancaman langsung terhadap keselamatan perempuan dan anak, kata Beatrix Gebze, perwakilan warga Merauke, melalui pesan elektronik dari Pantau Gambut, Kamis malam (20/8/2026).

Ia menyoroti bagaimana paparan asap rokok dalam waktu lama memicu ISPA pada anak, di tengah sulitnya mengakses fasilitas kesehatan, air bersih, dan makanan yang semakin langka akibat hilangnya sumber daya alam.

Kondisi serupa juga dialami perempuan di Kalimantan Tengah. Ketua Pengurus Komunitas Solidaritas Perempuan (SP) Mamut Menteng, Irene Natalia Lambung, menilai pemerintah juga gagal memposisikan perempuan adat sebagai subjek setara dalam mitigasi iklim.

“Solusi yang ada saat ini hanyalah mencuci tangan dan membiarkan perempuan menanggung dampak krisis secara mandiri,” kata Irene.

Ia juga menyoroti kurangnya niat politik pemerintah untuk mengeksekusi keputusan Citizen Law Suit (CLS) Anti-Smoke Movement (GAAS) yang dimenangkan warga sejak 2019.

Sementara di Sumsel, krisis ini telah merusak tatanan sosial warganya. “Krisis karhutla di Sumsel semakin memperparah ketidakadilan sosial dan gender,” tegas Juru Kampanye Perkumpulan Rawang, Kartika Lestari.

Untuk itu, Perkumpulan Rawang mendesak pemerintah segera mengambil tindakan untuk menghentikan kelalaian tersebut dengan memberikan jaminan perlindungan khusus, kesehatan, dan pemulihan ekonomi bagi perempuan dan anak di wilayah yang terkena dampak.

Menyikapi krisis sistemik ini, Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, mendesak pemerintah berhenti berkompromi atas nama pembangunan.

“Selama perlindungan gambut terus dinegosiasikan, krisis ini akan terus memakan korban,” ujarnya.

Putra juga menuntut pemerintah melalui Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan segera mengevaluasi izin konversi lahan gambut yang dilakukan korporasi skala besar dan memastikan tata kelola yang berorientasi pada perlindungan ekosistem dan keselamatan perempuan dan anak.

Indonesia mempunyai wilayah gambut tropis terluas di dunia dengan luas 13,43 juta hektar yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Lahan gambut Indonesia menyimpan sekitar 57 gigaton karbon atau sekitar 20 kali lebih banyak dibandingkan tanah mineral biasa.

Ketika lahan gambut dikeringkan atau dikonversi, cadangan karbon tersebut akan terlepas ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim.

Selain berfungsi sebagai penyimpan karbon, gambut juga berperan penting dalam mengatur pengelolaan air, mengurangi risiko banjir dan kekeringan, serta menjadi habitat berbagai keanekaragaman hayati.

Oleh karena itu, melindungi gambut merupakan bagian penting dari upaya mitigasi perubahan iklim. Informasi lebih lanjut mengenai gambut dapat diakses melalui link pantaugambut.id/pelajari.

Pantau Gambut adalah organisasi non-pemerintah yang berjejaring di sembilan provinsi di Indonesia dan fokus pada penelitian, advokasi, dan kampanye untuk mendorong perlindungan dan pengelolaan gambut berkelanjutan.

Pantau Gambut juga memantau komitmen pemerintah, organisasi independen dan sektor swasta dalam perlindungan dan restorasi gambut, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam memantau tata kelola ekosistem lahan basah ini melalui berbagai saluran komunikasi dan kampanye.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Viral Isu Pelecehan Seksual, El Rumi Bantah Jadi Tokoh EJR, Segera Tunjuk Pengacara
Liga Premier: 10 hal yang harus diwaspadai saat musim baru dimulai | Sepak bola
Orkes Lae Sukhaya Gambus Menjadi Kekayaan Intelektual Komunal
Tiongkok Adalah Mitra Dagang Terbesar PNG
Tips memilih villa untuk liburan keluarga : Jangan sampai salah booking
70 Mahasiswa UNIKI Ikuti PLP I, Dibekali Pengalaman Sebelum Masuk Sekolah
Sindiran juri tentang terdakwa yang diborgol menunda persidangan pembunuhan di Milwaukee
Denny Indrayana Klaim Kompetisi Diploma SMA Gibran Capai Rp 2 Miliar

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Viral Isu Pelecehan Seksual, El Rumi Bantah Jadi Tokoh EJR, Segera Tunjuk Pengacara

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Liga Premier: 10 hal yang harus diwaspadai saat musim baru dimulai | Sepak bola

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:33 WIB

Orkes Lae Sukhaya Gambus Menjadi Kekayaan Intelektual Komunal

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:21 WIB

Tiongkok Adalah Mitra Dagang Terbesar PNG

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:07 WIB

Tips memilih villa untuk liburan keluarga : Jangan sampai salah booking

Berita Terbaru

HEADLINE

Orkes Lae Sukhaya Gambus Menjadi Kekayaan Intelektual Komunal

Jumat, 21 Agu 2026 - 14:33 WIB

HEADLINE

Tiongkok Adalah Mitra Dagang Terbesar PNG

Jumat, 21 Agu 2026 - 14:21 WIB

Al Jazeera - LIVE