Laporan Jurnalis Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
RakyatPos.id, LHOKSUKON – Sebanyak 40 Rapai Pase berusia ratusan tahun dipastikan akan ditampilkan dalam Grand Duel 50 Rapai Pase yang akan mempertemukan dua kawasan budaya besar, Blah Deh Krueng (wilayah Tengah-Timur) melawan Blah Nou Krueng (wilayah Tengah-Barat).
Pagelaran budaya tersebut akan digelar di Desa Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (25/7/2026) malam, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya Rapai Pase yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad di bekas Kerajaan Samudera Pasai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Puluhan rapai yang akan ditampilkan bukan sekadar alat musik tradisional, melainkan pusaka budaya yang diturunkan secara turun temurun pada abad ke-18 hingga ke-19.
Informasi yang diperoleh Serambinews.com saat wawancara dengan sejumlah syekh Rapai selama dua bulan terakhir menyebutkan, setiap rapai memiliki nama, karakter suara, sejarah, dan garis keturunan ahli waris yang berbeda.
Bagi seniman Rapai Pase, nama-nama tersebut tidak hanya menjadi penanda alat musiknya, tetapi juga identitas kelompok yang dipertahankan lintas generasi.
Jelang duel akbar tersebut, puluhan kelompok Rapai Pase di berbagai kecamatan di Aceh Utara terus menggencarkan latihan.
Selain menyempurnakan teknik bermain, para seniman juga merawat rapai, mulai dari memperbaiki badan kayu rapai hingga mengencangkan selaput kulit sapi agar menghasilkan suara yang tetap nyaring dan harmonis saat dibawakan.
Koordinator Blah Deh Krueng (Tengah-Timur) Rusli M Yacob alias Nyak Lie mengatakan, pihaknya telah mencatatkan 20 rapai pusaka yang akan diturunkan pada malam pementasan.
Pertemuan tersebut terdiri dari Raja Meudeuhak, Raja Bombai, Raja Muda, Sinampang aroe, Bintang Tamu, Bom Atom, Putroe Ijoe, Sibrok Blang Pha, Si Pirak, Lumoe Pok Ateung, Si Parot, Raja Itam, Buya Itam.
Kemudian Gelanteu Cot Uroe, Sibrok Kubatate, Putroe Banderoh, Tualang Meurante, Raja Himbe, Buket Meulinteung, dan Raja Rimba.
Nama-nama rapai ini telah lama menjadi kebanggaan kelompok Rapai Pase di wilayah timur Aceh Utara dan masih dipertahankan sebagai warisan leluhur.
Masing-masing Kelompok Rapai Raja Meudeuhak dari Desa Pucok Alue Kecamatan Baktiya, Geunta Alam dari Desa Blang Pha Kecamatan Seunuddon, Geulumpang VII dari Kecamatan Matangkuli, Kelompok Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh di Lhok Merbo Kecamatan Tanah Jambo Aye, dan Kelompok Indatu Heritage di Kecamatan Lhoksukon.
Sementara itu, Kelompok Raja Mulieng dari Desa Dayah Meuria, Kecamatan Syamtalira Aron yang bertindak sebagai tuan rumah dan koordinator Blah Nou Krueng juga telah menyelesaikan pendataan rapai yang akan mewakili wilayah Aceh Utara tengah hingga barat.
Tim kami juga telah mengumpulkan sejumlah kelompok, antara lain Peureupok, Putroe Canden Blang Asan, Lapang, Barona Jaya, Kabupaten Tanah Luas, dan Raja Buwah, kata Koordinator Tim Blang Nou Krueng (Tengah-Barat), Syekh Amat IB, kepada Serambinews.com, Sabtu (18/7/2026).
Baca juga: Jelang Duel Akbar, Puluhan Kelompok Rapai Pase Aceh Utara Gencarkan Latihan
















