Oleh: Mohd. Heikal *)
Pidato Kebangsaan yang inspiratif dari Dr Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI pada Pelantikan Pengurus Daerah Matahari Pagi Indonesia (PW.MPI), Aceh di Anjong Mon Mata beberapa waktu lalu menarik untuk diulas.
Sebelumnya, dalam kesempatan sambil menikmati durian di pinggir Pantai Ulee Lheu dan sambil minum kopi serta menyantap mie aceh di salah satu kedai kopi trendi di Banda Aceh, sosok yang saya kenal sejak tahun 2013 saat kami menjadi peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) di Amerika Serikat banyak bercerita tentang kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mulai dari sosok Presiden Prabowo yang tegas namun menghargai perbedaan dan pandangan hingga lawakannya yang mentereng diceritakan saat Dahnil masih “bersama” Presiden Prabowo dan Sjafrie Sjamsoeddin di Kementerian Pertahanan.
Sejak menjabat Wakil Menteri Haji, Dahnil telah banyak melakukan terobosan dan tak heran jika banyak pihak yang merasa terganggu bisnisnya dengan kebijakan dan tindakan yang diambil.
Dahnil juga menceritakan bagaimana dirinya dan Tim Kementerian Haji melakukan OTT dari pihak-pihak yang selama bertahun-tahun meraup keuntungan finansial ilegal dari jamaah haji yang berangkat ke Tanah Suci dengan menjual properti bahkan memungut rupiah demi rupiah melalui darah dan air mata.
Upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan haji sejak Kementerian ini dibentuk sejalan dengan komitmen penuh Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong perubahan radikal dalam tata kelola ibadah haji.
Baca juga: Menjanda 3 tahun, Dahnil Anzar Simanjuntak langsung menikah lagi dengan Muna Soraya Putri
Langkah ini dilakukan untuk menciptakan sejarah baru sekaligus memastikan kehadiran negara dalam melayani jamaah secara maksimal.
Tentu saja upaya tersebut kini membuahkan hasil sebagaimana situs berita online detikcom (04/07/2026) bertajuk “Komisi VIII Puji Pelayanan Haji 2026: Lebih Baik dari Masa Lalu.
Maka pantaslah Dahnil mengusulkan Presiden Prabowo sebagai Bapak Haji Indonesia.
Maka dari itu menarik untuk membaca hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Menteri Agama Dahnil Anzar Simanjuntak.
Hubungan keduanya tidak hanya mencerminkan kedekatan yang dibangun dalam perjalanan politik, namun juga menunjukkan bagaimana kepercayaan diterjemahkan dalam pembagian peran, pemberian ruang inisiatif, dan tanggung jawab untuk mendukung agenda pemerintah.
Dalam konteks ini, hubungan Presiden dan Wakil Menteri tidak sekadar dipahami sebagai hubungan atasan dan bawahan, melainkan sebagai praktik kepemimpinan yang memanfaatkan modal sosial dan politik untuk meningkatkan efektivitas pemerintahan.
Baca juga: Krisis BBM Ancam Bisnis Angkutan Barang Bangkrut, Pengusaha Terpaksa Naikkan Tarif 100 Persen
Hampir 7 tahun menjabat sebagai juru bicara Prabowo Subianto, tentunya bukan waktu yang singkat bagi Wakil Menteri Kehakiman yang menghabiskan masa mudanya di Aceh Tamiang ini dan mengenal dekat Presiden Prabowo.
Latar belakangnya sebagai akademisi dan aktivis pemuda tentunya harus bisa diseimbangkan dengan Pak Prabowo, seorang militer berpangkat Jenderal dan intelektualitas tinggi.
















