Ringkasan Berita:
- Kementerian Energi Iran mengatakan pada hari Sabtu bahwa pembatasan penggunaan listrik diterapkan untuk menjaga stabilitas pasokan, terutama di provinsi-provinsi selatan yang dilanda gelombang panas dan menghadapi serangan terhadap fasilitas listrik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Langkah ini diperlukan untuk membantu memastikan pasokan listrik tetap stabil di provinsi-provinsi selatan yang saat ini menghadapi suhu ekstrem dan serangan terhadap fasilitas pasokan listrik.
RakyatPos.id – Pemerintah Iran mengeluarkan imbauan darurat kepada seluruh warganya untuk mematikan alat pendingin ruangan (AC) pada jam-jam sibuk setelah serangan Amerika Serikat (AS) diklaim merusak infrastruktur jaringan listrik negara tersebut.
Kementerian Energi Iran mengatakan pada hari Sabtu bahwa pembatasan penggunaan listrik diterapkan untuk menjaga stabilitas pasokan, terutama di provinsi-provinsi selatan yang dilanda gelombang panas dan menghadapi serangan terhadap fasilitas listrik.
“Langkah ini diperlukan untuk membantu memastikan pasokan listrik tetap stabil di provinsi-provinsi selatan yang saat ini menghadapi suhu ekstrem dan serangan terhadap fasilitas pasokan listrik,” kata kementerian dalam pernyataannya, seperti dikutip dari Daily Mail.
Di ibu kota Teheran, suhu udara diperkirakan melebihi 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 38-39 derajat Celcius sepanjang akhir pekan.
Kondisi ini menyebabkan kebutuhan penggunaan AC meningkat tajam sehingga menambah beban jaringan listrik yang terdampak.
Baca juga: Iran membalas serangan AS, menyerang Kuwait dan Bahrain, Selat Hormuz tetap diblokade
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump disebut-sebut telah memerintahkan militer Amerika melancarkan serangan terhadap sejumlah jembatan di wilayah pesisir Iran dekat Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran juga melaporkan sebuah rudal AS menghantam Pulau Qeshm, sebuah lokasi yang diyakini menampung fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai “kota rudal” Iran.
Pemerintah AS juga mengaku telah menembaki sebuah kapal yang dikatakan berusaha menerobos blokade baru yang diberlakukan Washington.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran akan meluas jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Dalam wawancara dengan Fox News, dia mengatakan operasi militer bisa meningkat dalam beberapa hari ke depan.
Menanggapi ancaman tersebut, Iran menyatakan akan membalas dengan menyerang infrastruktur penting di kawasan jika AS kembali menyerang fasilitas vitalnya.
Teheran juga disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup Selat Bab al-Mandeb jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.
Konflik meningkat setelah Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Kuwait pada hari Kamis, menargetkan fasilitas air dan pembangkit listrik sebagai tanggapan atas serangan AS terhadap berbagai infrastruktur Iran, termasuk bandara dan jembatan.
Kuwait, yang bergantung pada pabrik desalinasi air laut untuk sebagian besar kebutuhan air minumnya, melaporkan bahwa sejumlah unit pembangkit listrik rusak akibat serangan tersebut.
Pemerintah Kuwait kemudian mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan listrik untuk mengurangi tekanan pada jaringan listrik nasional yang terkena dampak.
Sejak konflik kembali meningkat, Iran telah melancarkan beberapa serangan drone dan rudal terhadap negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Namun, serangan terhadap infrastruktur ketenagalistrikan Kuwait disebut-sebut merupakan serangan pertama sejak eskalasi terbaru dimulai.

















