RakyatPos.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan bahwa militer AS sedang mempersiapkan serangan baru terhadap salah satu fasilitas nuklir paling rahasia Iran, yaitu kompleks bawah tanah Pickaxe Mountain, yang diklaim berada sekitar 140 meter di bawah permukaan gunung.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Gedung Putih, Selasa (21/7/2026), saat menerima Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Trump menegaskan, operasi militer terhadap lokasi tersebut kemungkinan besar akan dilakukan dalam waktu dekat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jika kita pergi sekarang, Iran memerlukan waktu 20 hingga 25 tahun untuk membangun kembali. Namun kita belum selesai,” kata Trump.
Ia bahkan menyebut kompleks Gunung Beliung akan menjadi sasaran berikutnya.
“Kami akan segera menyerang daerah itu, dengan sangat keras, dan tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya,” katanya.
Ancaman Trump muncul setelah laporan intelijen Israel mengatakan Iran telah memindahkan ribuan sentrifugal ke kompleks bawah tanah sejak musim gugur lalu.
Menurut laporan The Wall Street Journal, transfer tersebut dilakukan sebagai upaya Teheran melindungi program nuklirnya setelah sejumlah fasilitas nuklir Iran terkena serangan udara Amerika Serikat pada tahun lalu.
Pejabat AS dan Israel yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan bahwa sentrifugal tersebut ditempatkan di terowongan yang digali sekitar 140 meter di bawah batuan padat, sehingga lebih sulit dijangkau dibandingkan fasilitas pengayaan uranium Fordow.
Namun hingga saat ini belum ada bukti bahwa Iran telah melakukan pengayaan uranium di lokasi tersebut.
Fasilitas Rahasia yang Belum Pernah Diperiksa IAEA
Gunung Beliung, yang dikenal dalam bahasa Persia sebagai Kuh-e Kolang Gaz La, terletak di dekat fasilitas nuklir Natanz, sekitar 217 kilometer selatan Teheran.
Iran pertama kali mengakui pembangunan fasilitas tersebut kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Oktober 2020.
Teheran saat itu menyatakan kompleks tersebut dibangun untuk menggantikan pabrik perakitan centrifuge Natanz yang rusak akibat ledakan yang diduga merupakan aksi sabotase Israel.
Namun citra satelit menunjukkan proyek tersebut berkembang menjadi kompleks bawah tanah berskala besar dengan banyak pintu masuk terowongan, sistem keamanan berlapis, dan bangunan pendukung yang dibangun di lereng gunung.
Hingga saat ini Iran tidak pernah mengizinkan inspektur IAEA memasuki kompleks tersebut sehingga isi fasilitas tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.
















