Oleh: Rosadi Jamani
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
HANYA dua hari yang lalu tahun ajaran baru dimulai. Baru dua hari seragam sekolah harum saat disetrika, tas-tas baru digendong dengan bangga di pundak, dan para orang tua mengantar anaknya sambil berbisik dalam hati, “Semoga kamu pulang sehat, Nak.”
Namun doanya batal lagi sebelum bisa mencapai surga. Di Jember, harapan kembali runtuh pada omprengan yang seharusnya menjadi simbol kasih sayang negara.
Lagi. Kata singkat itu terasa lebih menakutkan dari berita apapun. Karena itu berarti satu hal, tragedi yang terjadi tidak pernah benar-benar selesai.
Padahal semuanya diklaim telah berubah. Pejabat tinggi Badan Gizi Nasional (BGN) mengalami pergantian. Evaluasi besar telah diumumkan. Pengawasan diperketat. Tata kelola telah diperbaiki. Prosedur ditingkatkan.
Janji-janji baru jatuh bagaikan hujan di musim hujan. Masyarakat percaya bahwa babak gelap keracunan MBG telah ditutup. Ternyata hanya halaman berita saja yang ditutup.
Jumat 17 Juli 2026, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari, kembali mencatatkan cedera yang sama. Sebanyak 29 orang; Anak-anak TK, siswa SD, balita posyandu, bahkan lansia menjadi korban keracunan setelah menyantap menu MBG.
Nasi putih, orak-arik tempe, tumisan, anggur dan telur puyuh. Menu di atas kertas terdengar sederhana dan bergizi, namun ternyata menjadi tiket menuju ruang perawatan.
Seorang ibu, Siti Munawaroh pun menikmati bekal makan siang anaknya. Dia mencium aroma yang tidak biasa dari telur puyuh. Baunya menyengat, seperti ada sesuatu yang seharusnya sudah lama dibuang.
Segera tubuhnya menyerah. Diare parah, mual, pusing dan lemas melanda tanpa ampun. Korban lainnya juga mengalami penderitaan serupa.
Ambulans kembali menderu di sore hari. Puskesmas Sukorejo, Klinik Rowotamtu, dan Puskesmas Paleran dipenuhi oleh tubuh-tubuh kecil yang seharusnya belajar mengeja huruf, bukan belajar menahan rasa sakit.
Pemandangan itu sungguh menyayat hati. Anak-anak yang tadi pagi tertawa-tawa di halaman sekolah, hanya mampu memeluk perut dan menangis di sore harinya.
Para orang tua yang semula menunggu cerita tentang pelajaran pertama, malah menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah penuh kecemasan. Tak ada yang lebih menyedihkan dari melihat seorang ibu menggandeng tangan anaknya sambil berharap rasa sakitnya berpindah ke tubuhnya sendiri.
Bukankah ini pernah terjadi sebelumnya?
Kaliwates punya. Umbulsari pernah. Kini Karangsono menyusul. Tragedi ini seolah-olah baru saja berpindah alamat. Sementara itu, akar permasalahannya masih hidup. Yang berubah hanyalah nama desa dan tanggal di kalender. Selebihnya terasa seperti naskah lama yang terus diputar tanpa malu-malu.
SPPG Jember Bangsalsari Karangsono, RT 002 RW 007, Dusun Begelenan, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari kini dihentikan sementara. Kata “sementara” kembali menjadi obat penenang terdengar semakin hambar.
Karena orang sudah terlalu sering mendengarnya. Setelah itu biasanya dilakukan evaluasi, rapat, konferensi pers, lalu perlahan-lahan semuanya tenggelam hingga muncul kembali berita keracunan berikutnya.
Inilah ironi yang paling menyakitkan. Program yang lahir dengan nama “Makanan Bergizi Gratis” ini berulang kali membawa trauma bagi anak-anak yang paling membutuhkan perlindungan. Mereka datang ke sekolah dengan mimpi, namun pulang dengan membawa cairan infus. Mereka ingin belajar mengejar impiannya, namun pertama-tama mereka terpaksa melawan rasa mual dan sakit perut.
Semoga semua korban cepat pulih. Namun lebih dari itu, semoga ini benar-benar tragedi terakhir. Sebab jika setelah pergantian pejabat, evaluasi total, dan segala janji perbaikan, cerita seperti ini terus terulang, maka yang sakit bukan sekedar makanan di omprengan. Yang sakit adalah keimanan masyarakat yang setiap hari kehilangan tenaga untuk berharap.
“Bro, bukankah pemilik SPPG belajar dari keracunan sebelumnya? Seharusnya sudah tidak ada lagi.”
“Mereka hanya mengincar keuntungan. Bodoh sekali jika seseorang diracuni.”
Jurnalis senior
















