RakyatPos.id – Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ubedilah Badrun menilai narasi Rocky Gerung yang menyebut Presiden Prabowo Subianto menerapkan sosialisme Indonesia tidak tepat. Menurut Ubedilah, narasi tersebut sebenarnya bisa dibaca sebagai cara Rocky Gerung menutupi atau melindungi posisi politiknya terhadap pemerintahan Prabowo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ubedilah bahkan menyebut Rocky Gerung sebagai “antek Prabowo”, meski istilah itu ia sampaikan dalam tanda petik dan sebagai penilaian politik, bukan fakta hukum.
Pernyataan tersebut disampaikan Ubedilah saat menanggapi perdebatan mengenai pandangan Rocky Gerung yang menyebut pemerintahan Prabowo menerapkan sosialisme Indonesia. Menurut Ubedilah, permasalahan utamanya terletak pada sosialisme seperti apa yang dimaksud dan apakah praktik pemerintahan Prabowo benar-benar bisa dikategorikan sebagai praktik sosialis.
“Rocky Gerung mau bantah kalau dia yang di tanda kutip adalah kaki tangan Prabowo. Dari penuturannya dia menunjukkan bahwa saya mendukung Prabowo karena Prabowo yang di tanda petik menerima atau mengikuti ideologi yang saya maksud sosialisme,” kata Ubedilah di kanal YouTube Madilog Justice Forum, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, cara berpikir Rocky Gerung menunjukkan Rocky masih memandang Prabowo dari sudut pandang ketika Prabowo masih muda. Padahal, kata Ubedilah, penilaian terhadap seorang pemimpin politik tidak boleh berhenti pada gagasan atau pengalaman masa lalunya saja, melainkan harus dilihat dari praktik kekuasaan yang ada saat ini.
“Rocky terjebak kognisi ketika Prabowo masih muda. Seharusnya Rocky Gerung mengkritik praktik militerisme, fasisme, kekerasan dan sebagainya karena itu yang ditolak oleh sosialisme demokratis,” ujarnya.
Ubedilah menilai narasi Rocky Gerung yang menyebut Prabowo sebagai sosialis secara konseptual bermasalah. Ia mempertanyakan kategori sosialisme yang digunakan Rocky dalam membaca kebijakan pemerintahan Prabowo.
Menurut Ubedilah, sikap Prabowo tidak bisa begitu saja dimasukkan ke dalam kategori sosialisme hanya karena pemerintah menjalankan sejumlah program yang memiliki terminologi atau bentuk yang bersinggungan dengan gagasan sosialisme.
“Benarkah Presiden Prabowo Subianto sosialis? Kalau benar sosialismenya seperti apa? Jalannya yang mana dan konteksnya siapa?” kata Ubedilah.
Ia mengatakan, terdapat berbagai tradisi dalam pemikiran sosialis, mulai dari sosialisme utopis, sosialisme ilmiah, sosialisme demokratis, hingga yang disebutnya sosialisme borjuis.
Karena itu, Ubedilah menilai terlalu simplistik jika menjadikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih sebagai landasan untuk menyimpulkan pemerintahan Prabowo menerapkan sosialisme.
“Aneh kalau kemudian hanya karena mendirikan MBG, lalu mendirikan Koperasi Merah Putih, dianggap wajah sosialisme. Saya rasa tidak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ubedilah menduga narasi mengenai “sosialisme Prabowo” merupakan bentuk produksi wacana politik yang digunakan Rocky Gerung untuk menjelaskan dan melindungi posisi politiknya.
Menurut Ubedilah, Rocky tak mungkin terang-terangan mengaku mendukung Prabowo. Karena itu, ia menilai Rocky menggunakan argumentasi ideologis dengan menempatkan kebijakan Prabowo dalam kerangka sosialisme.
Saya melihat ini adalah produksi narasi yang dibuat oleh Rocky Gerung sebagai perlindungan dari sikap politiknya. Karena jika kita membongkar narasi bahwa Prabowo menerapkan sosialisme, menurut saya tidak sepenuhnya benar, kata dia.
Ubedilah menilai, jika Rocky Gerung ingin mempertahankan tesis yang menyebut Prabowo menerapkan sosialisme, maka harus ada penjelasan lebih konkrit terkait karakter sosialisme.
“Rocky Gerung mau bantah kalau dia yang diberi tanda kutip adalah kaki tangan Prabowo. Tidak mungkin dia menjelaskan posisi itu. Makanya dia kemudian mengemas posisi politiknya dengan bersembunyi di balik narasi sosialisme yang diusung Prabowo,” kata Ubedilah.
Ubedilah kemudian mempertanyakan kesesuaian klaim sosialisme dengan kekuasaan dan praktik perekonomian yang terjadi di Indonesia.
Menurutnya, struktur perekonomian Indonesia saat ini masih menunjukkan karakter kapitalisme. Oleh karena itu, ia menilai klaim pemerintahan Prabowo menerapkan sosialisme memerlukan bukti yang jauh lebih kuat.
Sedangkan praktik kekuasaan dan praktik ekonomi yang berjalan di republik ini sebenarnya adalah kapitalisme, kata Ubedilah.
Ia kembali menegaskan, adanya program pemerintah yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rakyat tidak serta merta menjadikan suatu pemerintahan menjadi pemerintahan sosialis.
Apalagi kalau kemudian kita jelaskan apa itu sosialisme, generasi siapa, idenya dari mana. Tidak bisa asal menunjuk MBG dan Koperasi Merah Putih lalu menyimpulkan bahwa Prabowo menerapkan sosialisme, tutupnya.



















