Purbaya Pergi, Hasil Datang: Siapa yang Kendalikan Rem APBN?

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 15:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


OLEH: AGUNG NUGROHO*

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

PERGANTIAN Menteri Keuangan bukan sekadar pergantian pejabat. Di belakang Ketua Menteri Keuangan terdapat pengendalian APBN mulai dari penerimaan negara, belanja, defisit, pembiayaan hingga utang.

Oleh karena itu, ketika Purbaya Yudhi Sadewa digantikan oleh Suahasil Nazara, masyarakat harus melihat lebih jauh dari sekedar pergantian nama. Pertanyaan yang paling penting adalah: apakah pemerintah mengubah arah kebijakan fiskalnya?

Pertanyaan ini menjadi lebih menarik bila ditempatkan pada konteks kebutuhan pemerintah akan ruang fiskal yang besar.

Negara harus membiayai pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, infrastruktur, pangan, energi, industrialisasi dan berbagai program prioritas lainnya.

Namun pada saat yang sama, kemampuan fiskal suatu negara mempunyai batas. Keinginan belanja pemerintah tidak boleh lepas dari kemampuan penerimaan negara.

Di sinilah posisi Menteri Keuangan menjadi sangat strategis. Menteri Keuangan pada dasarnya harus bisa menjalankan dua fungsi sekaligus: tancap gas saat perekonomian butuh dorongan, tapi tancap rem saat APBN mulai kehilangan keseimbangan.

Mengerem terlalu keras dapat menyebabkan pertumbuhan kehilangan momentum. Di sisi lain, menekan gas secara berlebihan tanpa dukungan pendapatan dapat meningkatkan defisit dan kebutuhan pembiayaan.

Dalam konteks inilah polemik kewajiban simpanan Danantara sebesar Rp 120 triliun menjadi penting untuk dibaca.

Purbaya sebelumnya mengungkapkan, ada riak penolakan dari Danantara terkait rencana pemotongan sebagian keuntungan lembaga investasi tersebut untuk membantu menutupi penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP.

Purbaya bahkan menyebut Danantara sempat protes dan mengaku tidak mengetahui kewajiban titipan tersebut.

Di sisi lain, Purbaya menegaskan, Rp. Angka Rp 120 triliun merupakan komitmen pimpinan Danantara kepada Presiden Prabowo Subianto yang kemudian diturunkan menjadi perintah eksekutif.

Jika informasi ini dibaca dalam kerangka pengelolaan fiskal, permasalahan tidak berhenti pada angka Rp 120 triliun. Yang lebih penting adalah bagaimana koordinasi antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Danantara berjalan ketika negara membutuhkan tambahan ruang fiskal.

Sebab ketika penerimaan negara menghadapi tekanan, setiap sumber pendanaan menjadi penting untuk menjaga APBN tetap memiliki bantalan.

Dinamika tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai tingkat kepuasan Presiden terhadap komunikasi dan koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Danantara.

Apalagi, kebutuhan untuk memastikan dana tersebut masuk dalam pengelolaan fiskal pemerintah berkaitan langsung dengan kemampuan APBN dalam membiayai berbagai agenda negara.

Namun, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa polemik Danantara menjadi satu-satunya penyebab pergantian Menteri Keuangan.

Reshuffle merupakan keputusan politik Presiden yang dapat dipengaruhi oleh banyak pertimbangan. Lebih amannya, polemik ini menunjukkan permasalahan yang lebih besar: pengelolaan fiskal memerlukan koordinasi yang solid antara seluruh lembaga yang menguasai atau mengelola sumber daya keuangan negara.

Di sinilah peralihan dari Purbaya ke Suahasil menjadi menarik. Suahasil bukanlah orang baru di bidang fiskal. Pengalaman panjangnya di Kementerian Keuangan, termasuk sebagai Wakil Menteri Keuangan, membuatnya memahami bagaimana kebijakan fiskal dirancang dan dilaksanakan.

Pengalaman ini dapat menjadi modal penting untuk memperkuat koordinasi kebijakan fiskal pemerintah.

Namun pengalaman saja tidak serta merta menyelesaikan masalah. Tantangan Suahasil adalah memastikan APBN tetap mampu membiayai agenda pemerintah tanpa membuat ruang fiskal semakin sempit.

Sebab setiap tambahan belanja pada akhirnya harus dibayar melalui penerimaan atau pembiayaan negara. Jika pendapatan tidak tumbuh secara seimbang, ketergantungan terhadap pembiayaan, termasuk utang, akan semakin besar.

Utang sendiri bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebagai dosa fiskal. Negara memang bisa menggunakan utang untuk membiayai pembangunan, apalagi bila dana tersebut menghasilkan kegiatan produktif, memperkuat perekonomian, dan pada akhirnya meningkatkan kapasitas penerimaan negara.

Permasalahan muncul ketika utang tumbuh lebih cepat dibandingkan kemampuan perekonomian dan penerimaan negara dalam menanggung dampaknya.

Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa besar utang yang dimiliki Indonesia, namun juga untuk apa utang tersebut digunakan dan berapa besar APBN yang harus dibayarkan setiap tahunnya.

Semakin besar kebutuhan pembiayaan, semakin penting kemampuan pemerintah untuk mempertahankan biaya utang. Jika pembayaran bunga menghabiskan porsi anggaran yang semakin besar, maka ruang untuk membiayai layanan publik dan pembangunan produktif akan semakin terbatas.

Jadi, salah satu pekerjaan terbesar Suahasil adalah memperkuat sisi penerimaan negara.

Pemerintah memerlukan reformasi perpajakan yang tidak sekadar mengejar wajib pajak yang sudah patuh, namun memperluas basis pajak, meningkatkan kepatuhan, menutup kesenjangan kebocoran, meningkatkan kualitas administrasi, dan mengoptimalkan penerimaan negara bukan pajak.

Di sinilah posisi Danantara juga menjadi bagian dari persoalan fiskal yang lebih luas.

Jika lembaga tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi pendapatan atau mendukung kapasitas pembiayaan negara, maka mekanisme hubungan antara Danantara dan APBN harus jelas.

Siapa yang menetapkan sasaran, bagaimana mekanisme penyetorannya ditentukan, bagaimana penghitungannya, dan bagaimana koordinasinya dilakukan harus memiliki dasar dan tata kelola yang transparan.

Jangan sampai kebutuhan fiskal yang mendesak justru menimbulkan ambiguitas antarlembaga.

APBN memerlukan kepastian, sedangkan lembaga pengelola investasi negara memerlukan tata kelola yang memungkinkan aset dan modal dikelola secara produktif. Kebutuhan APBN jangka pendek tidak boleh mengorbankan kemampuan negara dalam mengembangkan sumber pendapatan jangka panjang.

Oleh karena itu, peningkatan pendapatan juga harus dilakukan secara hati-hati. Jangan sampai negara mengejar target pendapatan dengan memberikan tekanan berlebihan kepada dunia usaha dan masyarakat.

Pendapatan yang sehat harus tumbuh seiring dengan aktivitas ekonomi. Ketika investasi, produksi, konsumsi, dan lapangan kerja tumbuh, maka basis penerimaan negara menjadi lebih kuat.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas belanja. APBN yang besar belum tentu berarti APBN efektif. Yang lebih penting adalah apakah setiap dolar anggaran menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan berdampak pada produktivitas perekonomian.

Belanja yang tidak produktif hanya akan meningkatkan kebutuhan pembiayaan tanpa memperkuat kemampuan negara dalam menghasilkan pendapatan di masa depan.

Di sinilah keseimbangan menjadi kata kuncinya. Pemerintah memerlukan ekspansi fiskal yang cukup ekspansif untuk mendorong pertumbuhan, namun ekspansi tersebut harus mempunyai batasan yang jelas.

Pengeluaran harus produktif, pendapatan harus diperkuat, defisit harus dijaga, dan pembiayaan harus dikelola secara hati-hati. Keempat hal tersebut tidak dapat dipisahkan.

Pergantian Menteri Keuangan juga akan menjadi perhatian pasar. Pasar keuangan akan melihat apakah kebijakan fiskal pemerintah tetap kredibel.

Bukan nama menteri yang menjadi ukuran utama, melainkan bagaimana pemerintah mengelola defisit, menerbitkan surat utang, menjaga biaya pembiayaan, mengelola sumber pendapatan, dan memastikan kemampuan membayar kewajiban tetap kuat.

Oleh karena itu, masih terlalu dini untuk segera menganggap peralihan dari Purbaya ke Suahasil sebagai tanda bahwa pemerintah sedang mengerem atau benar-benar meningkatkan ekspansi fiskal.

Jawabannya hanya akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Angka APBN akan menjadi alat ukur yang jauh lebih obyektif dibandingkan berbagai spekulasi politik.

Masyarakat bisa menilai dari beberapa indikator sederhana: apakah penerimaan negara meningkat, apakah defisit terkendali, apakah beban bunga dapat dipertahankan, apakah utang digunakan untuk kegiatan produktif, apakah aset negara dikelola secara maksimal, dan apakah belanja pemerintah mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Pada akhirnya, Suahasil tak hanya mewarisi kursi Menteri Keuangan. Ia mewarisi tugas besar menjaga keseimbangan antara ambisi pembangunan dan kemampuan fiskal negara.

Ia juga harus memastikan koordinasi fiskal tidak berhenti di Kementerian Keuangan saja, namun berjalan efektif dengan seluruh lembaga yang berperan dalam pengelolaan sumber daya perekonomian negara, termasuk Danantara.

Purbaya bisa pergi, Suahasil bisa datang. Namun persoalan APBN tidak berubah. Defisit tetap harus dikendalikan, utang tetap harus dibayar, bunga tetap harus ditanggung, penerimaan negara harus tetap diupayakan, dan koordinasi antar lembaga harus ditingkatkan.

Oleh karena itu, pertanyaan utamanya bukanlah siapa yang duduk di kursi Menteri Keuangan. Pertanyaannya jauh lebih mendasar: mampukah Suahasil menjaga APBN Indonesia tetap maju tanpa kehilangan kendali?

Sebab fiskal yang sehat bukanlah APBN yang mampu membiayai banyak program begitu saja. Fiskal yang sehat adalah APBN yang mampu membiayai pembangunan saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam membiayai masa depannya sendiri.

*Direktur Jakarta Institute

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Pasca kasus KPK mencuat, Nusron Wahid dan Raja Juli didesak keluar Kabinet
Prabowo Ingatkan Pejabat Negara Akan Tugasnya: Kalau Tak Bisa Mundur!
Kekuatan percakapan: Podcast David Brooks baru membahas bagaimana menemukan tujuan dan makna dalam hidup
Jari 98: Pencopotan Menteri Keuangan Jangan sampai membuat masyarakat kehilangan fokus mengawal kasus eks Jampidsus
Meroketnya harga bahan bakar memicu protes di seluruh dunia
Purbaya tidak pernah terlibat dalam kunjungan presiden ke luar negeri selama menjabat Menteri Keuangan
Tak Ganti Kapolri, Selamat Ginting: Prabowo Peduli Anak Macan yang Akan Menerkam
Liar! Sopir Travel Disandera OPM & Dipaksa Bikin Video Dukung Papua Merdeka Lalu Ditembak!

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 19:18 WIB

Pasca kasus KPK mencuat, Nusron Wahid dan Raja Juli didesak keluar Kabinet

Rabu, 16 September 2026 - 19:08 WIB

Prabowo Ingatkan Pejabat Negara Akan Tugasnya: Kalau Tak Bisa Mundur!

Rabu, 16 September 2026 - 19:07 WIB

Kekuatan percakapan: Podcast David Brooks baru membahas bagaimana menemukan tujuan dan makna dalam hidup

Rabu, 16 September 2026 - 18:54 WIB

Jari 98: Pencopotan Menteri Keuangan Jangan sampai membuat masyarakat kehilangan fokus mengawal kasus eks Jampidsus

Rabu, 16 September 2026 - 18:32 WIB

Meroketnya harga bahan bakar memicu protes di seluruh dunia

Berita Terbaru

HEADLINE

Meroketnya harga bahan bakar memicu protes di seluruh dunia

Rabu, 16 Sep 2026 - 18:32 WIB

Al Jazeera - LIVE