RakyatPos.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter (M) yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) terus bertambah. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB, tercatat 75 orang tewas dan 907 orang luka-luka.
Dimana kemarin kita laporkan 71 orang, hari ini bertambah 4 orang, rinciannya di Kabupaten Sikka bertambah 2 orang, Kabupaten Manggarai bertambah 1 orang, Nagekeo bertambah 1 orang,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan dalam konferensi pers, Kamis (20/8/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berton menambahkan, BNPB juga mencatat jumlah korban luka bertambah sembilan orang. Sebelumnya, jumlah korban luka tercatat 898 orang dan kini menjadi 907 orang. Korban luka tambahan semuanya berasal dari Kabupaten Ngada.
Begitu pula korban luka-luka sebanyak 907 orang, dari semula 898 orang. Hari ini ada tambahan data sebanyak 9 orang yang berasal dari Kabupaten Ngada, ujarnya.
Berton menyampaikan belasungkawa kepada para korban yang jatuh dalam musibah gempa tersebut. Ia pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan kerabat korban.
“Sekali lagi kami menyampaikan belasungkawa yang sebesar-besarnya kepada keluarga, pekerja jalan tol, tetangga, seluruh kenalan dan seluruh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi juga meningkat seiring terus terjadi gempa susulan dengan kekuatan yang relatif besar. BNPB mencatat, kini ada 92.735 orang yang mengungsi. Jumlah tersebut bertambah 33.088 orang dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 59.647 orang.
Penambahan pengungsi terbesar terjadi di Kabupaten Nagekeo sebanyak 21.883 orang, Kabupaten Manggarai sebanyak 9.649 orang, dan Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1.556 orang.
Selain korban jiwa dan pengungsi, BNPB juga memperbarui data kerusakan rumah akibat gempa. Hingga saat ini, tercatat 36.163 unit rumah rusak.
Berton mengatakan, peningkatan jumlah rumah rusak juga dipengaruhi oleh proses pendataan yang semakin akurat. Data rumah rusak bertambah 7.187 unit dari rekor sebelumnya.
“Untuk rumah rusak, menurut data kami ada 36.163 unit. Ini bertambah dalam catatan kami karena pendataan semakin akurat ada 7.187 unit,” kata Berton.



















