Gubernur Maluku Walpri Sebut Pelajar “Monyet”, Wajarkah Kalau Minta Maaf Saja?

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


RakyatPos.id — Upaya mahasiswa asal Pegunungan Seram Utara menyampaikan aspirasinya kepada Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa justru berujung polemik. Bukan isi aspirasinya yang menjadi sorotan, melainkan ucapan “monyet” yang terdengar dari seorang petugas keamanan gubernur saat hendak mendekati kepala daerah.

Peristiwa itu terjadi usai Upacara Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka, Ambon, Senin (17/8/2026). Rekaman video kejadian tersebut kemudian viral di media sosial dan menuai kritik masyarakat.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang mahasiswa bernama Wili Ropena dan sejumlah rekannya datang membawa aspirasi masyarakat pedalaman Pulau Seram. Mereka membawa surat Adat Lama Negeri Manusela yang diletakkan di atas ruas bambu dan dibungkus dengan kain berwarna merah.

Namun langkah mahasiswa yang hendak mendekati Hendrik Lewerissa dihadang petugas keamanan. Dalam video yang beredar, terdengar seorang pria yang disebut sebagai pengawal pribadi atau ajudan gubernur melontarkan kata “monyet” kepada salah satu mahasiswa.

Sejumlah laporan lokal mengidentifikasi pria tersebut sebagai Rohim atau Rahim.

Ucapan tersebut sontak menjadi pokok polemik. Kritik muncul karena kata-kata tersebut dinilai kurang tepat, terutama ditujukan kepada mahasiswa yang berusaha menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pejabat publik.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon bahkan mengecam kejadian tersebut. GMKI memberi waktu 1×24 jam kepada Pemprov Maluku untuk memberikan klarifikasi.

GMKI menilai, melindungi gubernur adalah bagian dari tugas yang bisa dimaklumi. Namun, prosedur keamanan tidak boleh dijadikan alasan untuk melontarkan pernyataan yang bersifat menghina.

Ajudan Mengakui dan Meminta Maaf

Di tengah derasnya kritik, Rahim akhirnya buka suara. Ia mengaku memang mengucapkan kata “monyet” kepada siswa tersebut.

Rahim mengatakan, pernyataan itu muncul secara spontan saat dirinya sedang menjalankan tugas pengamanan gubernur. Saat kejadian, Hendrik Lewerissa sedang diwawancarai awak media usai meninggalkan lokasi upacara.

Menurut Rahim, sekitar enam orang kemudian merapat ke gubernur. Salah satunya membawa sebuah benda yang saat itu belum diketahui identitas dan tujuannya.

Benda tersebut ternyata adalah bambu yang digunakan untuk membawa surat-surat Adat Lama Negeri Manusela.

Rahim mengaku menduga benda tersebut berpotensi merugikan gubernur. Ia juga mengatakan, pihaknya meminta mahasiswa menyerahkan surat melalui prosedur resmi di Kantor Gubernur Maluku dan tidak menyerahkannya langsung di lokasi.

Namun, mahasiswa tersebut disebut terus berusaha mendekati gubernur. Dalam situasi itulah pernyataan yang kini viral dilontarkan.

Memang saya akui dan minta maaf, ucapan monyet tersebut saya ucapkan kepada oknum yang bersangkutan karena spontanitas, kata Rahim seperti dikutip Rabu (19/8/2026).

Rahim menegaskan, pernyataan tersebut ditujukan kepada individu yang terlibat dalam peristiwa tersebut dan bukan kepada masyarakat adat atau kelompok tertentu.

Antara Protokol dan Hak Menyampaikan Aspirasi

Polemik ini kini tak lagi sebatas ucapan seorang petugas keamanan. Peristiwa tersebut membuka perdebatan yang lebih luas mengenai batasan antara melindungi pejabat negara dan hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya.

Di satu sisi, petugas keamanan mempunyai kewajiban untuk menjamin keselamatan kepala daerah, terutama saat gubernur sedang berada di tengah kerumunan. Namun di sisi lain, mahasiswa dan masyarakat mempunyai ruang untuk menyampaikan aspirasinya kepada pejabat publik dengan tertib.

Permintaan maaf Rahim merupakan perkembangan terkini dari polemik tersebut. Namun, viralnya video tersebut membuat masalah tersebut belum terselesaikan sepenuhnya.

Masyarakat kini menantikan sikap Pemprov Maluku, tidak hanya terkait pernyataan yang telah diakui dan dimintai maaf tersebut, namun juga bagaimana pemerintah memastikan keamanan kepala daerah tetap berjalan tanpa mengabaikan rasa hormat terhadap mahasiswa dan masyarakat yang menyampaikan aspirasinya.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Dua Calon Ketua DPD Demokrat Aceh Dilantik, Ini Namanya
Juara angkat besi Kanada April Hutchinson memimpin reli Sophie Cunningham pertama di luar AS
Cara Membuat Token Solana Tanpa Coding: Panduan Praktis 2026
Waspadai SIM SWAP
VIDEO Nas and Sons Billiards & Café hadir mewarnai hiburan di Banda Aceh
Kirim Kapal RS ke NTT, Kasad: Penanggulangan Bencana Harus “Nafas Panjang”
Kepala Inspektorat Banda Aceh Ditangkap Saat Melakukan Hubungan Sesama Jenis di Kantor
Suku bunga hipotek turun menjadi 6,67%: Freddie Mac

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:37 WIB

Dua Calon Ketua DPD Demokrat Aceh Dilantik, Ini Namanya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:21 WIB

Juara angkat besi Kanada April Hutchinson memimpin reli Sophie Cunningham pertama di luar AS

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:19 WIB

Cara Membuat Token Solana Tanpa Coding: Panduan Praktis 2026

Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:12 WIB

Waspadai SIM SWAP

Rabu, 19 Agustus 2026 - 22:52 WIB

VIDEO Nas and Sons Billiards & Café hadir mewarnai hiburan di Banda Aceh

Berita Terbaru

HEADLINE

Dua Calon Ketua DPD Demokrat Aceh Dilantik, Ini Namanya

Rabu, 19 Agu 2026 - 23:37 WIB

HEADLINE

Cara Membuat Token Solana Tanpa Coding: Panduan Praktis 2026

Rabu, 19 Agu 2026 - 23:19 WIB

HEADLINE

Waspadai SIM SWAP

Rabu, 19 Agu 2026 - 23:12 WIB

Al Jazeera - LIVE