Nelayan Asli Papua Berharap Perhatian Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan

- Jurnalis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Teminabuan, RakyatPos.id – Nelayan asli Papua di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya berharap adanya perhatian dari pemerintah kabupaten (Pemkab), khususnya terkait kondisi laut sekitar yang kini tercemar sampah serta bantuan penangkapan ikan yang dibutuhkan nelayan.

Salah satu nelayan asli Papua di Kabupaten Sorong Selatan, Michael Thesia mengatakan, sampah plastik yang mencemari laut semakin terlihat, dan berdampak pada penghidupan nelayan tradisional di kawasan pesisir Teminabuan.

“Dulu kalau datang ke sini pasti pulang membawa ikan, kepiting, dan hasil laut lainnya. Sekarang, sebelum dapat ikan, sampah plastik yang ada di jaring harus dikeluarkan terlebih dahulu. Situasinya hampir setiap hari. Ini yang kami rasakan sebagai nelayan setempat,” kata Michael Thesia RakyatPos.id di Muara Saflas, Sabtu (25/7/2026).

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut dia, pencemaran wilayah laut di wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan nelayan. Namun, hal tersebut menggambarkan situasi lingkungan yang semakin memburuk di wilayah tersebut.

Oleh karena itu, pemerintah kabupaten diharapkan memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini. Sebab, para nelayan di sana menggantungkan penghidupannya pada laut.

“Setiap kita memasang jaring di kawasan Muara Saflas, saat kita angkat jaring justru sampah plastik yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan hasil tangkapan,” ujarnya.

Dikatakannya, keadaan tersebut berbeda dengan kondisi Muara Saflas puluhan tahun lalu ketika Teminabuan masih berstatus kabupaten. Saat itu kawasan ini masih menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, udang dan biota lainnya yang mudah ditemukan tanpa harus berlayar jauh.

Saat itu, para nelayan sedang mencari ikan di Muara Saflas. Mereka tidak perlu pergi jauh ke laut. Namun keadaan tersebut kini telah berubah, ikan semakin sulit ditemukan karena tumpukan sampah yang semakin banyak dan habitat ikan yang perlahan menghilang dari kawasan tersebut.

Selain itu, kata Michael Thesia, nelayan lokal Papua di Kabupaten Sorong Selatan juga menghadapi tantangan lain, dengan masuknya nelayan dari luar daerah dengan menggunakan perahu yang lebih besar, dilengkapi peralatan penangkapan ikan yang jauh lebih modern dibandingkan miliknya.

“Sekarang banyak nelayan non asli Papua yang datang menggunakan perahu besar, alat tangkapnya lebih modern. Sedangkan kami nelayan lokal masih menggunakan perahu kayu kecil dan mendayung secara manual.

Dikatakannya, karena ikan di sekitar Muara Saflas semakin berkurang akibat laut yang tercemar dan adanya nelayan dari luar, pihaknya terpaksa mencari daerah penangkapan ikan yang lebih jauh.

Namun keterbatasan armada membuat nelayan setempat kesulitan melaut lebih jauh dari Muara Saflas secara rutin.

“Kami harus mendayung berjam-jam. Itu sangat melelahkan dan berisiko. Makanya sekarang kami hanya melaut pada waktu-waktu tertentu.”

Ia juga berharap Pemkab Sorong Selatan memberikan perhatian lebih serius terhadap nelayan tradisional Papua di wilayahnya, terutama memberikan bantuan perahu bermotor, alat tangkap yang memadai, dan program pemberdayaan yang tepat sasaran.

Michael Thesia mengatakan, pihaknya tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Hanya berharap pemerintah membantu perahu atau mesin tempel, sehingga nelayan lokal Papua di sana bisa menangkap ikan lebih jauh dan bersaing dengan nelayan yang menggunakan peralatan modern.

“Kami juga berharap pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan pesisir dan muara sungai. Pencemaran sampah plastik tidak hanya merusak keindahan kawasan pesisir, tetapi juga mengancam habitat ikan dan penghidupan masyarakat yang bergantung pada hasil laut,” ujarnya.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

450 Penyuluh Pertanian Se-Aceh Dilantik, Aceh Besar Dorong Percepatan Swasembada Pangan
Wagub Geley: Pengelolaan SDA Harus Berbasis Keadilan bagi OAP
Beberapa pelanggan Amazon Prime menghadapi batas waktu 27 Juli untuk mengklaim hingga $51
Febrie Diduga Terlibat TPPU Saat Menjabat Jaksa
Peminjam Pinjaman Pelajar Menghadapi Aturan Pembayaran Baru
Iran Laporkan Tidak Ada Serangan Baru dari AS, Ketegangan di Kawasan Teluk Masih Tinggi
Tuntutan masyarakat Nduga sudah disampaikan kepada pimpinan DPRK
Gubernur New York Kathy Hochul menjelaskan mengapa dia menandatangani moratorium pusat data pertama di seluruh negara bagian

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 19:06 WIB

450 Penyuluh Pertanian Se-Aceh Dilantik, Aceh Besar Dorong Percepatan Swasembada Pangan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:54 WIB

Wagub Geley: Pengelolaan SDA Harus Berbasis Keadilan bagi OAP

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:47 WIB

Beberapa pelanggan Amazon Prime menghadapi batas waktu 27 Juli untuk mengklaim hingga $51

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:32 WIB

Febrie Diduga Terlibat TPPU Saat Menjabat Jaksa

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:13 WIB

Peminjam Pinjaman Pelajar Menghadapi Aturan Pembayaran Baru

Berita Terbaru

HEADLINE

Wagub Geley: Pengelolaan SDA Harus Berbasis Keadilan bagi OAP

Sabtu, 25 Jul 2026 - 18:54 WIB

HEADLINE

Febrie Diduga Terlibat TPPU Saat Menjabat Jaksa

Sabtu, 25 Jul 2026 - 18:32 WIB

HEADLINE

Peminjam Pinjaman Pelajar Menghadapi Aturan Pembayaran Baru

Sabtu, 25 Jul 2026 - 18:13 WIB