Hanya Dalam Dua Dekade, 11 Juta Ha Hutan Primer Indonesia Hilang – Tribun Rakyat

- Jurnalis

Kamis, 8 Januari 2026 - 23:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengawasan Hutan Global (GFW) menyatakan Indonesia kehilangan sekitar 11 juta hektar hutan primer lembab pada periode 2002-2024.

Selama dua dekade terakhir, kawasan hutan primer lembab di Indonesia telah menyusut sekitar 11 persen, setara dengan hilangnya 34 persen tutupan pohon pada periode yang sama.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal ini terungkap dalam laporan Bencana Bukan Takdir: Banjir Sumatera dan Kegagalan Negara Menjamin Hak Aman Warga Negara, disusun oleh Forum LSM Internasional tentang Pembangunan Indonesia (Infid).

‎Wakil Direktur Infid, Bona Tua, menjelaskan bahwa hutan dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi dan fungsi ekologi terpenting terus mengalami degradasi dan konversi skala besar.

“Hal ini mencerminkan tekanan serius dari deforestasi jangka panjang yang berdampak langsung pada krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan meningkatnya risiko bencana ekologi,” kata Bona, dikutip dari laporannya, Senin (5/1).

‎Deforestasi, lanjutnya, juga memicu banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), deforestasi mencapai 1,4 juta hektar sepanjang 2016-2025 di ketiga provinsi tersebut.

Bona mengatakan penyebabnya adalah aktivitas ratusan perusahaan yang merusak daerah aliran sungai (DAS) penting di bentangan Bukit Barisan seperti Batang Toru, Sumut; DAS Krueng Trumon, Singkil, Peusangan dan Tripa di Aceh; dan DAS Musim Dingin Aia di Sumatera Barat.

Kerusakan hutan di hulu DAS telah menurunkan daya dukung dan daya tampung lingkungan secara signifikan, sehingga memperparah banjir bandang dan tanah longsor, ujarnya. Kelompok Kajian dan Pengembangan Inisiatif Masyarakat bersama jaringan masyarakat sipil menegaskan bahwa bencana tersebut merupakan pertanda krisis agraria dan ekologi yang telah berlangsung lama.

‎Masifnya pemberian izin dan konsesi perkebunan, pertambangan, dan kehutanan dinilai telah menggerus hutan dan wilayah adat, merusak fungsi hidrologi kawasan hulu, serta meningkatkan risiko banjir di kawasan hilir.

“Data menunjukkan ribuan konflik agraria dalam satu dekade terakhir, dengan Sumut dan Sumbar menjadi provinsi dengan konflik tertinggi, serta deforestasi besar-besaran di Tapanuli Selatan dan Tengah yang berkorelasi dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, dan pertambangan,” jelas Bona. (*/com)


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Bentrok Maut di Menteng, Satu Tewas dan Satu Kritis, Brimob Siaga
Hilang Selama 74 Tahun, Pesawat Pan Am Ditemukan di Dasar Samudera Atlantik
Cara streaming langsung Guardians vs Rays: MLB, saluran TV
Saat Pencuri Ayam Dipijat Sampai Mati, Koruptor Besar Masih Bisa Tersenyum
Trump Menghentikan Operasi Militer melawan Iran Setelah 13 Malam Pengeboman
Kronologis meninggalnya penjaga rumah Febrie Adriansyah yang diduga dibunuh
Kapal tanker minyak menabrak ranjau di Selat Hormuz setelah meninggalkan rute yang ditetapkan Iran
Mike Waltz menepis kekhawatiran akan menipisnya persediaan senjata AS di tengah perang Iran

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 00:01 WIB

Bentrok Maut di Menteng, Satu Tewas dan Satu Kritis, Brimob Siaga

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:31 WIB

Hilang Selama 74 Tahun, Pesawat Pan Am Ditemukan di Dasar Samudera Atlantik

Minggu, 26 Juli 2026 - 23:22 WIB

Cara streaming langsung Guardians vs Rays: MLB, saluran TV

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:58 WIB

Saat Pencuri Ayam Dipijat Sampai Mati, Koruptor Besar Masih Bisa Tersenyum

Minggu, 26 Juli 2026 - 22:46 WIB

Trump Menghentikan Operasi Militer melawan Iran Setelah 13 Malam Pengeboman

Berita Terbaru

HEADLINE

Cara streaming langsung Guardians vs Rays: MLB, saluran TV

Minggu, 26 Jul 2026 - 23:22 WIB