RakyatPos.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk sementara menghentikan operasi militer terhadap Iran untuk membuka peluang diplomasi antara Washington dan Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, yang mengatakan keputusan Trump merupakan upaya memberikan peluang proses negosiasi.
“Dia memberi ruang untuk berbincang. Dia memberi sedikit ruang,” kata Waltz dalam wawancara dengan Fox News, Minggu (26/7/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun Waltz tidak membeberkan rincian terkait substansi komunikasi atau pembicaraan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca juga: Iran dan Oman Bahas Keamanan Lalu Lintas Maritim, Ketidakpastian di Selat Hormuz Masih Membayangi
Keputusan tersebut bertepatan dengan meredanya konflik selama akhir pekan. Pentagon diketahui menghentikan operasi pengeboman setelah 13 malam berturut-turut.
Selain itu, hingga akhir pekan ini belum ada laporan adanya serangan balasan Iran terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian segera mengalihkan fokus pemerintahannya ke pemulihan dampak serangan Amerika Serikat.
Menurut kantor berita Mehr, Pezeshkian memerintahkan percepatan rekonstruksi berbagai infrastruktur strategis yang rusak, termasuk jaringan kereta api dan koridor transit internasional.
Arahan tersebut muncul setelah ia menerima laporan mengenai tingkat kerusakan saat berkunjung ke Kementerian Jalan dan Pembangunan Perkotaan Iran.
Pezeshkian menegaskan, penguatan konektivitas infrastruktur dengan negara tetangga menjadi salah satu prioritas utama pemerintah.
“Penyelesaian dan koneksi jaringan kereta api dengan negara-negara tetangga dapat memainkan peran efektif dalam meningkatkan ketahanan ekonomi, mengembangkan koridor transit internasional dan memaksimalkan kapasitas geopolitik Iran,” kata Pezeshkian.
Langkah Washington yang menghentikan sementara operasi militer dan fokus Teheran dalam membangun kembali infrastruktur dipandang sebagai sinyal meredanya ketegangan, meski belum ada kepastian mengenai hasil diplomasi yang sedang berlangsung.
















