Jayapura, RakyatPos.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire mencatat titik api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Papua Tengah terus meningkat.
Hingga Minggu (23/8/2026), setidaknya terdapat 733 titik panas di kawasan tersebut. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Sabtu (22/8/2026) yang hanya berjumlah 653 titik panas.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 106 titik api berada pada tingkat kepercayaan rendah, 577 titik api dalam tingkat kepercayaan sedang, dan 50 titik api dalam tingkat kepercayaan tinggi atau besar kemungkinan telah terjadi kebakaran aktif di lapangan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Titik panas terbanyak berada di Kabupaten Nabire, ibu kota Provinsi Papua Tengah dengan 356 titik. Disusul Kabupaten Dogiyai 111 titik panas, Kabupaten Paniai 91 titik panas, Kabupaten Puncak 90 titik api.
Kabupaten Intan Jaya terdapat 70 titik panas, Kabupaten Puncak Jaya terdapat 10 titik panas, Kabupaten Mimika terdapat 4 titik panas, dan Kabupaten Deiyai terdapat 1 titik panas.
Pantauan terkini BMKG Douw Aturure Nabire menunjukkan konsentrasi tinggi di distrik di Nabire, Kabupaten Dogiyai, dan menyebar ke Kabupaten Intan Jaya, Paniai, Puncak, dan Puncak Jaya.
Kerusakan akibat kebakaran dapat merugikan kita semua. Merusak lingkungan dan mengganggu perekonomian masyarakat. Mari kita bersama-sama menjaga tanah air kita,” tulis BMKG Nabire dalam rilis resminya, Minggu (23/8/2026).
BMKG Nabire menyatakan, kondisi El-Niño kuat masih berlangsung dan berpotensi semakin intens hingga akhir tahun, disertai ratusan titik api yang tersebar di seluruh Provinsi Papua Tengah.
Berdasarkan data pemantauan, nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai ‑20,3 dan Indeks Niño 3,4 +2,3 – angka yang jelas menunjukkan status El‑Niño Kuat.
Dikatakannya, fenomena tersebut mulai aktif sejak periode Mei–Juni 2026, dan diperkirakan akan terus menguat dengan puncak musim kemarau yang berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Menurut BMKG Nabire, kondisi tersebut berdampak nyata pada penurunan curah hujan, hari tanpa hujan bertambah, ketersediaan air menurun, suhu udara terasa semakin panas, lahan semakin kering, dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat tajam.
Menyikapi situasi tersebut, BMKG Nabire mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk melarang keras pembakaran hutan, semak, lahan atau limbah dengan alasan apapun – terutama di kawasan rentan seperti lahan gambut dan hutan kering.
Segera laporkan kepada pihak berwajib jika melihat asap, api atau indikasi terjadinya kebakaran agar dapat dipadamkan lebih awal.
Pemerintah diminta memperketat patroli, memantau pembukaan lahan dengan cara membakar, dan terus meningkatkan kesadaran akan bahaya kebakaran di musim kemarau.
Pastikan cadangan air dan peralatan pemadam siap digunakan kapan saja.
Selalu ikuti perkembangan informasi cuaca, iklim, El‑Niño dan hotspot dari BMKG agar dapat bersiap sejak dini.
Posting Peningkatan Hotspot di Provinsi Papua Tengah pertama kali muncul di RakyatPos.id Papua.



















