RakyatPos.id -Pernyataan mantan Ketua MPR RI Amien Rais yang mengkritik pendukung pengembalian UUD 1945 yang asli atau sebelum amandemen terus mendapat sorotan tajam.
Aktivis senior M. Hatta Taliwang menilai pernyataan tersebut semakin menunjukkan ketidakjelasan sikap Amien Rais sebagai tokoh senior.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau (pernyataan) itu benar, maka semakin jelas sikap Amien Rais berubah-ubah,” kata Hatta kepada RMOL di Jakarta, Rabu 19 Agustus 2026.
Ia membeberkan sejumlah fakta bahwa Amien Rais sebelumnya mendukung gerakan kembali ke UUD 1945 yang asli. Salah satunya saat meminta maaf kepada Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno terkait amandemen UUD 1945.
Kemudian, lanjut Hatta, Amien Rais juga bertemu dengan Ketua DPD (2019-2024) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti di Kompleks Parlemen pada 24 Juni 2024, yang saat itu DPD sedang gencar melakukan advokasi untuk kembali ke UUD 1945 yang asli.
“Beliau (Amien Rais) menyampaikan keyakinannya bahwa Prabowo Subianto akan menyetujui gagasan tersebut. Amien mengatakan bahwa Prabowo akan menyetujuinya. Secara implisit, Amien menyetujui kembali ke UUD 1945. Amien juga mengusulkan agar Presiden dipilih kembali oleh MPR, yang merupakan konsekuensi penting dari konstruksi UUD 1945 sebelum amandemen,” jelasnya.
Tak berhenti sampai disitu, menurut Hatta, Amien juga kerap terlibat dalam berbagai forum yang mendorong pengembalian UUD 1945 yang asli.
Soal substansi yang disampaikan, Amien Rais sadar atau tidak UUD 1945 sudah diganti dengan UUD 2002. Kita ingin kembali ke sana, bukan surut pemikiran tapi kembali pada visi awal berdirinya NKRI agar kita tidak tersesat terus, kata dia.
Dengan turunnya MPR RI dari Lembaga Tertinggi Negara, menjadi Lembaga Tinggi Negara, mengakibatkan tidak adanya kendali terhadap Presiden dan lembaga peradilan tertinggi, sadarkah Amien Rais akan dampaknya? Pilpres langsung yang dianut UUD 2002, sadarkah Amien Rais menyimpang dari sila ke-4 Pancasila? Sadarkah Anda segala kebusukan dan keburukan pemilu presiden langsung yang merupakan praktik liberal ala Indonesia? demokrasi,” tambah Hatta.
Senada, Kepala Pusat Pengkajian Rumah Pancasila Prihandoyo Kuswanto menyatakan, pernyataan Amien Rais sama saja dengan maling teriak maling.
“Yang bilang ‘kembali ke UUD 1945, kemunduran’, padahal mereka sendiri yang mencuri kedaulatan rakyat. Rakyat tidak pernah memberikan amanah kepada MPR 1999 di bawah Pak Amien Rais untuk mengubah UUD 1945. Sebelum mengubah UUD 1945, MPR terlebih dahulu menghapus TAP MPR & UU Referendum, kenapa? Karena takut ditolak rakyat. Itu namanya menghilangkan UUD 1945. Kedaulatan Rakyat,” kata Prihandoyo.
Ia menegaskan, Amien Rais telah menipu habis-habisan bangsa Indonesia dengan menyebut UUD 2002 sebagai UUD 1945.
“Jadi kalau ada yang bilang kembali ke UUD 45 itu kemunduran, jawabannya kemunduran itu adalah amandemen ilegal yang merampas hak-hak rakyat! Jadi masyarakat tertipu dengan mengatakan UUD (amandemen) tetap disebut UUD 1945,” jelasnya.
Sebelumnya, Amien Rais di media sosial pribadinya menyebut gagasan kembali ke konstitusi lama tidak masuk akal.
“Saya sudah lama mendengar dan membaca ada tokoh masyarakat dan tokoh politik yang mengajukan usulan magis sekaligus tidak masuk akal atau tidak masuk akal. Usulan ini merupakan ajakan bagi bangsa Indonesia untuk kembali ke UUD 1945 yang asli,” kata Amien.
Kemudian pendiri PAN dan Partai Ummat ini menjelaskan, gagasan kembali ke UUD 1945 sama saja dengan mundur dan ingin kembali ke era Orde Baru.
Alhasil, pemikiran Amien tak kalah licik dan penuh pengkhianatan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap dalam dunia pewayangan ini tergambar pada sosok Sengkuni yang merendahkan negara dari dalam.



















