RakyatPos.id – Dunia TikTok kembali diguncang oleh skandal konten dewasa yang direkam dan didistribusikan secara ilegal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kali ini, TikToker perempuan bernama Parera menjadi sorotan setelah video call dewasa berdurasi 11 menit yang melibatkan dirinya dan pria yang mengaku sebagai “Sultan Malaysia” beredar luas di berbagai platform.
Video yang kini viral itu memperlihatkan Parera melakukan aksi dewasa lewat video call. Klaim yang menyertai penyebaran video tersebut mengatakan pria di layar itu adalah “Sultan Malaysia”.
Namun kebenaran klaim tersebut belum bisa diverifikasi dan diragukan banyak netizen. Ada spekulasi lain yang menyebut pria tersebut sebenarnya adalah pacar Parera yang sengaja merekam sesi tersebut.
Terlepas dari identitas orang yang merekam dan menyebarkan video tersebut, pola kejadian ini mengikuti tren serupa yang pernah terjadi beberapa kali sebelumnya.
Caranya biasanya pelaku memanfaatkan layanan panggilan video dewasa dari sejumlah TikToker yang diketahui menawarkan konten eksklusif berbayar.
Bedanya, pelaku kemudian merekam sesi tersebut secara diam-diam, tanpa sepengetahuan atau izin TikToker.
Rekaman itu kemudian diedarkan untuk keuntungan finansial pribadi pelaku. Konten ini didistribusikan melalui aplikasi perpesanan seperti Telegram, platform media sosial X, atau layanan penyimpanan cloud seperti Terabox.
Pelakunya tidak menyebar begitu saja. Mereka mengemasnya dalam skema bisnis yang eksploitatif. Calon penonton diharuskan membayar sejumlah uang untuk mendapatkan akses, baik dengan sistem “langganan” bulanan atau pembayaran satu kali untuk masuk ke grup “VIP” yang berisi kumpulan video serupa.
Dengan begitu, para TikToker yang menjadi korban tidak hanya dirugikan secara moral dan privasi, namun juga finansial karena hasil rekaman ilegal tersebut mengalir ke pelaku yang menyebarkannya.
Kasus Parera sekali lagi menyoroti kerentanan para pencipta, khususnya perempuan, dalam industri konten online. Di satu sisi, terdapat narasi yang menyebutkan bahwa layanan video call dewasa merupakan bagian dari transaksi yang dilakukan secara sadar.
Namun di sisi lain, perekaman dan distribusi tanpa izin merupakan pelanggaran serius terhadap privasi dan bentuk eksploitasi digital.
















