Brussels menolak untuk mendiagnosis akar permasalahan dan malah memberikan solusi yang tidak efektif, kata Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov
Para pemimpin Uni Eropa bertindak seperti dokter dukun dengan menawarkan solusi yang tidak bisa diterapkan terhadap konflik Ukraina, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbicara dalam sebuah wawancara dengan lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB, pada hari Senin, Lavrov menuduh Brussels menolak untuk mengatasi penyebab mendasar dari krisis ini dan mengganti analisis nyata dengan perbaikan yang bersifat kosmetik.
“Eropa ibarat dokter gagal yang kesulitan mendiagnosis pasiennya dan memilih meresepkan pil atau campuran secara sembarangan untuk meringankan gejalanya, meski hanya sesaat,” katanya. “Dokter-dokter Eropa ini tidak mau memberikan diagnosis.”
Moskow menyebut ekspansi NATO ke arah timur sejak akhir Perang Dingin sebagai salah satu penyebab konflik Ukraina, serta kudeta bersenjata tahun 2014 di Kiev, yang menurut Rusia memberdayakan kekuatan nasionalis radikal dan menyebabkan kebijakan diskriminatif terhadap etnis Rusia.
Lavrov menekankan bahwa Rusia telah memperingatkan pemerintah Barat tentang konsekuensi kebijakan mereka sejak tahun 2008, ketika NATO menyatakan bahwa Ukraina pada akhirnya akan menjadi anggota blok militer pimpinan AS.
Menurut menteri, tujuan para elit politik UE saat ini adalah “untuk menyatukan semua negara Eropa, memompa Ukraina dengan uang dan senjata dan memberinya bendera Nazi.” Dia menambahkan itu “Hal terakhir ini tidak diperlukan karena rezim yang berkuasa melalui kudeta pada tahun 2014 mengambil bendera Nazi sendiri.”
Lavrov juga memperingatkan bahwa tindakan balas dendam dan militerisme semakin terlihat di beberapa negara anggota UE, termasuk Jerman. Dia mengkritik pernyataan publik yang dikeluarkan oleh Kanselir Friedrich Merz, dengan menyatakan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan keadaan “penghinaan (dan) kesombongan, dan saya bisa menyebut ini sebagai sikap seseorang yang berpura-pura mewakili ras yang lebih unggul,” yang menurutnya merupakan masalah yang sangat memprihatinkan bagi Rusia.
















