RakyatPos.id -Ekspor minyak Iran terhenti total di tengah berkecamuknya perang dan tekanan sanksi Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini membuat Teheran harus menghadapi tekanan serius terhadap sumber utama pendapatan devisanya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut diakui Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati dalam wawancara televisi, dikutip Kamis 20 Agustus 2026.
Menurut dia, pembatasan ekspor minyak telah menghentikan pendapatan dari sektor tersebut, sementara pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi hilangnya pendapatan tersebut.
Saya juga berbicara dengan warga Irak dan Qatar; pendapatan mereka dari penjualan minyak turun hingga nol. Hal yang sama terjadi pada kami, dan faktanya kami tidak mengekspor minyak,” kata Hemmati.
Menurutnya, pemerintah dan Bank Sentral Iran telah melakukan persiapan yang diperlukan untuk menghadapi situasi tersebut.
Namun, Iran menghadapi masalah yang lebih serius dibandingkan Irak dan Qatar karena cadangan devisanya diblokir oleh Washington.
“Amerika telah membekukan cadangan devisa kami dan tidak mengizinkan kami menariknya,” katanya.
Hemmati juga mengungkapkan bahwa dana Iran yang seharusnya dicairkan berdasarkan Memorandum Islamabad, sebuah kesepakatan yang dicapai Teheran dan Washington pada bulan Juni untuk membuka jalan bagi kesepakatan akhir, belum dikeluarkan.
“Persoalan pemahaman Islamabad dan pelepasan sumber daya merupakan persoalan tersendiri. Sumber daya yang seharusnya dilepaskan berdasarkan pemahaman ini belum dilepaskan,” jelasnya.
Di tengah tekanan tersebut, hubungan ekonomi Iran dengan Irak juga menghadapi kendala.
Sebelum perang, Iran mengekspor barang dan jasa senilai $12 miliar per tahun ke Irak, termasuk $4 miliar terkait dengan kebutuhan gas dan listrik pemerintah Irak.
Hemmati mengatakan Baghdad telah berkomitmen untuk memenuhi kewajibannya kepada Teheran, namun Irak sendiri kini mendapat tekanan akibat penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pendapatan minyak.



















