Festival Film Papua 2026 akan mengangkat tema alam dan kehidupan manusia Papua

- Jurnalis

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura RakyatPos.id – Papuan Voices kembali menggelar festival film Papua yang ke-8 pada tanggal 7–9 Agustus 2026. Festival ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Masyarakat Adat Sedunia.

Festival tahunan ini mengusung tema “Alam dan Kehidupan Manusia Papua” sebagai ruang menyuarakan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Papua melalui film dokumenter.

Ketua Panitia Festival Film Papua sekaligus Sekretaris Papuan Voices, Max Wayeni, mengatakan festival tahun ini tidak hanya menampilkan pemutaran film, tetapi juga lokakarya, diskusi publik, dan ruang kampanye bagi komunitas dan organisasi yang bekerja di bidang sosial, lingkungan, dan hak-hak masyarakat adat.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertama forum diskusi, kemudian pemutaran film. Dalam forum diskusi tersebut kita akan mengkaji permasalahan dan kebutuhan internal serta isu-isu yang sedang berkembang di Papua,” kata Max Wayeni saat konferensi pers di kantor Papuan Voices, di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, tema yang diangkat merupakan hasil diskusi panjang tentang Suara Papua dan relevan dengan kondisi Papua saat ini. Film-film yang diputar akan mengangkat berbagai isu, mulai dari pendidikan, sosial budaya, hingga lingkungan hidup.

“Kami berharap festival ini menjadi ruang bagi masyarakat khususnya generasi muda untuk melihat situasi di Papua saat ini, membangun kesadaran kritis, dan mendorong aksi nyata untuk tanah Papua,” ujarnya.

Dijelaskannya, berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya yang hanya menampilkan karya anggota Papuan Voices, festival ini membuka kesempatan bagi seluruh pembuat film dokumenter tentang Papua untuk berpartisipasi.

Film-film yang akan diputar merupakan karya-karya produksi periode 2024 hingga 2026, baik dari Papuan Voices maupun komunitas lainnya.

“Pada puncak perayaan tanggal 9 Agustus juga akan ada panggung hiburan selain pemutaran film dan workshop,” ujarnya.

Dikatakannya, selain pemutaran film, panitia juga mengadakan workshop pengarsipan audiovisual, pelacakan metadata, dan pengelolaan arsip digital.

Lokakarya ini melibatkan berbagai mitra, termasuk Witness, serta organisasi seperti LBH Papua, LBH Merauke, Greenpeace, dan sejumlah jaringan lainnya.

Di Kota Jayapura, kegiatan dipusatkan di Asrama Liborang Padang Bulan, sedangkan pemutaran film serentak dilakukan di berbagai wilayah jaringan Papuan Voices.

Ketua National Papuan Voices Straky Yali mengatakan Festival Film Papua merupakan ruang menghadirkan kisah-kisah yang lahir dari realitas kehidupan masyarakat Papua, khususnya masyarakat yang selama ini tinggal di daerah pinggiran.

Menurutnya, film dokumenter merupakan media untuk merekam pengalaman masyarakat, membuka ruang dialog, serta menyampaikan suara dari berbagai penjuru Tanah Papua terkait persoalan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, lingkungan hidup, dan hak-hak masyarakat adat.

“Kami percaya bahwa hutan, sungai, dan tanah adat bukan sekedar sumber penghidupan, tapi juga warisan budaya, sejarah dan jati diri yang harus dilindungi. Melalui festival ini kami mengajak masyarakat untuk melihat, mendengar dan memahami cerita-cerita tersebut,” kata Straky Yali.

Festival ini juga mengajak masyarakat untuk melihat, mendengar, dan memahami kisah-kisah tersebut melalui film dokumenter, guna meningkatkan kesadaran, memperkuat dialog terbuka, dan menginspirasi langkah-langkah yang memberikan keadilan, penghormatan terhadap masyarakat adat, dan melestarikan alam untuk generasi mendatang.

“Saat ini kita melihat realitas bagaimana masyarakat adat terus berjuang mempertahankan haknya untuk hidup di wilayahnya masing-masing. Sehingga kami berharap festival ini mampu memperkuat kesadaran masyarakat dan mendorong penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat,” ujarnya.

Sementara itu, Divisi Pemutaran Papuan Voices Jayapura, Imen Rounsumbre mengatakan, pemutaran film tidak hanya berlangsung di Jayapura saja, namun juga di sejumlah wilayah jaringan Papuan Voices.

Ia mengatakan Papuan Voices memiliki tujuh wilayah yakni Keerom, Wamena, Serui, Fakfak, Sorong, Nabire, Paniai, dan Biak. Selain itu, beberapa daerah lain juga akan mengikuti festival tersebut.

“Festival Film Papua 2026 terbuka untuk umum. Kami panitia mengajak seluruh masyarakat khususnya generasi muda untuk hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan sebagai ruang belajar, berdiskusi dan memahami berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat Papua melalui karya film dokumenter,” ujarnya.

Lanjutkan Membaca

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Tim USK Edukasi Penderita Diabetes Pasca Bencana di Pidie Jaya, Tekankan Pentingnya Kepatuhan Terapi
Nelayan Asli Papua Berharap Perhatian Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan
Jaksa Agung Ungkap Dugaan Metode TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Burger King memperkenalkan perubahan layanan baru setelah keluhan pelanggan – NBC Chicago
Staf Ahli Menteri Agama Dorong Terobosan MAN 1 Aceh Barat Buka Kelas Resmi dan Internasional
Pembaruan langsung WSOPC Horseshoe Las Vegas (Juli).
Alaska Airlines menambahkan penerbangan musim dingin nonstop Portland–Steamboat Springs baru
Perang semakin sengit! Iran tidak segan-segan meledakkan wilayahnya, tidak ingin dikuasai AS

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:21 WIB

Tim USK Edukasi Penderita Diabetes Pasca Bencana di Pidie Jaya, Tekankan Pentingnya Kepatuhan Terapi

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:03 WIB

Nelayan Asli Papua Berharap Perhatian Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:37 WIB

Jaksa Agung Ungkap Dugaan Metode TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:21 WIB

Burger King memperkenalkan perubahan layanan baru setelah keluhan pelanggan – NBC Chicago

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:58 WIB

Staf Ahli Menteri Agama Dorong Terobosan MAN 1 Aceh Barat Buka Kelas Resmi dan Internasional

Berita Terbaru