Ringkasan Berita:
- Pada pembukaan perdagangan Senin, rial diperdagangkan sekitar 2,02 juta rial untuk setiap 1 dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Angka tersebut menunjukkan nilai mata uang Iran kini hanya berkisar separuh dari posisinya di awal tahun.
RakyatPos.id – Krisis ekonomi Iran memasuki tahap yang semakin mengkhawatirkan. Nilai tukar rial kembali anjlok ke titik terendah dalam sejarah karena warga berbondong-bondong ke pasar valuta asing untuk menukarkan uangnya dengan dolar Amerika Serikat.
Pada pembukaan perdagangan Senin, rial diperdagangkan sekitar 2,02 juta rial untuk setiap 1 dolar AS. Angka tersebut menunjukkan nilai mata uang Iran kini hanya berkisar separuh dari posisinya di awal tahun.
Kepercayaan masyarakat terhadap rial semakin terkikis setelah hampir enam bulan perang, ditambah ancaman Amerika Serikat yang akan menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Teheran.
Baca juga: Iran Ancam Negara yang Mendukung Sanksi AS Akan Dianggap Melakukan Aksi Perang
Di pusat kota Teheran, antrian di tempat penukaran uang semakin panjang. Warga berusaha menyelamatkan nilai tabungannya sebelum real kembali kehilangan daya belinya.
“Tidak ada harapan untuk mencapai kesepakatan dan perdamaian,” Sadegh Mahmoudi, 73 tahun, mengatakan kepada Associated Press sambil mengantri di tempat penukaran uang.
Inflasi dan perang melanda rial
Rial sebenarnya mengalami tekanan berat sejak November lalu. Sanksi Barat selama bertahun-tahun, inflasi yang tinggi, dan memburuknya kondisi ekonomi akibat perang telah semakin memberikan tekanan pada mata uang Iran.
Kondisi ini menimbulkan kesenjangan yang besar antara nilai resmi dan nilai pasar.
Bank Sentral Iran menetapkan nilai tukar resmi sekitar 1,5 juta rial per dolar AS. Namun bagi masyarakat umum, harga pasar yang jauh lebih tinggi menjadi tolak ukur dalam berbagai transaksi.
Penurunan nilai tukar Rial juga berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Harga bahan pangan dan berbagai kebutuhan pokok yang melambung tinggi membuat masyarakat semakin sulit mempertahankan daya belinya.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump telah membawa tekanan ekonomi Iran ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Presiden Trump menghancurkan perekonomian Iran hingga ke titik di mana rial berada pada titik terlemahnya dan inflasi berada pada tingkat yang sangat tinggi,” tulis Bessent dalam sebuah opini di Financial Times.
AS menyiapkan tekanan ekonomi baru
Jatuhnya nilai tukar Rial terjadi ketika Washington bersiap mengumumkan paket sanksi tambahan terhadap Iran.
Bessent memperingatkan bahwa tekanan keuangan baru ini bertujuan untuk semakin mempersempit ruang ekonomi pemerintah Iran. Ia bahkan menyebut sanksi tersebut berpotensi “melemahkan rezim”.
Pesan serupa disampaikan Trump melalui media sosial dengan pernyataan singkat dan tegas.




















