Ringkasan Berita:
- Kondisi Iran saat ini menunjukkan bahwa Teheran tidak dalam posisi putus asa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Iran bahkan mengklaim dunia internasional mengakui kemenangan Iran dalam konflik tersebut.
RakyatPos.id – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan segera diakhirinya perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan antara Iran dan Amerika Serikat.
Ia yakin Teheran kini berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mengakhiri konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian, Jumat, dalam pertemuan dengan dokter.
“Lebih baik bagi kita untuk mengakhiri perang sekarang, karena kita berada dalam posisi yang kuat dan terhormat,” kata Pezeshkian.
Baca juga: AS Kembalikan USS Abraham Lincoln dari Perang Iran, Kirimkan George Washington ke Timur Tengah
Menurutnya, kondisi Iran saat ini menunjukkan bahwa Teheran tidak dalam posisi putus asa. Ia bahkan mengklaim dunia internasional mengakui kemenangan Iran dalam konflik tersebut.
“Seluruh dunia mengakui kemenangan kami,” katanya.
Pezeshkian juga menuduh Amerika Serikat menyerang fasilitas sipil Iran, termasuk sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur, yang menurutnya melanggar aturan internasional.
Hormuz Menjadi Hot Spot
Di tengah upaya mengakhiri perang, ketegangan masih berpusat di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Iran masih mempertahankan penutupan sebagian Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat terus menerapkan blokade balasan melalui pasukan angkatan lautnya.
Pezeshkian juga membela nota kesepahaman yang disepakati Iran dan Amerika Serikat pada bulan Juni sebagai bagian dari upaya untuk mengakhiri perang.
Ia membantah kesepakatan itu merupakan bentuk penyerahan Iran kepada Washington.
“Mereka tidak menemukan satu pun klausul dalam perjanjian ini yang mengindikasikan penyerahan diri. Semua komitmen itu berkaitan dengan pihak lain,” ujarnya.
Pernyataan Pezeshkian muncul beberapa minggu setelah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan dia menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang, meski mengakui memiliki pandangan berbeda mengenai sejumlah masalah.
Namun, kesepakatan tersebut mendapat tentangan dari kelompok garis keras di parlemen Iran. Mereka menuding pemerintah terlalu banyak memberikan kelonggaran kepada Amerika Serikat, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.




















