Jayapura, RakyatPos.id – Gerakan solidaritas Palestina menyerukan transparansi yang lebih besar mengenai pengaturan keamanan di sekitar Kedutaan Besar Israel. Pengaturan keamanan yang diterapkan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya di ibu kota Fiji, Suva.
Koordinator Pusat Krisis Perempuan Fiji Shamima Ali, yang mewakili gerakan tersebut, menanyakan ancaman spesifik apa yang mendorong peningkatan kehadiran polisi di sekitar kedutaan setelah polisi memastikan bahwa keamanan tambahan diberikan atas permintaan kedutaan.
Shamima Ali mengatakan masyarakat berhak mengetahui alasan mengapa tindakan keamanan tambahan dilakukan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pengaturan keamanan yang diterapkan saat ini belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Shemima Ali, seperti dilansir RakyatPos.id dari laman www.fijitimes.com.fj, Minggu (23/8/2026).
“Kami percaya bahwa sumber daya ini akan lebih baik jika diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Fiji, terutama pada saat banyak masyarakat terus menyatakan keprihatinan tentang penundaan dan tanggapan yang tidak memadai dari polisi,” katanya.
“Kami meminta Komisaris Polisi dan Pemerintah untuk menjelaskan perlunya tindakan luar biasa ini.”
Dia mengatakan bahwa gerakan solidaritas Palestina juga menghadapi peningkatan pengawasan polisi selama pertemuan damai dan demonstrasi mereka.
Shamima Ali mengklaim bahwa peserta acara peringatan tersebut dalam beberapa kesempatan telah diinstruksikan untuk berhenti meneriakkan slogan atau menurunkan spanduk mendukung Palestina karena alasan “keamanan” dan “keselamatan”.
Namun katanya, polisi tidak pernah menjelaskan kepada gerakan tersebut ancaman spesifik apa yang ingin diatasi dengan tindakan keamanan tersebut.
“Kami juga dengan tegas menolak anggapan bahwa anggota gerakan solidaritas Palestina merupakan ancaman terhadap keselamatan masyarakat,” ujarnya
“Sebagai warga Fiji, kami juga berhak mengetahui ancaman spesifik apa yang teridentifikasi terhadap kedutaan,” katanya.
Dia mengatakan gerakan tersebut tidak mengetahui adanya ancaman spesifik terhadap kedutaan dan mempertanyakan mengapa kedutaan tersebut tampaknya memiliki keamanan yang lebih ketat dibandingkan kedutaan lain yang juga menjadi sasaran protes masyarakat.
Menurut laman internet, www.foreignaffairs.gov.fj, negara Israel pada 26 Juni 2026 resmi membuka Kedutaan Besarnya di Suva, menandai babak baru dalam hubungan antara Fiji dan Israel dan semakin memperkuat keterlibatan Israel dengan Fiji dan kawasan Pasifik.
Pembukaan Kedutaan Besar ini dilakukan secara timbal balik dan tepat waktu, menyusul pendirian Kedutaan Besar Fiji di Israel pada bulan September tahun lalu, oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan Perdana Menteri Fiji, Yang Terhormat Sitiveni Rabuka.
Dalam sambutannya, PM Sitiveni Rabuka menyambut baik pembukaan Kedutaan Besar tersebut sebagai perkembangan signifikan dalam hubungan Fiji-Israel.
PM Rabuka menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diterima Fiji dari Israel sejak hubungan diplomatik dimulai pada tahun 1970, yang berfokus pada pelatihan, bantuan teknis, dan peningkatan kapasitas. Ia menambahkan, Fiji berharap dapat memperkuat kerja sama di masa depan.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Luar Negeri Negara Israel, Yang Terhormat Gideon Sa'ar, menyoroti pentingnya pembukaan Kedutaan Besar dan menyatakan komitmen Israel untuk membangun kerja sama yang lebih kuat dengan Fiji dan kawasan Pasifik yang lebih luas.
Kedutaan Besar Israel di Fiji dipimpin oleh Duta Besar tetap yang baru diangkat untuk Fiji, Maya Yaron.
Pendirian Kedutaan Besar Israel di Fiji menggarisbawahi komitmen bersama kedua negara untuk memperdalam kerja sama di berbagai sektor prioritas utama.
Termasuk pertanian, teknologi dan inovasi, kesehatan, ketahanan iklim, pertahanan dan keamanan, pendidikan, energi terbarukan, kesiapsiagaan bencana, dan peningkatan kapasitas.
Lanjutkan Membaca



















