Ringkasan Berita:
- Dalam pernyataannya, Hamas menyebut serangan itu merupakan eskalasi yang disengaja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
- Kelompok ini menganggap waktu terjadinya serangan, yang terjadi setelah perundingan terakhir di Kairo dan di tengah upaya mediasi yang sedang berlangsung, menjadi indikasi kuat adanya upaya untuk menggagalkan proses negosiasi.
RakyatPos.id – Hamas menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sengaja menggagalkan upaya perundingan gencatan senjata di Gaza. Kelompok Palestina menegaskan tetap berkomitmen untuk mencapai kesepakatan, meski serangan Israel terus berlanjut.
Tuduhan tersebut dilontarkan Hamas setelah serangan Israel di Kota Gaza yang menewaskan sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk seorang anak.
Dalam pernyataannya, Hamas menyebut serangan itu merupakan eskalasi yang disengaja. Kelompok ini menganggap waktu terjadinya serangan, yang terjadi setelah perundingan terakhir di Kairo dan di tengah upaya mediasi yang sedang berlangsung, menjadi indikasi kuat adanya upaya untuk menggagalkan proses negosiasi.
“Waktu terjadinya kejahatan, setelah perundingan baru-baru ini di Kairo dan upaya mediasi yang sedang berlangsung, menunjukkan niat Netanyahu untuk menyabotase perundingan,” kata Hamas dalam pernyataannya.
Hamas juga menuduh Netanyahu berusaha menghambat upaya internasional untuk memajukan rencana perdamaian Gaza yang dipromosikan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca juga: AS: Gaza tidak akan dibangun kembali sampai Hamas menyerahkan senjatanya
Kelompok tersebut kemudian mendesak pemerintah AS, mediator dan pihak-pihak yang menjamin proses perundingan untuk memberikan tekanan kepada pemerintah Israel.
Hamas meminta Israel menghormati perjanjian yang telah dibahas, menghentikan serangan terhadap Palestina, dan mencegah Netanyahu memblokir perjanjian Sharm el-Sheikh.
Pernyataan Hamas menambah tekanan pada proses diplomasi yang sedang berlangsung. Di tengah upaya para mediator untuk menemukan cara mencapai gencatan senjata, serangan di lapangan kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa kekerasan dapat menggagalkan perundingan yang sedang berlangsung.




















