Diterbitkan Pada 6/1/2026
|
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembaruan terakhir: 00:44 (waktu Mekkah)
Di tengah penderitaan yang sunyi, cerita dimulai di dalam sebuah truk traktor pertanian yang diparkir di sela-sela kehidupan di kota Khan Yunis, selatan Jalur Gaza. Tempat itu berubah menjadi tempat perlindungan sementara bagi seorang wanita lanjut usia dan putranya setelah semua pintu tertutup rapat, dan yang tersisa bagi mereka hanyalah bangunan besi sebagai saksi sepanjang sisa hari mereka.
Di ruang sempit yang kekurangan air, listrik, dan kebutuhan dasar untuk hidup ini, seorang ibu lanjut usia berusaha mengatur napasnya dengan susah payah, sementara putranya mengawasinya dengan mata berat karena ketidakberdayaan dan ketakutan, mengantisipasi setiap gerakannya, seolah-olah napasnya yang sedikit telah menjadi satu-satunya ukuran waktu.
Baca juga
daftar 2 itemakhir daftar
Wanita lanjut usia tersebut menderita asma dan membutuhkan alat yang dapat membantunya bernapas secara teratur. Namun, kemiskinan dan kondisi yang sulit membuat dia kehilangan hak yang sudah jelas ini, dan dengan setiap serangan sesak napas, traktor berubah menjadi arena perjuangan melawan waktu, karena tidak ada cukup obat-obatan, tidak ada peralatan medis, dan tidak ada ambulans di depan mata.
Menghadapi kenyataan pahit ini, putranya hanya punya satu pilihan. Dia membawa inflator yang dirancang untuk memompa ban mobil, dan mengubahnya menjadi alat pertolongan pertama alternatif, dalam upaya putus asa untuk meringankan penderitaan ibunya sehari-hari. Hal ini bukanlah suatu inovasi, namun merupakan pertaruhan terakhir dalam hidup, yang didorong oleh naluri bertahan hidup dan rasa cinta anak terhadap ibunya, bukan oleh pengetahuan atau kemampuan.
Para aktivis menggambarkan kejadian ini sebagai sesuatu yang “mengejutkan” dan “memilukan” karena menunjukkan betapa parahnya krisis kemanusiaan dan terkikisnya komponen paling dasar layanan kesehatan di Jalur Gaza.
Para aktivis melihat kisah ini sebagai cermin penderitaan pasien di Gaza, dimana kekurangan peralatan medis atau obat-obatan tidak lagi menjadi pengecualian, namun telah menjadi kenyataan sehari-hari yang mengancam kehidupan ribuan pasien, terutama orang lanjut usia dan mereka yang menderita penyakit kronis, mengingat sistem kesehatan yang hampir runtuh.
Mereka menyatakan bahwa penggunaan pompa ban mencerminkan besarnya dampak kesehatan yang diakibatkan oleh penargetan rumah sakit dan pencegahan masuknya peralatan medis, mengingat apa yang dihadapi perempuan lanjut usia tersebut adalah bentuk lain dari perang pemusnahan, yang tidak terbatas pada pembunuhan langsung, namun meluas hingga mencekik kehidupan secara perlahan.
Para aktivis menekankan bahwa kisah perempuan lanjut usia ini bukanlah sebuah kasus individual, melainkan sebuah gambaran mendalam tentang penderitaan manusia yang lebih luas, dimana disabilitas dan kemiskinan mendorong orang untuk memikirkan solusi keras untuk bertahan hidup, mengingat tidak adanya layanan kesehatan dan merosotnya hak asasi manusia yang paling dasar.
Seorang aktivis menulis: “Di Gaza, bahkan udara pun terperangkap, dan alat peniup angin ini bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah kesaksian atas kejahatan yang sedang berlangsung.”
Yang lain mengatakan: “Ini bukan inovasi… Ini adalah seruan bisu dalam menghadapi kemiskinan dan pengabaian.”
Di sisi lain, orang lain melihat perilaku anak laki-laki tersebut sebagai contoh pengorbanan yang menyakitkan, dan menekankan bahwa apa yang dia lakukan bukanlah sebuah pilihan, melainkan upaya terakhir untuk merebut kehidupan dari taring penyakit dan kecacatan.
Tweeters juga mengingatkan bahwa kisah ini mewakili sebagian kecil dari penderitaan ribuan pasien yang menghadapi penyakit mereka dengan cara yang hampir tidak ada.
Sejumlah pengguna Twitter menyerukan intervensi segera dari pihak berwenang dan lembaga kemanusiaan untuk menyediakan alat bantu pernapasan dan perawatan medis yang sesuai bagi wanita lanjut usia tersebut, serta memperingatkan bahaya terus menggunakan metode primitif yang dapat mengancam nyawanya.
Para pengguna Twitter dengan suara bulat menyetujui satu fakta bahwa apa yang dialami wanita tua ini di dalam traktor pertanian di Khan Yunis bukanlah pemandangan yang luar biasa di Gaza, namun lebih merupakan gambaran intens penderitaan orang-orang yang terpaksa, di bawah beban perang genosida dan pengepungan Israel, untuk menghadapi penyakit ini dengan hal yang mustahil, dan untuk bertahan hidup dengan peralatan yang tidak layak untuk hidup.
















