Diterbitkan Pada 16/12/2025
|
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembaruan terakhir: 23:42 (waktu Mekah)
Otoritas Statistik Ghana mengumumkan bahwa perekonomian negara tersebut mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 5,5% selama kuartal ketiga tahun 2025, didorong oleh pemulihan sektor pertanian dan jasa.
Meski memiliki kinerja positif, namun tingkat pertumbuhan tersebut masih kurang dari angka 7% yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu, seiring dengan menurunnya kinerja sektor industri, dan pertumbuhannya tidak melebihi 0,8%, demikian dijelaskan Ketua Otoritas, Alhassan Iddrisu, dalam konferensi pers di ibu kota, Accra.
Sektor pertanian mencapai lonjakan signifikan sebesar 8,6% berkat peningkatan produksi ikan dan tanaman pangan, yang mengembalikan peran sektor ini dalam perekonomian nasional setelah periode penurunan.
Iddrisu menekankan bahwa “kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan sangat signifikan, yang mencerminkan pemulihan sektor yang cepat dan kontribusi nyata terhadap produk nasional.”
Sedangkan untuk sektor jasa, yang mencakup keuangan, asuransi, perdagangan dan pendidikan, mencatat pertumbuhan sebesar 7,6%, menegaskan peran pentingnya dalam mendukung perekonomian Ghana, terutama mengingat perluasan kegiatan komersial dan keuangan serta meningkatnya permintaan akan pendidikan dan layanan sosial.
Selain indikator-indikator tersebut, PDB non-minyak meningkat sebesar 6,8% dibandingkan 7,8% pada tahun lalu, yang mencerminkan kelanjutan aktivitas ekonomi yang jauh dari fluktuasi harga minyak.
Tingkat inflasi tahunan juga terus menurun selama sebelas bulan berturut-turut, mencapai 6,3% pada bulan November, yang merupakan level terendah sejak restrukturisasi indikator pada tahun 2021.
Menanggapi penurunan ini, Bank Sentral Ghana menurunkan suku bunga dasar sebesar 1.000 basis poin selama tahun berjalan, dalam sebuah langkah yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mendukung ekspektasi rendahnya inflasi yang berkelanjutan.
Konteks yang lebih luas
Indikator-indikator ini muncul ketika Ghana, produsen utama emas, minyak dan kakao, berupaya mengatasi krisis ekonomi terburuknya dalam beberapa dekade.
Para ahli percaya bahwa perbaikan berkelanjutan di bidang pertanian dan jasa dapat memberikan dorongan yang kuat terhadap perekonomian, namun kelemahan industri masih menjadi tantangan untuk mencapai pertumbuhan yang seimbang dan berkelanjutan.
Mengingat fakta-fakta ini, masih ada pertanyaan mengenai kemampuan pemerintah untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan pembangunan ekonomi dan kewajiban sosial, terutama dengan ketergantungan sektor-sektor besar pada bahan bakar tradisional dan industri berat.
















