Pusat Informasi Palestina
Pada hari Kamis, Komisi Tertinggi Urusan Kesukuan di Gaza menegaskan kembali bahwa akhir yang dicapai Yasser Abu Shabab diharapkan terjadi pada seseorang yang memilih untuk memutuskan nilai-nilai dan adat istiadat masyarakatnya, dan berpihak pada barisan penjajah alih-alih tetap setia pada tujuan nasionalnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komisi menjelaskan dalam pernyataannya bahwa rakyat Palestina, bersama keluarga, suku, dan faksi mereka, dengan jelas membedakan antara perselisihan politik yang terbuka untuk dialog, dan berubah menjadi tentara yang mengabdi pada pendudukan, yang hanya mengakui kekuatan, dan tidak memberikan keamanan kepada pihak mana pun, tidak peduli seberapa dekat pihak tersebut dengan pihak tersebut.
Komisi menambahkan bahwa pendudukan “tidak pernah menjadi pelindung siapa pun, karena mereka hanya melihat kepentingannya sendiri,” mengingat nasib setiap orang yang memilih untuk bekerja sama dengannya adalah pengkhianatan dan akhir yang tidak dapat dihindari dan tidak ada jalan keluar.
Dia menunjukkan bahwa orang-orang Palestina telah sepenuhnya membuka kedok mereka yang terlibat dalam serangan terhadap rakyat mereka atau berpartisipasi dalam pelanggaran hak-hak dan kesucian mereka, dan menekankan bahwa jalur buruh “tidak memiliki tempat di antara masyarakat negara ini.”
Komisi menyerukan kepada semua orang yang tersesat untuk kembali ke pelukan rakyatnya di mana mereka akan menemukan keamanan sejati, dan menekankan bahwa masyarakat Palestina, meskipun mengalami luka-luka, tidak membeda-bedakan anak-anaknya jika mereka kembali ke kelompoknya.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa rakyat Palestina telah membuktikan bahwa perjuangan hanya akan dilakukan di bawah panji kehormatan, kebebasan dan martabat, dan bahwa perlawanan mereka akan tetap menjadi simbol ketabahan mereka.
Dalam konteks ini, sumber yang dekat dengan Brigade Al-Qassam mengungkapkan bahwa pembunuhan Yasser Abu Shabab terjadi melalui penyergapan yang rumit di dalam kota Rafah, setelah seorang pemuda dari sukunya berhasil menyusup ke kelompok bersenjatanya dengan mengaku ingin bergabung dengannya, sebelum melakukan operasi dan melikuidasi Abu Shabab dan sejumlah rekannya.
Menurut sumber tersebut, penyergapan tersebut bertentangan dengan perkiraan, yang menunjukkan bahwa Al-Qassam menggunakan unit elit untuk menyerang kelompok tersebut, yang mendorong mereka untuk berlindung di dekat tank pendudukan, sebelum dikejutkan oleh penetrasi internal yang menyebabkan keberhasilan operasi tersebut.
















