Bongkar PSI! Ternyata Jokowi tak pernah diapresiasi PDIP semasa menjabat presiden

- Jurnalis

Jumat, 21 November 2025 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatPos.id – Ketegangan antara Presiden ke-7 Joko Widodo dan PDI Perjuangan kembali mengemuka.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia Ahmad Ali menyatakan, Jokowi “tidak pernah diapresiasi” oleh partai yang sebelumnya mendukungnya.

Pernyataan itu disampaikan Ali dalam Rapat Koordinasi Wilayah PSI Sultra di Kendari, Jumat 21 November 2025.

Dan hal itu langsung menarik perhatian publik karena mencerminkan dinamika politik baru pasca Jokowi lengser dari kursi presiden.

Menurut Ali, rekam jejak Jokowi sejak menjadi Wali Kota Solo hingga akhirnya dua kali menjabat presiden merupakan perjalanan yang didorong oleh kemauan rakyat.

Ali mengatakan, sejak awal Jokowi hadir bukan sebagai sosok yang didorong elite partai, melainkan sebagai representasi harapan masyarakat yang ingin melihat perubahan.

Ali menegaskan dirinya didorong oleh masyarakat untuk menjadi Wali Kota.

Ketika dia menjadi walikota, dia bekerja untuk masyarakat. “Dia menjaga kepercayaan masyarakat,” kata Ali dalam forum tersebut.

Namun Ali menilai dukungan masyarakat tidak diimbangi dengan apresiasi dari PDIP.

Ia mengatakan, Jokowi hanya dijadikan alat politik oleh partai berlambang banteng itu.

Klaim tersebut menjadi sorotan, apalagi selama satu dekade PDIP dikenal sebagai partai utama yang mengusung Jokowi dalam dua pemilu presiden.

Ali menggambarkan perjalanan politik Jokowi yang menurutnya “dipaksa oleh rakyat” untuk naik level.

Mulai dari Walikota, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI.

Namun, menurutnya, dorongan tersebut bukan datang dari internal partai, melainkan dari masyarakat luas yang memiliki kepercayaan terhadap Jokowi.

“Dia kemudian berada di partainya, yang sebelumnya dia klaim sebagai partainya, tapi tidak pernah diapresiasi di sana,” ujarnya.

Sejak tak lagi menjabat sebagai presiden, hubungan Jokowi dan PDIP tampak semakin renggang.

Berbagai pernyataan elite partai dan sikap politik PDIP kerap dibaca masyarakat sebagai kritik bahkan penegasan jarak terhadap Jokowi.

Situasi ini diperburuk dengan munculnya tudingan terhadap Jokowi setelah ia tidak lagi memegang kekuasaan formal.

Dalam konteks itu, Ali mengatakan, tak heran jika Jokowi kini memikirkan masa depan keluarganya, termasuk karier politik putranya.

Menurut Ali, pengalamannya di PDIP menyadarkan Jokowi bahwa dukungan politik tidak selalu linier dengan dedikasi atau kontribusi.

Salahkah jika ia kemudian juga memikirkan putra-putranya?

Padahal dia sendiri tidak pernah dihargai saat menjabat presiden. Dia tenggelam di sana, kata Ali.

Ali menegaskan, PSI tidak hanya ingin menjadi pihak yang menikmati popularitas Jokowi, tetapi juga menjadi pihak yang paling terdepan saat Jokowi diserang.

Sikap ini terwakili dalam pernyataan-pernyataan Ali yang tegas, bahkan kasar.

“Jangan hanya mau menjadikan Pak Jokowi sebagai patron politik kita, tapi kemudian kalau ada yang menghina, memukulinya, kita semua diam saja,” ujarnya.

Situasi ini menambah kompleksitas peta politik Indonesia pasca pergantian pemerintahan.

Dengan PSI yang kini menonjolkan kedekatannya dengan Jokowi, dan PDIP yang menonjolkan jarak.

Masyarakat menyaksikan adanya penataan kembali atau pergeseran poros politik baru yang mungkin akan membentuk dinamika lima tahun ke depan.

Ketegangan semakin terlihat antara hubungan Jokowi dan PDIP.

Hal ini kemungkinan besar akan terus menjadi salah satu isu utama dalam politik Indonesia, terutama menjelang kontestasi politik berikutnya.

Poin yang kini jelas adalah setelah satu dekade berkuasa, Jokowi menghadapi babak baru politik yang penuh tantangan, dan PSI ingin menjadi partai yang mendampinginya.***


JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Laptop untuk Mahasiswa yang Stylish dan Ringan? Coba ASUS Vivobook S14 OLED
Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.
Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Timur, Haji Uma Minta Jaksa Hati-Hati Menyusun Dakwaan
Antara Undang-undang tahun 1969 dan Pemilihan Anggota Dewan New Guinea tahun 1961
Shane McClanahan dari Rays: Keluar karena kemungkinan cedera punggung
Heboh Mall Besar di Jakarta dan Surabaya Ramai Pasang Pagar Tinggi, Ada Apa?
Berita Pasar Saham dan Alat Penelitian
Tunjangan Kinerja TNI Meningkat, Berikut Rinciannya dari Prajurit hingga Jenderal Bintang 4

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:13 WIB

Laptop untuk Mahasiswa yang Stylish dan Ringan? Coba ASUS Vivobook S14 OLED

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:14 WIB

Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:59 WIB

Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Timur, Haji Uma Minta Jaksa Hati-Hati Menyusun Dakwaan

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:46 WIB

Antara Undang-undang tahun 1969 dan Pemilihan Anggota Dewan New Guinea tahun 1961

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:35 WIB

Shane McClanahan dari Rays: Keluar karena kemungkinan cedera punggung

Berita Terbaru