RakyatPos.id – Akhir-akhir ini, linimasa media sosial saya dipenuhi dengan unggahan orang-orang bermain padel. Outfit sporty yang modis, latar lapangan kaca dengan pencahayaan estetik, dan tentunya—kopi pasca-laga yang tak kalah Instagramable. Saya pun mulai bertanya-tanya: apakah padel ini benar-benar tentang olahraga, atau sekadar cara baru bersosialisasi dan “tampil”?
Olahraga yang Lagi “Naik Daun”
Padel sendiri memang menarik. Tidak seberat tenis, lebih bersahabat bagi pemula, dan bisa dimainkan berpasangan tanpa harus punya teknik profesional. Saya pernah mencobanya sekali, dan harus diakui: seru. Badan berkeringat, tapi tidak kelelahan. Geraknya cepat, komunikasinya intens. Namun, yang lebih saya ingat dari pengalaman itu justru bukan permainannya, melainkan suasananya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lapangan padel yang saya kunjungi terasa seperti lounge dengan net. Musik upbeat, orang-orang tampil maksimal—bukan dalam permainan, tapi dalam fashion. Ada semacam kesan tak tertulis bahwa bermain padel bukan cuma soal berolahraga, tapi juga soal “dilihat” dan “di-tag” di media sosial.
Padel dan Lapisan Sosial
Kalau dipikir-pikir, ini bukan hal baru. Di banyak kota besar, olahraga memang makin lama makin beririsan dengan gaya hidup dan simbol kelas. Yoga sempat jadi tren, lalu beralih ke spinning, lalu golf, kini padel. Polanya hampir sama: muncul di kalangan terbatas, jadi tren, lalu mulai dilirik merek-merek lifestyle.
Apakah ini salah? Tidak juga. Tapi saya pribadi mulai melihat bahwa motivasi orang untuk main padel sering kali bukan (hanya) karena ingin sehat, tapi karena ingin terlihat aktif, fun, dan in touch dengan tren. Dan di situlah dilema muncul: ketika olahraga dikomodifikasi menjadi aksesori sosial, apakah ia masih jujur sebagai aktivitas fisik?
Kebutuhan atau Gaya?
Saya yakin masih banyak orang yang bermain padel karena murni suka dan ingin sehat. Tapi saya juga tidak bisa memungkiri bahwa sebagian besar eksistensi padel saat ini ditopang oleh daya tarik gaya hidup. Dari harga sewa lapangan, letak venue, sampai atmosfernya—semuanya mengarah ke satu hal: eksklusivitas.
Jadi, jika ditanya, “Padel ini kebutuhan olahraga atau sosialita?”, saya akan menjawab: lebih condong ke sosialita, setidaknya untuk saat ini di Indonesia. Olahraga hanyalah gerbang masuk, sementara motif sesungguhnya—bagi banyak pemain—ada pada citra dan komunitas.Tidak ada yang salah dengan menjadikan olahraga sebagai ajang sosial. Bahkan, mungkin itu bagus setidaknya orang tetap bergerak daripada hanya nongkrong di kafe. Tapi saya rasa penting juga untuk jujur pada diri sendiri: apakah kita datang ke lapangan padel untuk berkeringat, atau hanya untuk “ikut tren”?
Sebab pada akhirnya, yang membedakan olahraga sejati dan olahraga sosialita bukanlah raket atau skor, tapi niat. (CYE)
















