Waspadai potensi peningkatan hujan di tengah El Niño yang sangat kuat yang sedang berlangsung
Hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrim terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia pada periode 1–4 November 2026. Curah hujan harian tertinggi tercatat di Jawa Timur sebesar 358 mm/hari, disusul Bali (300 mm/hari), Aceh (167 mm/hari), dan Kalimantan Barat (101 mm/hari). Selain itu, hujan lebat juga terpantau di sejumlah wilayah lain antara lain Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, Sumatera Barat, dan Sulawesi Barat. Pada periode yang sama, angin berkecepatan hingga 35 knot terpantau di Lampung, dan laporan angin kencang juga tercatat di Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah, fenomena El Niño sangat kuat dan intens Dipol Samudera Hindia Positif (IOD) masih terpantau berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada Base III Oktober 2026. Kedua fenomena tersebut secara umum cenderung mengurangi potensi terbentuknya awan hujan di wilayah Indonesia. Sejalan dengan kondisi tersebut, hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan 543 titik pengamatan masuk kategori sangat panjang hingga ekstrim panjang. Hal ini menandakan kondisi kemarau masih berlangsung di sejumlah wilayah, meski hujan lebat juga terjadi di wilayah lain.
Kondisi kering ini juga perlu menjadi perhatian terkait potensi kebakaran hutan dan lahan. Hasil pantauan satelit menunjukkan terdapat titik panas (hotspot) dengan tingkat keyakinan yang tinggi, terbanyak terdeteksi di Papua Selatan sebanyak 615 titik, disusul Kalimantan Tengah (255 titik), dan Kalimantan Timur (223 titik). Namun dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat mendukung tumbuhnya awan hujan di sejumlah wilayah di Indonesia. Interaksi berbagai faktor tersebut membuat potensi hujan lebat masih perlu diantisipasi dalam sepekan ke depan, seiring dengan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
Dinamika Atmosfer Minggu Depan
Sepekan ke depan, dinamika atmosfer Indonesia masih akan dipengaruhi oleh fenomena tersebut El Nino sangat kuat dan Dipol Samudera Hindia (IOD) bernilai positif yang secara umum cenderung menurunkan potensi pembentukan awan hujan di beberapa wilayah. Meski demikian, aktivitas gelombang atmosfer dan kondisi atmosfer regional masih berpotensi mendukung tumbuhnya awan hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.
Aktivitas Osilasi Madden-Julian (MJO) diperkirakan berada pada fase 2 hingga fase 3 atau di sekitar Samudera Hindia, dengan aktivitas MJO diperkirakan secara spasial aktif di wilayah Kalimantan bagian selatan, Sulawesi tengah hingga selatan, Maluku, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Sedangkan gelombang Rossby khatulistiwa diperkirakan aktif di sebagian wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah dan Maluku Utara, sedangkan gelombang Kelvin berpotensi aktif di wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara. Aktivitas gelombang yang disertai pola perlambatan dan konvergensi angin di sejumlah wilayah dapat mendukung tumbuhnya awan hujan, apalagi jika didukung oleh kelembapan udara yang tinggi dan kondisi atmosfer yang tidak stabil.
Sejalan dengan kondisi tersebut, prediksi curah hujan BMKG Basis I hingga II bulan November 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan dengan kategori rendah hingga sedang (0–150 mm/basis). Namun potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah, sedangkan wilayah dengan curah hujan terbatas tetap perlu mengantisipasi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Potensi Hujan dalam Seminggu Kedepan
Periode 6 – 8 November 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan dengan intensitas ringan. Perlu diwaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan potensi wilayah kejadian sebagai berikut:
Waspada (hujan lebat): Aceh, Jawa Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.
Angin Kencang : Lampung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Periode 9 – 12 November 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan dengan intensitas ringan. Perlu diwaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Pegunungan Papua, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan potensi wilayah kejadian sebagai berikut:
- Perhatian (hujan sangat deras – ekstrim): Sumatera Utara.
- Waspada (hujan lebat): Aceh dan Sumatera Barat.
- Angin kencang: Papua Selatan
Menarik
Masyarakat diimbau untuk terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang semakin kering seiring berlanjutnya musim kemarau. Penggunaan tabir surya diperlukan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.
Ketika kondisi kekeringan semakin parah, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kesadaran akan ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.
Meski musim kemarau masih dominan, namun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang berpotensi terjadi di kemudian hari.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman aplikasi InfoBMKG dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.
Catatan:
Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pemutakhiran pada tanggal 5 November 2026 pukul 16.00 WIB.
Jakarta, 5 November 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik link ini jika PDF diatas tidak muncul.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency



















