Laporan Jurnalis Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh
RakyatPos.id, BANDA ACEH – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia bekerja sama dengan Tribun Network menggelar workshop bertajuk “Membangun Media Lokal Berkelanjutan” di Tropicollo, Banda Aceh, Jumat (24/7/2026).
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah jurnalis dari berbagai media di Aceh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani mengatakan, disrupsi teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi, dari media konvensional menjadi platform digital yang semakin beragam.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga menghadirkan tantangan baru karena semakin sulitnya masyarakat membedakan konten buatan manusia dengan hasil AI.
Ditegaskannya, saat ini media tidak lagi hanya dituntut cepat, tapi juga mampu menyajikan informasi yang berkualitas, kredibel, dan menjadi rujukan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Komisi Riset, Pendataan, dan Pengesahan Pers Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto menyoroti tren “zero click” yang berarti masyarakat cukup membaca ringkasan informasi yang dibuat AI di mesin pencari tanpa perlu membuka situs media.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya trafik media, padahal produk jurnalistik lahir melalui proses kerja kolektif yang membutuhkan biaya dan tenaga.
Dalam kesempatan yang sama, Editor Online Manager Serambinews.com, Safriadi memaparkan pengalaman transformasi Serambi Indonesia dari media cetak ke platform digital sejak tahun 2017.
Ia menjelaskan, perubahan ini menuntut jurnalis untuk bekerja lebih cepat karena berita harus segera terbit setelah peliputan dilakukan.
Selain itu, Serambinews.com juga mengembangkan distribusi konten melalui media sosial, termasuk Facebook yang kini menjadi salah satu sumber pendapatan perusahaan.
Workshop kemudian ditutup dengan sesi mengenai strategi pembuatan konten di media sosial yang disampaikan oleh Digital Content Strategist dan Content Creator, Awien Syuib.
Dalam materinya, Awien menjelaskan bahwa perkembangan algoritma media sosial telah mengubah cara kreator memperoleh pendapatan sehingga jumlah pengikut tidak lagi menjadi faktor utama.
Menurutnya, jika pada tahun 2015 kreator harus memiliki puluhan hingga ratusan ribu pengikut untuk menghasilkan uang dari media sosial, kini kondisi tersebut sudah berubah.
Ia menjelaskan, perubahan algoritma membuat jumlah pengikut tidak lagi menjadi penentu utama berapa banyak orang yang melihat suatu konten.
Oleh karena itu, kreator dan media perlu memahami perilaku penonton dan menggunakan data sebagai dasar pembuatan konten.
Pembawa acara: Siti Masyithah
Redaktur: Rahmat Erik Aulia
















