Oleh : Eva Herlina, ST, MT *)
GEJALA Minimnya siswa baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) pada tahun ajaran 2026/2027 menjadi perhatian masyarakat.
Di berbagai daerah, ada SD Negeri yang hanya menerima dua hingga lima siswa baru, bahkan ada yang tidak menerima siswa sama sekali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi ini memunculkan berbagai respons, mulai dari penurunan angka kelahiran, perubahan struktur demografi, urbanisasi, hingga pergeseran distribusi penduduk menuju kawasan pemukiman baru.
Fenomena tersebut direspon pemerintah dengan melakukan pendataan dan pembahasan berbagai alternatif kebijakan, termasuk opsi penggabungan sekolah (regrouping) bagi sekolah yang jumlah siswanya sangat sedikit.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan demografi mempunyai pengaruh besar terhadap kondisi ini.
Menurunnya angka kelahiran, meningkatnya angka harapan hidup, perubahan pola pemukiman, dan tingginya biaya hidup juga berdampak pada jumlah anak usia sekolah di berbagai daerah.
Namun fenomena ini tampaknya tidak cukup dijelaskan hanya melalui pendekatan demografis.
Di tengah menurunnya jumlah siswa di sejumlah SD Negeri, ada sekolah berbasis agama yang tetap mendapat kepercayaan masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan pendidikan yang terjadi tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah peserta didik.
Namun juga berkaitan dengan perubahan orientasi masyarakat dalam memandang tujuan dan makna pendidikan.
Pada hakikatnya setiap permasalahan muncul ketika terdapat kesenjangan antara kenyataan yang terjadi dengan harapan yang ingin dicapai.
Baca juga: Disdikbud Akan Panggil Seluruh Kepala Sekolah, Karena Biaya Wisuda Membebani Orang Tua Siswa
Dalam konteks pendidikan, kecemasan orang tua menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi pendidikan yang mereka rasakan dengan harapan mereka terhadap masa depan anaknya.
Pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai sarana memperoleh nilai akademik atau ijazah saja, namun juga sebagai proses pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai moral, dan pengembangan kepribadian peserta didik.
Oleh karena itu, fenomena minimnya siswa baru di sekolah negeri menimbulkan pertanyaan yang lebih mendasar.
















