Sentani, RakyatPos.id – Program Makan Bergizi Gratis atau MBG dinilai membawa dampak positif terhadap kehadiran dan semangat belajar siswa di SMA YPPGI Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Kepala SMA YPPGI Sentani, Teli Tabuni mengatakan, sejak dilaksanakannya Program MBG terjadi peningkatan kehadiran siswa di sekolah.
Bahkan menurutnya, masih ada siswa yang tetap datang ke sekolah meski tidak ada kegiatan belajar mengajar, karena ingin mendapatkan makanan bergizi yang dibagikan setiap hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bahkan ada siswa yang datang meski tidak ada kegiatan pembelajaran karena ingin menerima MBG. Ini menjadi daya tarik bagi anak-anak,” kata Tabuni di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Jumat (17/7/2026).
Namun, dia menilai pelaksanaan program tersebut masih menghadapi sejumlah kendala yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya adalah banyaknya sisa makanan karena tidak semua siswa menghadiri atau mengonsumsi makanan yang dibagikan.
Selain itu, sekolah juga belum memiliki fasilitas pendukung yang memadai, seperti tersedianya air minum, gelas, sendok, dan tempat sampah saat pembagian makanan berlangsung.
“Masyarakat makan pasti perlu minum. Tapi air tidak ada. Tempat sampah juga kurang sehingga sampah makanan menumpuk di sekolah,” ujarnya.
Tabuni menilai pembagian makanan di ruang kelas seringkali mengganggu proses belajar mengajar. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah membangun dapur MBG di setiap sekolah agar siswa dapat mengambil makanan pada waktu istirahat tanpa mengganggu kegiatan pembelajaran.
Dikatakannya, sekolah juga harus diberi kewenangan untuk menyesuaikan menu makanan dengan potensi pangan lokal, seperti ikan, pisang rebus, dan bahan makanan lainnya yang mudah diperoleh di daerah tersebut.
Ia berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.
“Kalau manfaatnya banyak tentu akan dilanjutkan. Tapi kalau banyak kendala yang ditemukan harus diperbaiki agar program ini benar-benar efektif,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan YPPGI Sentani, Fetri Wuryandari mengatakan, Program MBG sangat membantu para siswa, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu dan siswa yang tinggal sendirian di Sentani karena orang tuanya berada di desa.
Menurut Fetri, sekitar 40 hingga 60 persen siswa SMA YPPGI Sentani sering datang ke sekolah tanpa sarapan.
“Sekitar 40 hingga 60 persen siswa kami sering tidak sarapan sebelum berangkat sekolah. Banyak dari mereka yang tinggal sendiri karena orang tuanya ada di desa,” kata Fetri Wuryandari.
Dijelaskannya, sebelum Program MBG dimulai, sejumlah mahasiswa kerap mengeluh sakit perut atau meminta izin pulang setelah jam istirahat karena belum makan sejak pagi. Kondisi tersebut kini mulai berkurang.
“Sekarang hampir tidak ada lagi alasan seperti itu. Dengan MBG mereka bisa tetap belajar sampai selesai, karena jadwal belajar kita sampai pukul 14.15 WIB,” ujarnya.
Menurutnya, pihak sekolah rutin memberikan masukan kepada penyedia makanan agar menu yang disajikan sesuai dengan selera siswa. Evaluasi ini membantu meningkatkan kualitas layanan MBG dan membuat siswa lebih semangat datang ke sekolah.
“Program ini sangat membantu. Anak-anak lebih semangat datang ke sekolah dan lebih siap mengikuti pembelajaran,” ujarnya.
Meski mengapresiasi pelaksanaan Program MBG, Fetri menekankan pentingnya dukungan orang tua dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Ia berharap para orang tua terus memantau kedisiplinan dan kehadiran anaknya di sekolah karena kehadiran merupakan salah satu faktor penting keberhasilan proses pembelajaran.
“Kami berharap para orang tua terus mendukung program sekolah dan memantau kehadiran anaknya. Kehadiran sangat penting karena siswa yang sering absen akan kesulitan dalam mengikuti materi pelajaran,” ujarnya.
Menurut Fetri, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah menjadi kunci agar Program MBG tidak hanya meningkatkan asupan gizi siswa, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi siswa di Papua.
















