Desa Sagu dan Mangrove Melindungi Warga Port Numbay dari Ledakan Bom Perang Dunia Kedua

- Jurnalis

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jayapura, RakyatPos.id – Sejak tentara Jepang menduduki Hollandia, sekarang Kota Jayapura, Provinsi Papua pada 19 April 1942, mereka mulai membangun gua-gua sebagai benteng pertahanan.

Selama dua tahun, militer Jepang membangun jalan darat, pelabuhan, dan pangkalan lapangan terbang di Sentani, Kabupaten Jayapura kini mampu menampung 350 pesawat tempur jenis Zero.

Mitsubishi A6M Zero adalah pesawat tempur jarak jauh andalan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Arnold Mampioper dalam buku 'Jayapura Selama Perang Pasifik' menulis bahwa Jepang menduduki Hollandia selama dua tahun. Pasukan Amerika Serikat kemudian menyerang pertahanan Jepang pada bulan Maret dan April 1944.

Sekutu Amerika Serikat melepaskan bom yang menghancurkan seluruh pertahanan di kota Hollandia saat itu pada tanggal 30 hingga 16 April 1944.

Sebelumnya pada tahun 1942, seluruh warga di Port Numbay dari Kampung Kayu Pulo, Kayu Batu semuanya mengungsi ke Kampung Ormu untuk menyelamatkan diri.

Saat itu, bom pesawat tempur Sekutu Amerika Serikat hanya meledak di dekat Bank Indonesia dan Pelabuhan Porasko TNI AL sekarang. Sisanya tidak meledak karena terendam di dusun sagu warga Kayu Pulo dan hutan bakau dekat Polda Papua, kata Rudy Mebri, anggota DPRD Kota Jayapura kepada RakyatPos.id, Senin (13/7/2026).

Menurut dia, seluruh kawasan APO, termasuk Bank Indonesia, sebelumnya merupakan kawasan taman warga Kampung Kayu Pulo, khususnya marga Chaay.

“Saya pernah bercerita kepada ayah almarhum Pdt Silas Chaay, tokoh Kampung Kayu Pulo, dulu mereka punya dusun Sagu di sekitar Sungai Anafre dan kebun di APO,” ujarnya.

Rudy Mebri mengatakan, masyarakat Kayu Pulo selalu menjaga ekosistem pesisir. Saat mencari ikan, setiap marga sudah mengetahui dimana letak zona di wilayahnya, dan tidak hanya mencari ikan di lokasi marga lain.

“Misalnya Marga Sibi mempunyai wilayah pemancingan sendiri. Kebijaksanaan menjaga lingkungan inilah yang mengakibatkan adanya pemukiman dan ada beberapa warga yang selamat dari ledakan bom, karena dilindungi oleh kampung sagu peredam ledakan bom,” kata Rudy Mebri.

Almarhum Hans Roberth Ohee (86 tahun) saat itu mengaku, saat masih kecil di Kampungg Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, ia juga selamat dari ledakan bom karena saat itu banyak terdapat kampung sagu di sekitar Kalkote, di depan pelabuhan Kalkote.

“Pagi-pagi sekali kami melihat puluhan pesawat tempur Sekutu Amerika Serikat terbang di permukaan Danau Sentani menuju lapangan terbang Jepang di Sentani,” kata Hans Ohee saat itu.

Menurutnya, sebelum pasukan Sekutu AS menyerang, mereka melepaskan bom dari udara. Seluruh warga lari berpencar dan bersembunyi di sekitar dusun Desa Sagu.

“Untungnya bomnya tidak meledak dan memusnahkan kita semua,” ujarnya.

Dalam bukunya Arnold Mampioper menjelaskan bahwa saat itu sedang terjadi pertempuran di Hollandia dengan kode nama Operation Reckless. Ini adalah pertempuran antara pasukan Sekutu dan Jepang pada Perang Dunia II.

Katanya, hampir seluruh pasukan Sekutu dipasok oleh Amerika Serikat. Sebagian besar berasal dari dua divisi infanteri Angkatan Darat Amerika Serikat. Mereka dikerahkan di darat.

Dukungan udara dan laut sebagian besar terdiri dari aset AS, meskipun Australia juga memberikan dukungan udara selama operasi pencegahan dan pasukan pemboman angkatan laut.

Sekutu AS mulai menyerang antara 22 April dan 6 Juni 1944 dan sebagai bagian dari kampanye Nugini. Operasi tersebut terdiri dari dua pendaratan, satu di Teluk Tanahmerah dan lainnya di Teluk Humboldt, dekat Hollandia.

Saat pasukan Sekutu AS hendak membangun tangki minyak di Depapre, warga Teluk Tanah Merah disuruh membuka lahan yang dipersiapkan menjadi tempat penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) pada Perang Dunia Kedua.

“Waktu itu orang tua (mereka) bercerita kepada saya bahwa tentara AS memerintahkan mereka untuk membuka lahan saja dan keesokan harinya orang tua di kampung kaget karena sudah penuh dengan tangki minyak dan sudah menjadi kota. Kata orang tua itu kota dalam semalam di Kampung Depapre,” kata Manaseh Soumilena kepada RakyatPos.id di Kantor YPMD Papua, Kota Jayapura.

Hal ini juga dibenarkan oleh anggota DPRK Kabupaten Jayapura, Amos Soumilena. Katanya benar ada cerita Kota Satu Malam di Depapre, karena pada siang hari warga membuka lahan dan besok paginya sudah berubah menjadi kota yang dipenuhi tangki minyak.

“Sampai saat ini di dekat rumah saya masih ada tangki minyak dan berisi solar hitam,” kata Amos Soumilena.

Menurutnya, perlu ada perlindungan hukum agar tangki minyak sisa perang tidak berpindah tangan menjadi besi tua (bestu) alias tempat penyimpanan bestu.

Jenderal Mac Arthur membangun markas di Ifar Gunung

Setelah pasukan Sekutu Amerika berhasil menghabisi pasukan Jepang di Hollandia, barulah Jenderal Douglas Mac Arthur masuk ke Hollandia dan langsung melirik ke indahnya lokasi Ifar Gunung yang dulunya merupakan markas pasukan Sekutu untuk menyerang lapangan udara Jepang di tempat yang sekarang menjadi bandara Sentani.

Tak lama setelah pendaratan amfibi besar-besaran Sekutu di Pantai Hamadi, Hollandia pada tanggal 22 April 1944, pasukan Sekutu meluncurkan Satuan Tugas “Reckless” (dibantu oleh kapal angkatan laut AS dan Australia) untuk merebut wilayah Hollandia yang penting dan strategis dari Jepang.

Selanjutnya di Ifar Gunung, jenderal berjuluk Caisar Amerika itu tinggal di sebuah vila yang terletak di lereng Pegunungan Cyclops, menghadap Danau Sentani.

Ia tinggal dan bermarkas di Gunung Ifar di kaki Gunung Cykloop hingga berangkat kampanye di Filipina pada Januari 1945.

Kata-kata terkenal kepada temannya, Jenderal Jonathan Wainwright yang merupakan komandan AS yang memimpin pertahanan dan penyerahan Filipina adalah “Saya telah berhasil melewatinya dan saya akan kembali”.

“Saya telah lolos dan saya akan kembali,” kata Mac Arthur ketika meninggalkan Jenderal Jonathan Wairight di Filipina.

Mac Arthur kembali, patungnya dibangun di Teluk Leyete, Filipina dan kini menjadi lokasi wisata sejarah terkenal di sana.

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Laptop untuk Mahasiswa yang Stylish dan Ringan? Coba ASUS Vivobook S14 OLED
Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.
Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Timur, Haji Uma Minta Jaksa Hati-Hati Menyusun Dakwaan
Antara Undang-undang tahun 1969 dan Pemilihan Anggota Dewan New Guinea tahun 1961
Shane McClanahan dari Rays: Keluar karena kemungkinan cedera punggung
Heboh Mall Besar di Jakarta dan Surabaya Ramai Pasang Pagar Tinggi, Ada Apa?
Berita Pasar Saham dan Alat Penelitian
Tunjangan Kinerja TNI Meningkat, Berikut Rinciannya dari Prajurit hingga Jenderal Bintang 4

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 18:13 WIB

Laptop untuk Mahasiswa yang Stylish dan Ringan? Coba ASUS Vivobook S14 OLED

Jumat, 31 Juli 2026 - 01:14 WIB

Ballroom Trump Semakin Maju. Legalitasnya Masih Dipertanyakan.

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:59 WIB

Kasus Penganiayaan Anak di Aceh Timur, Haji Uma Minta Jaksa Hati-Hati Menyusun Dakwaan

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:46 WIB

Antara Undang-undang tahun 1969 dan Pemilihan Anggota Dewan New Guinea tahun 1961

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:35 WIB

Shane McClanahan dari Rays: Keluar karena kemungkinan cedera punggung

Berita Terbaru