DAMPAK perkembangan Palsu Intelijen (AI) bukan hanya soal jumlah PHK. Namun perekrutan pekerja baru juga melambat.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan AI menyebabkan perusahaan-perusahaan besar memperlambat perekrutan karyawan baru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tingkat perekrutan dan PHK yang rendah diperkirakan akan terus berlanjut di pasar tenaga kerja.
Hal ini berpotensi mempersulit para penganggur untuk mendapatkan pekerjaan baru.
Meskipun demikian, dampak perlambatan dalam perekrutan karyawan baru dikatakan kurang terlihat di perusahaan-perusahaan kecil.
“AI benar-benar berdampak pada perusahaan-perusahaan besar,” ujarnya, dikutip dari CNBC International, Selasa (6/1).
Penggunaan AI dimulai sejak saat itu ObrolanGPT dimiliki oleh OpenAI pada tahun 2022 yang langsung booming tak lama setelah diluncurkan.
Banyak perusahaan yang mengadopsi teknologi ini untuk operasional dan karyawannya.
Namun, hal ini juga menimbulkan banyak kekhawatiran seiring dengan pesatnya perkembangan AI.
Mulai dari tenaga kerja yang terancam, penggunaan untuk produktivitas hingga investasi teknologi yang salah.
Namun, Kashkari mengatakan sejumlah bisnis mulai memperoleh keuntungan dari investasi yang mereka lakukan.
Hal ini bahkan diakui oleh perusahaan-perusahaan yang awalnya skeptis terhadap AI.
”Tidak diragukan lagi, sejumlah investasi yang salah atau keliru telah terjadi. Namun ada banyak anekdot tentang bisnis yang menggunakan investasi ini dan melihat peningkatan nyata dalam produktivitas,” jelasnya.
“Bisnis yang saya ajak bicara, yang awalnya skeptis dua tahun lalu, kini mengatakan bahwa mereka benar-benar menggunakannya sekarang,” tambahnya.
(*/hebat
















