Kakek Biden Bisa Mundur, Wall Street dan Rupiah Bersiap Hadapi Jumat Suci

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juli 2024 - 02:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RakyatPos.id – Sentimen dari rilis data inflasi AS akhirnya mencapai anti-klimaks di pasar global. Rilis data inflasi yang sangat dinanti-nantikan itu agak mengejutkan karena menunjukkan angka inflasi yang “lebih baik” dari ekspektasi pelaku pasar.

Otoritas AS merilis angka inflasi selama 12 bulan terakhir pada bulan Juni sebesar 3,0 persen, yang tercatat lebih rendah dari ekspektasi investor sekitar 3,1 persen. Angka inflasi tersebut diharapkan investor semakin membuka peluang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rilis data yang cepat itu disambut dengan aksi beli panik oleh investor Wall Street, yang membuat indeks melonjak tajam. Indeks DJIA terlihat melonjak ke kisaran 39.875,6 atau mendekati titik tertingginya sepanjang sejarah di kisaran 40.077,4.

Namun tak lama kemudian, aksi ambil untung terlihat berbalik arah dan menenggelamkan Indeks dengan sangat tajam. Pola pergerakan Indeks dengan hubungan serupa juga terpantau pada Indeks S&P 500 dan Indeks NASDAQ yang bahkan lebih parah dengan berakhir pada zona pelemahan tajam.

Bursa saham Wall Street akhirnya ditutup secara tragis pada Kamis, 11 Juli 2024, beberapa jam lalu. Indeks DJIA masih bertahan di zona positif dengan kenaikan tipis 0,08 persen dan berakhir di level 39.753,75. Sementara itu, indeks S&P 500 berakhir lebih buruk dengan penurunan tajam 0,88 persen ke level 5.584,54.

Situasi makin suram terjadi pada indeks Nasdaq yang anjlok 1,95 persen hingga berakhir di level 18.283,41. Anjloknya Indeks Nasdaq terlihat disumbang signifikan oleh sejumlah saham unggulan, seperti: Tesla yang ambruk 8,44 persen, Lam Research yang ambruk 5,97 persen, Nvidia yang anjlok 5,57 persen, dan Applied Materials yang anjlok 5,38 persen. Aksi tekanan jual tragis kali ini tampak makin suram dengan datangnya berita dari kancah politik AS. Laporan terbaru menyebutkan tampaknya mulai menarik diri dari pencalonan presiden Joe Biden yang makin lantang.

Biden yang dinilai sudah terlalu tua dan kerap kali melakukan kesalahan dalam pidatonya membuat sejumlah kalangan di Partai Demokrat khawatir. Baru-baru ini, bahkan sejumlah donatur Demokrat disebut-sebut mulai menghentikan pendanaan hingga partai tersebut menemukan kandidat lain.

Laporan terkait sebelumnya juga menyebutkan bahwa Opa Biden keliru menyebut Presiden Ukraina sebagai Putin dalam sebuah pertemuan NATO. Biden dalam konferensi pers juga terekam salah menyebut Wakil Presiden Kamala Harris dengan menyebutnya Trump yang merupakan calon presiden dari Partai Republik.

Rangkaian keadaan ini tampak sempurna bagi para investor untuk beralih ke tekanan jual, terutama karena Indeks telah melonjak secara konsisten dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya.

Kesuraman Wall Street bahkan terlihat meluas pada sesi perdagangan akhir pekan di Asia, Jumat, 12 Juli 2024. Pantauan terkini menunjukkan Indeks Nikkei (Jepang) mulai anjlok tajam hingga 1,72 persen ke level 41.497,95. Anjlok juga terlihat melanda Indeks KOSPI (Korea Selatan) yang anjlok 0,91 persen ke level 2.864,96. Sementara itu, Indeks ASX 200 masih berupaya bertahan dengan naik tipis 0,19 persen ke level 7.904,2.

Bursa Efek Indonesia harus bersiap menghadapi sesi perdagangan akhir pekan ini sebagai Jumat suci. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini cenderung mengalami tekanan jual setelah gagal mengikuti pesta reli bursa saham global pada sesi perdagangan kemarin. Namun, IHSG masih berpeluang kembali mengalami tekanan jual terbatas.

Kondisi serupa juga terjadi di pasar uang, di mana nilai tukar mata uang utama dunia terpantau melonjak tajam pasca rilis data inflasi AS. Namun, lonjakan penguatan tersebut perlahan tergerus hingga sesi perdagangan Asia pagi ini.

Oleh karena itu, prospek Rupiah juga diperkirakan akan mengalami pergerakan yang kurang menguntungkan pada minggu ini. Dan situasi tersebut terlihat sejalan dengan tinjauan teknikal tim riset RMOL yang sempat disinggung dalam tinjauan pasar sesi perdagangan kemarin, di mana pola teknikal pada time frame H4 menunjukkan telah terjadi divergensi pada instrumen teknikal MACD. Divergensi tersebut terlihat pada Euro, Poundsterling, dan Dolar Australia.

RakyatPos.ID Network

Berita Terkait

Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di Hotel Mewah London, Diduga Kecanduan Narkoba
Pangeran Harry dan Meghan Membawa Anaknya Menginap di Rumah Putri Diana
'Mata ganti mata', Iran mengancam akan menyerang Inggris jika membantu operasi militer AS
Kuasa hukum Dokter Tifa yakin jaksa tidak akan mendakwa ulang kliennya: penolakan kami tetap ada
Beut Panteu Keude, Cara Kreatif Kemenag Aceh Barat Tebarkan Dakwah di Masyarakat
Keributan hebat! Bung Harlino Kembalikan Rp 5,2 Miliar Terkait PT Dana Syariah Indonesia
Real Madrid memasuki perlombaan untuk mengontrak Yan Diomande dari RB Leipzig
Iran Pindahkan Ribuan Sentrifugal Nuklir ke Gunung Beliung di Kedalaman 100 Meter

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 06:02 WIB

Pangeran Saudi Ditemukan Meninggal di Hotel Mewah London, Diduga Kecanduan Narkoba

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:55 WIB

Pangeran Harry dan Meghan Membawa Anaknya Menginap di Rumah Putri Diana

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:53 WIB

'Mata ganti mata', Iran mengancam akan menyerang Inggris jika membantu operasi militer AS

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:26 WIB

Kuasa hukum Dokter Tifa yakin jaksa tidak akan mendakwa ulang kliennya: penolakan kami tetap ada

Sabtu, 25 Juli 2026 - 05:04 WIB

Beut Panteu Keude, Cara Kreatif Kemenag Aceh Barat Tebarkan Dakwah di Masyarakat

Berita Terbaru