BGN menegaskan gaji pengawas SPPG tidak dipotong, relawan MBG tidak perlu dikurangi

- Jurnalis

Sabtu, 7 November 2026 - 07:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kampiunnews|Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan kebijakan pembatasan biaya operasional maksimal Rp3.000 per penerima manfaat per hari dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak berdampak pada pembayaran gaji pengawas gizi dan pengawas keuangan pada Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

BGN juga memastikan tidak ada kewajiban bagi mitra SPPG untuk mengurangi jumlah relawan, termasuk petugas ketertiban dan pengemudi, akibat penerapan kebijakan tersebut.

Juru Bicara BGN Tysa Novenny mengatakan, gaji pengawas gizi dan pengawas keuangan di luar komponen biaya operasional, yakni maksimal Rp3.000 per penerima manfaat.

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gaji pengawas gizi dan keuangan, di luar komponen biaya operasional, maksimal Rp3.000 per penerima manfaat, kata Tysa di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Dia menjelaskan, pembayaran gaji pengawas dilakukan melalui mekanisme isi ulang akun virtual (VA) yang disalurkan setiap 10 hari sekali ke setiap SPPG.

Penyaluran ini mencakup berbagai kebutuhan pelaksanaan program, mulai dari bahan baku, operasional, insentif pelayanan, jaminan kualitas hingga pembayaran gaji pengawas gizi dan keuangan.

“Jadi, ketika melakukan top up virtual account, itu akan menutupi biaya bahan baku, insentif operasional dan pelayanan, serta jaminan kualitas dan biaya gaji pengawas gizi dan pengawas keuangan,” jelasnya.

BGN menegaskan, pemisahan alokasi anggaran merupakan bagian dari mekanisme pembiayaan MBG agar setiap komponen kebutuhan SPPG tetap terpenuhi sesuai peruntukannya.

Selain memastikan gaji supervisor tidak terdampak, BGN juga menjawab kekhawatiran mengenai kemungkinan pengurangan tenaga relawan akibat pembatasan biaya operasional.

Tysa menegaskan, jumlah kebutuhan relawan yang diajukan BGN merupakan perhitungan alternatif untuk membantu mitra menyesuaikan jumlah pekerja dengan kapasitas layanan dapur, bukan batasan maksimal jumlah relawan yang bisa dipekerjakan.

Berdasarkan referensi BGN, kebutuhan relawan disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang dilayani oleh masing-masing SPPG. Dapur dengan lebih dari 3.000 penerima manfaat dapat menggunakan rujukan 47 relawan per hari.

Sedangkan SPPG dengan kapasitas pelayanan 2.500–2.999 penerima manfaat menggunakan referensi 42 relawan, 2.000–2.499 penerima manfaat 33 relawan, 1.500–1.999 penerima manfaat 24 relawan, dan 1.000–1.499 penerima manfaat 15 relawan.

Angka tersebut bukanlah bekal yang mengharuskan dapur mengurangi tenaga kerja. SPPG tetap diperbolehkan menambah jumlah relawan sepanjang total biaya operasional tidak melebihi pagu Rp3.000 per penerima manfaat per hari.

“Bagaimana jika jumlah relawan melebihi jumlah kebutuhan alternatif? Tidak apa-apa, asalkan biaya operasionalnya tidak melebihi pagu Rp3.000 per penerima manfaat per hari,” kata Tysa.

Menurut dia, kebutuhan tenaga kerja harus mempertimbangkan skala pelayanan di masing-masing dapur. Semakin besar jumlah penerima manfaat, semakin besar pula kebutuhan energi untuk menjamin proses pengolahan, pembagian, distribusi, dan pelayanan berjalan optimal.

BGN Menawarkan Sistem Kerja Shift

Sebagai alternatif penataan tenaga kerja, BGN membuka peluang untuk menerapkan sistem ini bergeser atau jadwal kerja bergilir untuk sukarelawan.

Melalui skema ini, mitra SPPG dapat mengatur pembagian jadwal kerja sesuai kebutuhan pelayanan sehari-hari tanpa harus mengurangi jumlah relawan secara langsung.

“Kami tidak pernah meminta dapur SPPG mengurangi jumlah relawan. Namun mitra dapat mencoba alternatif pengaturan melalui sistem shift relawan harian sesuai kebutuhan dan jumlah penerima manfaat yang dilayani,” tegas Tysa.

Penegasan BGN ini penting agar kebijakan efisiensi biaya operasional MBG tidak menimbulkan keresahan di kalangan mitra dan relawan SPPG.

Di sisi lain, pengaturan anggaran dan tenaga kerja tetap harus memperhatikan kualitas pangan, ketepatan distribusi, standar keamanan pangan dan kelangsungan pelayanan kepada penerima manfaat.

Dengan demikian, efisiensi penerapan MBG tidak hanya diukur dari pengendalian biaya, namun juga kemampuan menjaga kualitas layanan dan keberlanjutan program tanpa mengorbankan kesejahteraan personel yang terlibat.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Berdasarkan Angka – Game 9: New Mexico di Nevada – New Mexico Lobos
Majalah ICT – Drama Tangisan Pendukung Jokowi di Medsos: Narasi yang Tak Laku dan Publik Fokus Pembuktian Ijazah
Kaufman-Renn berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman Jayhawks
Basarnas Evakuasi Pria yang Jatuh ke Sumur di Jepara
Susunan pemain Necaxa vs Tijuana: jadwal dan tempat menonton di AS
NC State Menyambut Buccaneers Universitas Negeri Tennessee Timur
BMKG Waspadai Badai Petir dan Angin Kencang Melanda Malut hingga 8 November
Skor Cavaliers vs 76ers. Pembaruan pertandingan langsung dari kepulangan LeBron James
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 08:25 WIB

Berdasarkan Angka – Game 9: New Mexico di Nevada – New Mexico Lobos

Sabtu, 7 November 2026 - 08:20 WIB

Majalah ICT – Drama Tangisan Pendukung Jokowi di Medsos: Narasi yang Tak Laku dan Publik Fokus Pembuktian Ijazah

Sabtu, 7 November 2026 - 08:05 WIB

Kaufman-Renn berharap dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman Jayhawks

Sabtu, 7 November 2026 - 08:01 WIB

Basarnas Evakuasi Pria yang Jatuh ke Sumur di Jepara

Sabtu, 7 November 2026 - 07:45 WIB

Susunan pemain Necaxa vs Tijuana: jadwal dan tempat menonton di AS

Berita Terbaru

HEADLINE

Basarnas Evakuasi Pria yang Jatuh ke Sumur di Jepara

Sabtu, 7 Nov 2026 - 08:01 WIB

Al Jazeera - LIVE