RakyatPos.id – MV Haida tiba di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (13/9) malam, membawa 49 penumpang yang selamat dari tenggelamnya kapal Virgo Transport 8 di Laut Jawa. (ANTARA/Firman)
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
JawaPos.com – Kapal Virgo Transport 8 tiba-tiba miring ke kiri dengan sangat cepat sekitar pukul 01.20 WITA tanpa ada alarm atau pemberitahuan sebelum akhirnya tenggelam. Hal ini berdasarkan keterangan penumpang yang selamat, Ahmad Saudi.
Ahmad mengaku sedang tidur di sofa saat mendengar penumpang berlari dan mengatakan kapal miring, sehingga ia langsung berdiri dan melihat kapal sudah miring sebelum berusaha menyelamatkan diri.
Saya tanya kenapa pak?, lalu jawabannya kapalnya miring, lalu saya berdiri, ternyata miring kan. Saya langsung lari ke bawah, kata Ahmad saat ditemui di ruang pelayanan kesehatan darurat korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dilansir Antara, Minggu (13/9) malam.
Sesampainya di dasar kapal, Ahmad berpegangan pada tiang dekat jendela untuk menopang tubuhnya saat kapal semakin miring, lalu mengikuti posisi kapal hingga berhasil bergerak ke arah atas sebelum kapal semakin tenggelam.
“Saya ke tiang jendela, saya pegang sampai kapal miring, miring, miring. Saya pegang terus. Setelah miring saya naik, lalu menunggu kapal tenggelam,” ujarnya.
Ahmad kemudian menyelamatkan diri menggunakan perahu karet setelah kapal semakin tenggelam, kemudian bertahan bersama penumpang lainnya di laut yang masih gelap sambil menunggu bantuan dari kapal yang datang menyelamatkannya.
Ia mengatakan, ada 15 orang yang berada di perahu karet bersamanya dan semuanya berhasil dievakuasi ke kapal penyelamat, rombongan terdiri dari laki-laki dan tidak ada penumpang perempuan.
“Yang naik perahu karet itu ada 15 orang. Selamat, mereka bisa naik perahu yang membantu tadi. Kebanyakan tidak ada laki-laki dan perempuan,” ujarnya.
Menurut Ahmad, kondisi laut selama berada di perahu karet cukup ganas karena angin dan ombak besar terus menerpa perahu selama kurang lebih tiga jam sehingga harus bertahan hingga bantuan datang.
“Ombaknya terasa di dalam kapal. Di perahu karet itu tiga jam terus menerus dihantam ombak. Intinya angin, ombaknya besar dan tinggi,” ujarnya.
Ia mengatakan, kapal terus bergoyang akibat hantaman ombak, namun kemiringan yang dialaminya terjadi sangat cepat saat badan kapal bergerak ke kiri, sehingga ia memilih bertahan untuk mempertahankan diri.
“Kapalnya miring begini, langsung miring. Cepat sekali miringnya, karena posisinya sudah berjalan ke kiri,” ujarnya.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi seluruh penumpang yang masih berada di dalam kamar saat kapal mulai miring, namun berdasarkan pantauannya, sejumlah orang yang berhasil keluar dan mencapai perahu karet tersebut adalah laki-laki.
“Masih banyak. Kayaknya banyak, soalnya yang supirnya kelihatannya laki-laki. Yang di dalam kamar sepertinya belum bisa keluar,” ujarnya.
Ahmad merupakan warga Surabaya yang kini berdomisili di Banjarbaru dan sedang dalam perjalanan menaiki unit bus menuju Kalimantan setelah menaiki bus dari Surabaya, sebelum menjadi salah satu penumpang yang berhasil lolos dari kejadian tersebut.
Data sementara Basarnas membenarkan, 107 penumpang selamat dan berhasil dievakuasi, enam orang meninggal dunia, dan 130 orang lainnya masih dalam pencarian.
Basarnas mengerahkan 15 armada laut dan udara dari unsur gabungan untuk memaksimalkan proses pencarian di lokasi kejadian di perairan Masalembo, Laut Jawa, meliputi 11 kapal laut, satu helikopter, dan tiga pesawat.



















