Masyarakat Kecamatan Mare Menghadapi Berbagai Permasalahan Kebutuhan Pokok

- Jurnalis

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maybrat, RakyatPos.id – Masyarakat di Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat Daya menghadapi berbagai permasalahan kebutuhan dasar seperti air bersih, kekurangan guru dan tenaga kesehatan, buruknya akses jalan, terbatasnya jaringan telekomunikasi, dan kebutuhan akan fasilitas kesehatan.

Kecamatan Mare terdiri dari sembilan desa, yaitu Desa Mahos, Desa Suswa, Desa Kombif, Desa Bakrabi, Desa Waban, Desa Sawo, Desa Narasi, Desa Seya, dan Desa Rufases.

Persoalan kebutuhan pokok ini disampaikan kepada Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Barat Daya, Selly Kareth saat mengumpulkan aspirasi masyarakat di Distrik Mare, Senin (24/8/2026).

ADVERTISEMENT

paralax

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan ini khusus membahas perencanaan, penganggaran, dan penggunaan Dana Otonomi Khusus (Otsus), sehingga benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di pedalaman.

Selly Kareth menegaskan, permasalahan yang diangkat masyarakat harus menjadi landasan pemerintah dalam menyusun program dan menentukan prioritas penggunaan anggaran Otsus.

Sebab menurutnya, hal tersebut merupakan kebutuhan dasar yang harus menjadi prioritas pembangunan.

“Segala kebutuhan masyarakat harus ditanggapi dengan serius oleh pemerintah. Kondisi masyarakat di wilayah Mare menunjukkan masih ada kebutuhan pokok yang belum terjawab sepenuhnya,” kata Selly Kareth.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maybrat juga diingatkan untuk segera menindaklanjuti kebutuhan masyarakat Distrik Mare yang menjadi aspirasinya melalui kebijakan, perencanaan, penganggaran, dan program pembangunan nyata.

“Ini bukan permintaan yang berlebihan. Ini kebutuhan dasar masyarakat yang harus dijawab oleh pemerintah,” ujarnya.

Ia mengatakan, akses jalan yang tidak memadai membuat masyarakat sulit memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, atau memobilisasi hasil kebunnya.

Oleh karena itu, masyarakat meminta pemerintah tidak hanya membangun di perkotaan saja, tapi juga memastikan pembangunan infrastruktur sampai ke desa-desa.

“Jika akses jalan tidak dibangun dengan baik maka masyarakat akan terus mengalami kesulitan. Anak-anak akan kesulitan mendapatkan layanan pendidikan, orang sakit akan kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, dan aktivitas perekonomian masyarakat akan terhambat,” ujarnya.

Masyarakat Mare juga meminta pemerintah menambah jumlah guru di daerahnya, agar anak-anak di desa tidak kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Aspirasi masyarakat ini akan kami laksanakan. Pemprov Papua Barat Daya dan Pemkab Maybrat harus menyikapi permasalahan ini dengan serius,” kata Selly Kareth.

Sementara itu, Tokoh Adat Mare, Leonardus Baru, meminta Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Maybrat datang langsung melihat kondisi masyarakat di sembilan desa yang selama ini menghadapi keterbatasan akses layanan dasar.

“Kami masyarakat adat sudah terlalu lama mengutarakan kebutuhan yang sama. Pemerintah datang, mendengarkan, mencatat, tapi masyarakat menunggu lagi tanpa kepastian. Perlu aksi nyata, anggaran yang jelas, dan pembangunan yang benar-benar sampai ke desa-desa,” kata Leonardus Baru.

Menurutnya, masyarakat Mare mempunyai hak yang sama untuk memperoleh akses terhadap transportasi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan pemerintahan.

Ia mengatakan, jika akses jalan tidak mendukung, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pelayanan pemerintah, bagaimana guru bisa datang ke sekolah, bagaimana petugas kesehatan bisa datang ke tempat kerjanya, bagaimana warga yang sakit bisa dibawa berobat, dan bagaimana hasil kebun masyarakat bisa dipasarkan.

“Jangan sampai pemerintah hanya bicara pembangunan dari kota. Ayo lihat sendiri bagaimana kehidupan masyarakat di Mare,” ujarnya.

Ia juga meminta Gubernur Papua Barat Daya dan Bupati Maybrat segera menindaklanjuti aspirasi masyarakat Mare, dengan program dan jadwal pelaksanaan yang konkrit dapat diketahui masyarakat.

“Kami tidak menolak pemerintah. Justru kami mengingatkan pemerintah bahwa masyarakat adat masih ada dan perlu perhatian negara,” ujarnya.

Lanjutkan Membaca

JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

DKPP menolak aduannya, Bonatua mengambil jalur KIP terkait ijazah Jokowi
Generasi Perdamaian Aceh & Tugas Menanam Perdamaian Sebelum Konflik Menjadi Warisan
Pemangkas pohon Minnesota dituduh membunuh rekan kerjanya saat sedang bermain-main dengan peralatan
Menelusuri Jejak Sunyi Desa Kuala Keupeng yang Ditelan Hutan
Tweet yang dihapus menunjukkan dukungan penuh semangat Natalie Harp untuk Trump pada 6 Januari
KNPB khawatir pemerintah mengumpulkan data pengungsi untuk kepentingan politik
Profil Anton Nugroho, Rektor Universitas Pertahanan Indonesia yang jadi sorotan di tengah Polemik Larangan Hijab
SL vs Ind – Yashasvi Jaiswal dan Asitha Fernando dihukum setelah konfrontasi di lapangan dalam Tes Kolombo

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:52 WIB

DKPP menolak aduannya, Bonatua mengambil jalur KIP terkait ijazah Jokowi

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Generasi Perdamaian Aceh & Tugas Menanam Perdamaian Sebelum Konflik Menjadi Warisan

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:21 WIB

Masyarakat Kecamatan Mare Menghadapi Berbagai Permasalahan Kebutuhan Pokok

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:14 WIB

Pemangkas pohon Minnesota dituduh membunuh rekan kerjanya saat sedang bermain-main dengan peralatan

Senin, 24 Agustus 2026 - 18:52 WIB

Menelusuri Jejak Sunyi Desa Kuala Keupeng yang Ditelan Hutan

Berita Terbaru

HEADLINE

Menelusuri Jejak Sunyi Desa Kuala Keupeng yang Ditelan Hutan

Senin, 24 Agu 2026 - 18:52 WIB

Al Jazeera - LIVE